Satu
MATAHARI 25 Celsius jatuh di market square. Ada kakek berdiri di dekat museum. Ia memanggul papan bertuliskan Come, let us return to the Lord dan membagikan lembaran berita kiamat pada orang-orang yang lewat. Seorang pria menerima selebaran yang ia sodorkan. Pria itu tampak sekilas membaca, lalu mengangguk sopan dan melanjutkan langkah. Satu-dua langkah, ia mendekat ke kotak hitam bertuliskan Litter dengan huruf emas kusam di satu sudut pertokoan, meremas kertas selebaran dan membuangnya ke dalam kotak.
Di tangga batu museum, remaja duduk berkelompok-kelompok, mengobrol dan tertawa. Satu kelompok, yang berada di sisi dekat toko perhiasan H. Samuel, seluruhnya berkepala botak sebelah atau berambut gaya Mohawk. Di sudut lain, di antara remaja berambut berwarna-warni—merah muda, biru, ungu dan hijau—dan ada yang mengenakan sweater dengan tulisan LU Pokemon Society. Beberapa pemudi mengenakan lipstik berwarna hitam atau ungu gelap. Di alis, hidung, telinga dan atau sudut bibir mereka tersemat anting-anting perak. Sedikit dari mereka bermain skateboard.
Bersebelahan dengan kumpulan remaja itu, para mahasiswa berkaus putih dengan nama dan logo sebuah universitas duduk menghadap meja kayu cemara. Di atas meja terdapat beragam alat menggambar: spidol, krayon, cat, kelir, paket art and craft, setumpuk kertas putih, gelas-gelas plastik berisi air dan kuas berbagai ukuran. Di satu sisi meja, kanvas lebar disandarkan di atas tripod kayu. Seorang mahasiswa terlihat mengajak anak-anak yang lewat untuk menggambar di kanvas. Anak-anak itu baru saja keluar dari perpustakaan di sebelah kiri museum. Kebanyakan dari mereka menenteng buku-buku karya Enid Blyton, Roald Dahl, Charles Dickens dan J.R.R. Tolkien. Mereka meletakkan buku-buku di atas meja dan mulai menggambar.
Berhadapan dengan tempat kanvas didirikan, seorang wanita berambut sepinggang, pirang dan gimbal, mengenakan pakaian rajut berwarna serupa pelangi, sedang memilih sayuran di tenda sayur organik, sebelah tangannya memegang kereta dorong balita. Aroma babi panggang menguar dari tenda sebelah, berbaur dengan harum masakan dari tenda makanan khas Cina dan India. Di belakang tenda makanan khas India, seorang gembel berwajah jelaga, rambutnya gimbal, mengenakan sweater hitam kumal, celana jins lusuh yang robek di bagian dengkul dan tidak beralas kaki, terlihat tertidur. Ia bersandar pada pintu kaca sebuah toko yang tutup karena bangkrut.
Dua
DUA wanita duduk di bangku kayu, di bawah pohon Lime yang kuncup dedaunnya merekah hijau muda dan seolah transparan, tersinari matahari 25 Celsius yang jatuh di market square. Mereka membelakangi TK-Maxx, Vodafone dan Greggs. Satu dari dua wanita itu bertubuh kurus, berambur pirang ikal, bermata hazel, berhidung lancip dan di wajahnya terdapat bercak-bercak kecokelatan. Ia mengenakan kardigan merah tipis, terusan rok hitam pendek tanpa lengan, legging hitam dan sepatu bot merah pendek. Tas kulit hitam berbentuk empat persegi panjang tersampir di sisinya. Ia bernama Amelia.
Perempuan satunya lagi berambut lurus panjang pirang kecokelatan, berdahi lebar, berkulit pucat, ujung hidungnya bulat dan berbibir tipis. Ia mengenakan kemeja jins berlengan pendek, rok panjang putih berenda, sandal kulit putih tanpa hak dan scarf cokelat tipis, senada dengan gagang kaca mata hitam yang ia kenakan. Namanya Emma.
Sedari tadi, pandangan mereka terlihat berpindah-pindah dari tenda-tenda yang menjual sayur-mayur, bantal-seprai, bunga segar, pancake dan cupcake, ke pertokoan di seberang mereka, ke orang-orang yang berlalu-lalang, atau yang duduk di bangku membentuk lingkaran di tengah lapangan. Orang-orang itu terlihat santai dan tak terbebani pakaian tebal. Banyak dari mereka mengenakan kacamata hitam, menghadang silau mentari.
“Kemarin toko buku di Penny Street, lalu HMV,” Amelia berkata.
