Cerpen : Mencicipi Sedikit Dosa oleh Era Ari Astanto

iung Samudra berdiri di depan cermin kamar mandi. Ia menyikat gigi dengan gerakan mekanis. Sering kali heran menyusup dalam benaknya. Pasalnya ia tidak melihat wajahnya sendiri, hanya mengenali bentuknya. Sejak kecil, ia tak pernah betul-betul yakin siapa yang ia lihat setiap pagi. Mungkin karena terlalu sering ia berganti-ganti posisi dalam hidupnya—kadang anak yang diminta menjadi dewasa, kadang remaja yang diminta berlaku seperti wali kelas.

Atau mungkin karena sejak umur tujuh tahun, ia kehilangan hak untuk menolak perintah.

”Ayah bilang, sudah saatnya aku menjadi anak,” begitu katanya dulu, di malam sunyi yang dikunyah jangkrik dan hujan. Menjadi anak, apakah itu berarti diam saat dimarahi, atau menjawab ketika dipanggil? Apakah itu berarti percaya pada doa sebelum tidur, atau belajar menahan tangis saat lampu dimatikan? Ia tak bertanya, karena menjadi anak, mungkin, berarti menerima tanpa harus tahu. Tapi waktu itu, ia baru saja belajar jadi manusia kecil yang takut akan Tuhan dan ujian matematika.

Ini cerita tentang Riung Samudra, tentu saja. Tapi sering juga menjadi cerita tentang aku, karena terlalu banyak dari dirinya yang menyelinap ke dalam pikiranku, dan sebaliknya. Aku sering bertanya-tanya, apakah aku adalah dia dan dia adalah aku? Ataukah sebenarnya aku dan dia dua makhluk yang sebenarnya punya potensi yang sama, hanya saja wadagnya yang berbeda? Entahlah. Barangkali karena kami berbagi tubuh. Barangkali karena sejak hari itu, hari ketika Jalad memutuskan untuk menuruti saranku, aku tidak bisa benar-benar kembali menjadi siapa pun selain dia.

Jalad adalah anak yang bersih. Bukan hanya dari debu dan lumpur, tapi juga dari gumam jahat, raut curiga, atau keinginan untuk membalas. Ia sembahyang lima kali sehari, tidak pernah bohong kecuali kepada ibunya jika ditanya apakah ia mengantuk, dan lebih sering tersenyum dibanding mengeluh. Ketika guru-guru memuji kesalehannya, aku merasa ingin mencoretnya dengan spidol merah.

”Apa kau tak bosan jadi baik terus?” tanyaku sekali waktu, di sela jam istirahat.

Jalad hanya tertawa, dan tawanya seperti seorang kakek yang sudah melewati segalanya dan memilih damai.

”Berbuatlah dosa, Jalad. Sedikit saja,” kataku kemudian, setengah serius, setengah ingin menulis sejarah.

”Untuk apa?”

”Untuk menyeimbangkan timbanganmu. Pahalamu sudah banyak. Tak akan habis dikurangi satu dua dosa kecil.”

Ia mengerutkan kening. Tak menjawab.

Apa kau tak bosan jadi baik terus?

”Cobalah sedikit saja. Seperti kau mencicip sedikit masakan ibumu untuk memastikan sudah enak atau belum. Rasakan hidupmu akan memiliki warna-warna pelangi,” kataku dengan tenang.

Ia masih tak menjawab. Tapi beberapa hari kemudian, ia ketahuan mencontek. Bukan oleh guru, tapi oleh aku.

Ia meletakkan lembar contekan kecil di balik pena. Matanya menunduk dalam, keningnya berkeringat. Tapi jemarinya stabil. Ia menyalin jawaban dengan presisi seorang penyalin mushaf. Tak ada gemetar.

Aku tidak mengadukannya. Hanya mencatatnya dalam kepala, seperti mencatat angka rekening atau letak tahi lalat di wajah seseorang.

Hari itu, aku merasa… menang.

