Cerpen : Batu Bolemeta oleh Kiki Sulistyo

Waktu itu musim kemarau demikian berat. Para lelaki nyaris putus asa, para perempuan sama saja. Mereka berjalan jauh untuk sekadar mendapat air yang tak seberapa. Mereka tidak pernah lupa berdoa. Mereka juga tak sekali-kali malas berusaha. Tapi nampaknya usaha dan doa-doa mereka tertahan di udara. Pada masa yang sama, kudeta terjadi di pusat kota. Junta … Baca Selengkapnya

Cerpen : Ziarah Kepayang oleh Martin Aleida

Jalan diapit sungai kecil, yang kami sebut bendar, tetap seperti ketika kulewati dulu. Jalan di mana orang-orang Tionghoa dari kota datang di musim berburu, dan pulang memanggul babi hutan yang masih berlumuran darah, hasil buruan yang ditinggalkan begitu saja oleh orang kampung yang mengharamkannya. Juga uangnya! Di jalan ini aku pernah terjerembab ditindih gerimis, mencium … Baca Selengkapnya

Cerpen : Kulihat Bulan seperti Es Krim Vanila oleh Eko Darmoko

Ketika bom meremukkan Gaza menjelang pembukaan Piala Dunia U-17 di Surabaya, aku justru dikirim ke Pulau Kyushu untuk liputan. Rasanya tak perlu aku ceritakan mengenai hari-hari liputanku di Kota Kitakyushu. Sebab, itu tidak penting dan tidak menarik. Yang penting dan menarik justru pertemuanku dengan perempuan di penginapan. MALAM hari, kira-kira selepas isya, aku diantar sopir … Baca Selengkapnya

Cerpen : Berburu Macan oleh S Prasetyo Utomo

Dengan senapan di tangan, Santo, lelaki setengah baya bertubuh kekar berambut cepak itu, berhasrat menyusup hutan lereng Gunung Merapi: berburu macan. Orang-orang desa yakin benar bila kambing-kambing mereka mati dan terluka diterkam macan. Semua orang tahu, Santo seorang desersi tentara, suka berburu ke dalam hutan. Ia berburu dengan dua sahabatnya. Ia dikenal sebagai penembak jitu. … Baca Selengkapnya

Cerpen : Hiu Berjalan di Teluk Ama oleh Ahmad Arif

Malam itu laut surut lebih jauh dari biasa. Langit pucat, keriput seperti kulit ikan dijemur tujuh hari. Angin mati. Pohon-pohon di tepi Teluk Ama membatu. Bulan Saure melahirkan tanpa suara, hanya gemetar di bibir, seperti merapal mantra penghabisan. Darah mengalir deras, membanjiri lantai bambu rumah panggung. Di luar, hujan mendadak turun, memecah sepi. Seperti ibunya, … Baca Selengkapnya

Cerpen : Kriminalitas Meja Makan oleh Damhuri Muhammad

Persentuhan mula-mulanya dengan perkakas tajam berawal dari omelan-omelan ayahnya di meja makan saat ia masih berusia 9 tahun. Salman ingat betul raut muka jengkel ayahnya, hanya karena bawang goreng yang terhidang bersama lauk lain di meja makan tidak berbunyi kriuk-kriuk di mulutnya. ”Rasanya seperti mengunyah jamur mentah saja,” gumam ayahnya sebelum tergesa-gesa melepehkan kunyahannya melalui … Baca Selengkapnya

Cerpen : Emosi Pemijat Meledak oleh M Nasir Asnawi

Kereta api commuter line terakhir dari Jakarta baru saja masuk ke Stasiun Tangerang Kota. Para penumpangnya yang tinggal sedikit bergegas turun dan menyebar ke berbagai arah. Penjual sate, nasi goreng sudah tidak terlihat di pinggir jalan. Pintu-pintu rumah di kompleks perumahan rata-rata sudah tertutup rapat. Semua warga seperti sudah nyenyak di tempat peraduan. Sepi. Tengah malam yang … Baca Selengkapnya

Cerpen : Bedak Pinokio oleh Herumawan P A.

Kubuka smartphone second milikku kemudian berselancar di dunia maya. Memelototi unggahan-unggahan video viral. Ada yang memaki pejabat yang korupsi. Mereka tidak suka dengan kebohongan-kebohongan yang selama ini dilakukan para koruptor. Aku merenungi apa yang kusaksikan dan kubaca di media sosial. Tiba-tiba, tebersit ide. Membuat pendeteksi kebohongan. ”Bagaimana kalau aku buka praktik jual ramuan yang bikin hidung jadi … Baca Selengkapnya

Cerpen : Lelakiku oleh Martin Aleida

Aku tak tahu apa niat Mbah membujuk kami menginap di rumahnya. Apakah dia merasa tidak layak, dan barangkali akan bikin geger seisi desa, bila lelakiku melewatkan malam di rumahku. Karena ibuku sudah menjanda. Atau dia hendak memerangkap kami berduaan belum waktunya, berbuat mesum. Kami merebahkan diri di amben yang terbuat dari belahan bambu. Kuhamparkan selendang … Baca Selengkapnya

Cerpen : Sapi Sebesar Gajah

Nyapnyup mendadak populer setelah bocah lima tahun itu sukses membongkar keberadaan kawanan pembegal yang sering beraksi di jalan utama yang menghubungkan Lubuklinggau-Curup. KISAH berawal ketika Mar­pi­se­lo­pah mem­ba­wa putranya ke kantor polisi dan tak ada yang memercayai mereka hanya karena pe­rem­puan tiga puluh tahun itu menjadikan igauan anaknya tentang keberadaan para pembunuh suaminya itu se­bagai dasar … Baca Selengkapnya