“Butik baju dan toko pakaian dalam di ujung sana juga tutup,” Emma menimpali, menunjuk ke arah toko H. Samuel, “Juga restoran Italia di New Street.”
“Ya, dan toko pakaian gunung di Cheapside, tepat di depan McDonalds, juga pailit bulan lalu,” Amelia mencoba mengingat-ingat.
Di depan museum, anak-anak tertawa. Masing-masing menunjukkan gambar yang mereka buat: gambar diri, pohon, dinosaurus, boneka atau robot. Mahasiswa yang berdiri di dekat mereka berulang-ulang berkata, “Well done… well done.”
Amelia menghela napas. “Krisis ekonomi. Banyak orang yang susah sekarang.”
“Iya, kami juga jadi ikut susah.”
Amelia menoleh, “Mengapa? Bukankah pekerjaan suamimu mapan dan bergaji tinggi?”
“Iya, untuk saat ini memang demikian. Tapi tidak tahu tahun depan atau tahun berikutnya. Krisis ini membuat kami cemas.”
“Tak perlu mencemaskan hal yang belum terjadi,” Amelia tersenyum, mencoba menghibur, “Yang terpenting, sekarang kalian masih bisa hidup layak. Kamu tidak perlu bekerja. Rumah kalian besar. Kalian bahkan punya tukang kebun dan tukang bersih-bersih.”
“Tapi tidak untuk setiap hari,” Emma menukas, “Hanya tiga kali seminggu, dan tukang kebun hanya tiga minggu sekali. Bayangkan! Aku harus melihat debu di atas meja dan memandang serakan daun di hari-hari selain itu.”
“Hmm, menurutku, tetap saja kamu tak perlu terlalu khawatir.”
“Kami juga hanya punya dua mobil. Satu untukku dan satu untuk suamiku. Itu pun bukan mobil mewah. Hanya Toyota matic saja.” Emma memutar-mutar cincin berlian yang melingkari jari manis tangan kirinya.
Amelia tersenyum lebar, “Tapi setidaknya kamu memiliki dua mobil. Jika terdesak masih bisa menjual satu. Aku tidak punya mobil, satu pun juga.”
Seorang gembel berjalan ke arah mereka, lalu ia berdiri mematung di dekat pohon lime. Kepalanya teleng ke kanan, mengamati burung-burung merpati yang ramai mematuki remah roti yang ditaburkan anak-anak.
Emma mengibaskan tangan di depan wajahnya, seakan mengusir lalat, “Kami juga dulu begitu. Tidak punya mobil. Dan tahu tidak? Dulu kami tinggal di rumah dua kamar saja. Waktu itu aku punya bayi, rumah terasa sempit dan tentunya sulit pergi-pergi.”
“Tapi, aku punya anak kembar dan kami tinggal di rumah dua kamar. Dan itu cukup bagi kami.”
“Oh ya? Ah, aku juga sempat mengalami itu. Waktu anak keduaku lahir, kami masih tinggal di rumah dua kamar itu, berbulan-bulan lamanya. Bayangkan! Kami tidak memiliki ruang kerja dan ruang musik, seperti sekarang. Aku tidak mungkin menemukan ketenangan di rumahku sendiri jika harus mendengar bunyi dari komputer dan alat pencetak, piano dan violin setiap hari. Beruntung sekarang kami memiliki rumah lima kamar. Aku benar-benar perempuan yang beruntung, memiliki suami yang mau bekerja keras untuk keluarga.”
Mata Amelia melebar, seolah tak percaya dengan apa yang ia dengar.
Tiga
SATU-DUA orang yang berdiri di dekat bangku di tengah lapangan terlihat merokok sambil menggerakkan kereta-kereta dorong bayi, maju-mundur, maju-mundur, berupaya menidurkan bayi-bayi mereka. Amelia menggigit bibir. Ia tidak suka perokok, terutama karena mereka tak peduli orang-orang lain di sekitar mereka, dan Amelia lebih-lebih tak suka pada orang tua yang merokok di dekat bayi-bayi mereka.
Amelia mengalihkan pandang, mengamati Emma yang asyik memainkan kalung emas putih berinisial E dengan taburan berlian yang melingkari lehernya. Ia berpaling pada gembel yang berdiri di dekat mereka, lalu Amelia menelengkan kepalanya, ikut mengamati burung-burung merpati yang mematuk-matuki remah roti.
Lirih, Amelia menggumam, “Krisis ekonomi. Orang-orang jadi sulit mendapat kerja. Temanku, sarjana filsafat, malah kerja di restoran cepat saji, melayani pembeli dan membersihkan toilet. Yang lulus Menulis Kreatif, bekerja paruh-waktu di bar.”