***

Tahun itu, guru agama kami diganti tiga kali. Yang pertama pensiun, yang kedua hamil dan pindah kota, yang ketiga adalah mantan narapidana. Ia mengenakan sorban seperti lilitan kabut, dan setiap kali mengajar, suaranya bergetar seperti piring pecah yang disatukan lagi.

Dari dia, kami belajar tentang keadilan Tuhan dan keadilan manusia. Ia bilang, keduanya jarang sekali bertemu.

”Maka, jangan heran kalau orang baik celaka, dan orang jahat kaya raya,” katanya sambil menatap lurus ke mata Jalad.

Seketika, Jalad seperti mengecil di bangkunya.

Setelah kelas itu, ia berhenti tersenyum. Setidaknya padaku. Tak ada lagi anggukan kecil saat kami berpapasan di koridor, tak ada catatan kecil yang ia sisipkan di bawah laci mejaku—hanya sunyi, seperti jeda panjang dalam doa yang tak kunjung diakhiri dengan ”amin.”

Lalu, dua bulan setelah ujian tengah semester, ada seorang anak yang ditemukan gantung diri di ruang musik. Tak ada yang berbicara lantang tentang itu, hanya bisik-bisik dan langkah guru yang mendadak menjadi lebih pelan. Aku berusaha menyangkal mataku bahwa anak itu memang Jalad. Tapi tubuhnya, lehernya, dan wajahnya memanggil sesuatu dalam diriku. Ia seolah berkata, ”Bila bukan karena kata-katamu, aku mungkin masih duduk di pojok perpustakaan, membaca tafsir sambil menahan kantuk.”

Riung Samudra, pada saat itu, menjadi asing. Ia menangis tapi tidak tahu untuk siapa. Ia kehilangan tetapi tak tahu apa yang hilang.

Aku bertanya-tanya, mengapa dosa bisa begitu ringan diucapkan dan begitu berat dibayar. Apakah ucapan ”Berbuatlah sedikit dosa” itu seperti menggeser batu di atas bukit? Awalnya hanya niat iseng, lalu berguling, menghantam, dan tak bisa dihentikan. Tapi aku tak pernah meminta Jalad menggantung diri. Aku hanya ingin ia tahu bahwa menjadi manusia itu bukan soal mengumpulkan pahala seperti prangko. Ada saatnya kau berbuat salah, agar kau tahu mengapa kebaikan itu penting.

Aku juga sering bertanya-tanya, mengapa namaku Riung Samudra—ombak samudra. Samudra berarti segara dalam bahasa Jawa, dan segara, orang-orang tua bilang, adalah lambang hati. ”Sing jembar segarane,” mereka akan bilang, tentang orang yang sabar, yang tidak mudah marah. Tapi kenapa harus riung—kenapa harus ombak? Bukankah ombak itu gelisah? Ia tak pernah diam, selalu menghantam, mengikis karang sedikit demi sedikit sampai akhirnya gugur jadi pasir.

Mungkin nama itu bukan harapan, tapi peringatan. Atau semacam kutukan yang dibungkus dalam makna puitis. Mungkin sejak awal orang tuaku tahu bahwa aku tidak akan bisa tenang, tidak akan bisa tinggal diam.

Dan Jalad… mungkin Jalad adalah karang itu.

Aku tidak bisa tidak berpikir begitu, terutama saat malam datang, dan suara ombak dari ingatanku kembali bergulung di dalam kepala, terus-menerus menghantam garis waktu yang kutarik agar tetap lurus.

Pada malam ketujuh setelah kematian Jalad, aku bermimpi bertemu dengannya.

Ia duduk di sisi ranjang, dengan pakaian yang sama seperti hari terakhir kami bicara. Kemeja putih, celana abu, dan senyum yang tidak sampai ke mata.

”Aku sudah melakukannya, Riung.”

”Melakukan apa?”

”Sedikit dosa. Tapi setelah itu, aku tak tahu bagaimana berhenti. Semuanya seperti pintu terbuka. Dan kau tahu, bukan salahku kalau pintu itu terbuka.”

