Cerpen : BLOK SEMBILAN oleh Auranita Gibrani Darmawan

inar dari sang pusat tata surya menembus jendela bersama gerobak sarapan yang berkeliling. Gema sepatu penjaga menggema di koridor sempit, diikuti oleh roda gerobak besi yang berdecit setiap kali bergerak. Sebaskom nasi putih, sepiring tempe goreng, sambal, dan sayur rebus ala kadarnya telah dikirim pada setiap sel di blok pertama. Aku menyaksikan betapa rakusnya para … Baca Selengkapnya

Cerpen : Yang Terjadi Setelah Senja oleh Arie Fajar Rofian

angit terik bersorak panas, membakar apa pun yang berada di bawah naungannya. Matahari yang menggantung di atas tak mengenal belas kasihan; sinarnya tajam dan menusuk-nusuk dari atap beton gedung perkantoran hingga kulit-kulit yang berseliweran di permukaan yang kian lama kian legam. Sementara, asap knalpot beragam kendaraan bermotor memanjat pelan, sekaligus berlomba-lomba menggapai udara, lalu larut … Baca Selengkapnya

Cerpen :Tapanaga oleh Daviatul Umam

Sebagai ketua RT, Sidik jadi orang terdepan dalam memperjuangkan kesejahteraan warganya. Ia satu-satunya aparat desa yang menolak keras rencana reklamasi pantai yang dicanangkan Kalebun Mahri sejak 2013. Ia tak segan mengumpulkan warga untuk bermusyawarah. Dalam musyawarah tertutup, ia menyampaikan rencana Kalebun Mahri, mewanti-wanti warga agar bersama-sama menolak rencana tersebut, serta menerangkan sejumlah alasan kenapa harus … Baca Selengkapnya

Cerpen : Berpikir dalam Hening oleh Jimmy Anggara

Anak itu bertubuh kurus-kering seperti seutas lidi. Celana panjang abu-abunya terlalu pendek sehingga menampakkan kaus kakinya yang melorot ke mata kaki. Ia datang paling akhir. Saat berdiri memperkenalkan diri—”Nama saya Gabustois”—teman-teman barunya mentertawainya. Guru kelas sampai harus memukul meja dengan penggaris kayu supaya murid-murid diam. Setelah tawa reda, murid bernama aneh itu dipersilakan duduk dan … Baca Selengkapnya

Cerpen : Mata-mata di Kepala oleh Ni Komang Ariani

anpa harus dijelaskan, aku sudah paham. Sore itu, sehabis mandi dan rambutku masih basah, pintu kamar kontrakanku diketuk berulang kali. Tiga orang laki-laki berkaus hitam dengan rambut yang klimis menjemputku. ”Silakan, Bu. Ini waktunya.” Ketiganya tersenyum ramah. Sekilas, ketiganya tampak sebagai laki-laki baik. Namun, kedatangan mereka bukanlah untuk sesuatu yang baik untukku. Pengalaman pahitku sejak … Baca Selengkapnya

Cerpen : Eriopis oleh Zulvanny Fatwa Firmananda

i museum yang berdiri tegak di pinggir kota, aku terdiam di depan sebuah manekin tanpa kepala yang mengenakan gaun keemasan berpotongan mermaid, dengan banyak rok yang bisa dilepas-pasang di bagian belakang pinggang. Gaun yang, entah mengapa, mengingatkan aku dengan rubah berekor sembilan. Didesain langsung Medea, wanita tua yang lima tahun silam dipenjara atas tuduhan pembunuhan kedua … Baca Selengkapnya

Cerpen : Pengorbanan Sulung oleh Bagus Sulistio

Biasanya, anak bungsulah yang mendapatkan perhatian penuh dari orangtuanya. Hal tersebut tidak berlaku bagi keluargaku. Orangtuaku mempunyai dua anak, aku dan kakakku. Mereka seperti lebih sayang terhadap kakakku daripada putra bungsunya. ”Menjadi anak sulung itu berat. Banyak pengorbanan yang harus dilakukannya,” kata Ibu ketika aku terlihat marah sebab iri dengan Sulung. ”Keluarga lain lebih sayang … Baca Selengkapnya

Cerpen : Ritual Makan Malam oleh Petrus Nandi

Ama duduk dekat tungku api yang masih membubungkan asap ke loteng dapur. Serentang tangan darinya, kami duduk bersila di atas tikar sembari menerima makanan dari tangannya. Seusai mengedarkan makanan, Ama mengarahkan tubuhnya ke sebuah piring kosong yang terletak di samping kanannya. Piring itu berukuran lebih besar dari piring-piring kami. Itu piring milikmu. Ia selalu ada … Baca Selengkapnya

Cerpen : Mencicipi Sedikit Dosa oleh Era Ari Astanto

iung Samudra berdiri di depan cermin kamar mandi. Ia menyikat gigi dengan gerakan mekanis. Sering kali heran menyusup dalam benaknya. Pasalnya ia tidak melihat wajahnya sendiri, hanya mengenali bentuknya. Sejak kecil, ia tak pernah betul-betul yakin siapa yang ia lihat setiap pagi. Mungkin karena terlalu sering ia berganti-ganti posisi dalam hidupnya—kadang anak yang diminta menjadi … Baca Selengkapnya

Cerpen : Nyanyian Arwah di Hutan Rimba oleh Safardy Bora

angit Kalimantan menghampar biru, menyulam sinar mentari ke dalam serat dedaunan. Hutan-hutan raksasa mendengungkan desah angin yang menyusup di sela pepohonan. Aroma getah damar merambat di udara, bercampur anyir sungai yang mengalir seperti urat nadi bumi. Namun, di balik keheningan itu, tersembunyi kegelisahan yang mengakar. Ia bernama Langkai. Nama yang berbisik di antara dahan-dahan kering … Baca Selengkapnya