“Ah, tapi setidaknya mereka sudah lulus kuliah. Aku malah tidak pernah kuliah. Kamu lebih beruntung, sudah bergelar master pula.”
“Tapi, lulus kuliah pun mereka tidak bisa mendapat pekerjaan yang sesuai. Dan sekarang mereka punya utang, harus membayar student loan. Aku memang lulus master degree menulis, tapi krisis ini pemerintah mencabut subsidi bidang seni. Aku bisa kehilangan pekerjaanku kapan saja.”
“Setidaknya kamu lulusan master degree. Aku juga ingin bergelar master.”
“Lalu mengapa tidak kuliah?” Amelia kembali memandang Emma yang sedang mengamati remaja yang bergerombol di depan museum.
“Dulu aku menikah muda, saat lulus sekolah tinggi. Kemudian aku punya dua anak.”
“Aku punya anak waktu kuliah bachelor. Lalu ketika melanjutkan master degree, suamiku mengalami kecelakaan dan meninggal. Aku harus menguatkan diri, terus berjuang untuk masa depan kami, untuk aku dan anak-anakku. Memang berat sekali, aku harus bisa membagi waktu dan bekerja lebih giat daripada mahasiswa lainnya.”
Emma tidak mengucap sepatah kata pun. Ia asyik memandangi cerlang-cemerlang sinar mentari yang memantul di cincin berliannya. Amelia pun diam, benaknya dipenuhi kenangan akan kematian suaminya: ia dilanggar sebuah mobil ketika bersepeda selepas pulang bekerja di malam hari. Pengemudi mobil itu orang berada. Ia mampu membayar pengacara yang mahal dan lepas dari vonis kurungan. Suaminya menyumbang salah: tidak mengenakan pakaian keselamatan, demikian kata hakim. Amelia ingat penabrak itu mengendarai mobil mewah buatan Jepang berwarna perak.
Amelia menggeleng-gelengkan kepala, mengusir bayangan di benaknya. Kemudian ia berkata, “Kamu bisa kuliah sekarang. Anak-anakmu sudah besar, sudah sekolah semua.”
Emma menggeleng, “Aku ini sibuk, sibuk sekali. Aku harus menjamu teman-teman seminggu sekali, lalu ada tiga pertemuan lain: merajut, pertemanan antarbangsa dan kerajinan tangan. Belum lagi pertemuan makan siang di kafe.”
“Tapi jika benar kamu ingin kuliah, kamu harus bersedia mengurangi waktumu bergaul.”
“Aku tidak bisa. Aku butuh bergaul. Butuh sekali. Dan aku juga tidak ingin waktu untuk keluargaku terganggu,” Emma beralasan.
“Itu hanya masalah pembagian waktu.”
Emma mengalihkan pandang, melihat ke arah penjual bunga yang sedari tadi berteriak-teriak: “Daffodil, tiga ikat hanya 1 quid!” Teriakan penjual bunga itu bersaing-saing dengan tawaran penjual buah: “Pisang! 50 p saja!”
Kemudian ia bertanya, “Mengapa kamu tak pernah lagi datang ke kafe?”
“Enam quid untuk setangkup Panini dan segelas teh terlalu mahal untukku,” Amelia tersenyum.
“Ah, hanya satu kali dalam seminggu. Ayolah, janganlah terlalu berhitung seperti itu,” Emma tertawa, kemudian ia melanjutkan, “Kamu juga bisa datang ke pertemuan-pertemuan lainnya.”
“Mungkin nanti. Sekarang aku sedang menyiapkan pameran cerita dan Festival Sastra tahun ini,” Amelia menjawab sembari memperhatikan seorang tua di kursi roda bertenaga listrik yang mencoba menembus keramaian pasar.
“Nah, itulah bedanya kamu dengan aku. Kamu tidak butuh bertemu dan bergaul dengan orang lain.”
Dahi Amelia berkerut. “Tentu saja aku butuh. Hanya saja, dengan kegiatanku sekarang, aku harus punya prioritas. Sepulang kerja, aku juga harus mengurus anak-anak dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Ketika anak-anak sudah tidur, aku sempatkan waktu untuk menulis cerita pendek dan novel.”
Emma, seolah tidak mendengar yang Amelia utarakan, berkata cepat, suaranya meninggi, “Kamu tahu, penulis terkenal saja tidak perlu menulis setiap hari. Aku ada kenalan seorang penulis terkenal. Dan kamu tahu, ia hanya menulis satu bulan dalam setahun, selebihnya untuk keluarga dan teman-teman.”
Amelia terdiam.
“Dan dia terkenal sekali. Terkenal di seluruh dunia,” Emma kembali menekankan.
Amelia tetap membisu.
“Bahkan, banyak orang yang menjadikan menulis sekadar hobi sampingan. Weekend writers. Mereka juga bisa menghasilkan satu novel dalam sebulan.”
Empat
MATAHARI 25 Celsius jatuh di market square. Amelia merasa gerah. Luar biasa gerah. Ia diam memandangi ujung sepatu merahnya. Ia berusaha mengingat-ingat awal mula ia bertemu dengan Emma, bagaimana mereka bisa berkenalan, bisa berteman, dan ia sepenuhnya menyesali pertemuan itu.
Amelia berharap Emma akan menanyakan kegiatannya, hingga ia bisa menjelaskan kalau ia tidak bisa menggunakan akhir pekannya untuk menulis: Minggu ia gunakan untuk pergi berbelanja, memasak dan merapikan kebun. Sementara setiap Sabtu ia harus mengantar anak-anaknya ke kelas renang mereka di siang hari dan kelas karate di sore hari. Di pagi Sabtu ia bisa sedikit berlega di rumah dan membaca buku, atau sesekali mengantar anak-anaknya ke sinema dan McDonalds, untuk merayakan ulang tahun teman-teman mereka. Di saat itulah, pada beberapa jam saat menunggu anak-anaknya selesai dari acara ulang tahun itu, ia kerap duduk di bangku kayu di bawah pohon lime dan menikmati keramaian pasar. Dan di saat seperti itu pula, ia berharap dapat menemukan ketenangan dan bukan malah kebetulan bertemu seorang kenalan yang kemudian membuat hatinya gundah gulana. Tambahan lagi, Amelia tidak percaya sebuah novel dapat dikerjakan dalam satu bulan, apalagi hanya dikerjakan dua hari dalam empat minggu.
Tapi Emma tidak bertanya apa-apa. Emma kembali asyik memandangi cerlang mentari di cincin berliannya.
“Aku harus pergi sekarang,” Emma bangkit dari bangku kayu, mengibas-ngibaskan belakang roknya.
Amelia masih diam, memandang kosong ke arah tenda sayur-mayur.
Emma menyisir rambutnya dengan jari-jemari dan menyampaikan alasan, “Aku hanya membayar parkir untuk satu jam tadi.”
Amelia tak menanggapi, pandangan matanya tetap tertuju pada tenda sayur. Ketika Emma hendak melangkah pergi, Amelia menggumam tanya, seolah mengingau, “Mobil suamimu itu, apa warnanya sama dengan mobilmu, hitam? Atau mungkin… perak?”
Emma menggeleng, “Mobilnya berwarna merah. Mengapa?”
“Tak apa,” Amelia menggeleng.
Emma mengangkat bahu. Tak lama, ia berlalu dan menghilang ditelan keramaian pasar dan sudut gedung museum. Mata Amelia basah. Ia memandang ke atas, ke arah dedaunan lime yang hijau cerah, sembari berharap tak ada air mata yang bergulir jatuh dari matanya. Ia menarik napas dalam, lalu perlahan mengembuskannya. Perlahan pula, Amelia kembali memandang sekitar, ke keramaian pasar dan tenda-tenda, lalu ia membuka tasnya, mengambil sepucuk surat.
Lama Amelia tercenung melihat surat itu. Surat pemberhentian kerja yang diterimanya kemarin siang. Alasan ia diberhentikan adalah pemotongan subsidi bidang seni yang tak terhindari. Tak terhindari, demikian penjelasan dari pemerintah. Tak terhindari! Amelia paham bahwa pemerintah baru saja memangkas GBP 11,7 juta dari British Art Council. Namun, ia pun tahu untuk prosesi pemakaman Margaret Thatcher, pemerintah menghabiskan GBP 10 juta dari kas negara.
Kakek pemanggul papan bertuliskan Come, let us return to the Lord berdiri di dekatnya, mengulurkan selembar berita kiamat. Amelia menerima lembaran itu dan berusaha tersenyum sopan. Anak-anak di depan museum masih tertawa-tawa, sementara mahasiswa yang memandu mereka terus saja berkata, “Well done… well done.”
Gembel yang tadi berdiri di bawah pohon lime kini berjongkok di depan Greggs. Ia tampak mengendus-endus, membaui aroma kue-kue dan pastry.(*)
Lancaster, Mei 2013
Rilda A. Oe. Taneko berasal dari Lampung dan kini menetap di Inggris. Buku cerita pendeknya adalah Kereta Pagi Menuju Den Haag (2010).
sumber : Koran Tempo, 22 September 2013.