Aku terbangun dengan peluh dingin dan tangan terkepal. Jari-jariku memar.

***

Setahun berlalu, aku dipanggil kepala sekolah karena ketahuan menjual contekan. Lembar jawaban palsu, diketik rapi, dibubuhi stempel hasil skaner. Aku menjualnya dengan sistem langganan: satu semester, lima puluh ribu. Banyak peminat.

Ketika kepala sekolah bertanya, ”mengapa kau melakukan itu?”

Untuk melihat siapa saja yang lebih takut pada nilai akademik daripada Tuhan. Dan untuk memprediksi siapa yang nantinya hidup seperti koruptor.

Aku menjawab dengan ketenangan yang kukuh, ”Untuk melihat siapa saja yang lebih takut pada nilai akademik daripada Tuhan. Dan untuk memprediksi siapa yang nantinya hidup seperti koruptor.”

Ia menggeleng. Entah karena menolak jawabanku atau tidak mengerti maksudku. Yang jelas ia menggeleng seperti seorang bapak yang sudah bosan menghukum.

Malamnya, aku menulis surat kepada Jalad. Bukan untuk minta maaf karena tak ada yang bisa diperbaiki. Hanya untuk bercerita bahwa aku akhirnya mengerti bagaimana dosa bisa menjadi tempat tinggal yang hangat.

Sering kali aku berpikir, kalau Jalad tak menuruti saranku hari itu, apakah ia akan tetap hidup? Tapi ingatan membawa kembali suara langkahnya yang semakin pelan, cara ia mulai tersenyum hanya dengan sudut bibir, dan caranya memeluk buku seperti memeluk batu nisan. Ia tak lagi menegur anak yang mencoret dinding mushala, tak lagi mengangkat tangan saat guru bertanya. Mungkin bukan kata-kataku yang membunuhnya, tapi keheningan panjang sesudahnya. Ada banyak hal yang bisa membunuh orang baik—bukan cuma godaan, tapi juga kesendirian, kerapuhan, dan harapan yang terlalu lurus untuk bisa menghindari tikungan.

***

Riung Samudra, di usia dua puluh dua, duduk di ruang tamu seorang psikolog kampus. Lampu neon menggantung rendah, memantulkan kilau pucat di meja kayu. Ditanyai soal masa kecil, masa remaja, dan satu nama yang tak pernah ia sebutkan kepada siapa pun lagi: Jalad.

”Apakah kamu merasa bersalah atas kematiannya?”

Ia tidak menjawab. Karena dalam setiap pertanyaan seperti itu, selalu ada jebakan: jika iya, maka ia penjahat; jika tidak, maka ia monster. Jadi, ia memilih jalan ketiga—jalan Jalad—ia tersenyum tipis, menunduk sedikit, lalu berkata, ”Orang baik bisa mati karena terlalu baik. Tapi orang jahat bisa hidup lama karena tak peduli.”

Psikolog itu menuliskan sesuatu dengan tenang, lalu berkata,

”Menarik. Karena dari caramu bercerita, aku menduga kamu bukan merasa bersalah… tapi kecewa. Seperti anak kecil yang berharap Tuhan akan membalas, dan ternyata tidak.”

Seiring langkahnya meninggalkan ruang itu, aku bertanya kepada diriku, ”benarkah aku kecewa? Tapi karena apa? Apakah karena Jalad sudah mati terlebih dahulu sebelum ia melakukan banyak dosa sekadar untuk mengimbangi timbangan pahalanya?”

***

Satu sore, di musim hujan yang datang tak tepat waktu—turun tanpa awan, berhenti tanpa petir—aku melihat seorang anak lelaki duduk di bawah pohon. Ia mengenakan seragam sekolah yang basah di ujung lengan, dan memegang buku doa yang nyaris lepas dari jilidnya. Ia membaca perlahan, seperti setiap huruf adalah tali yang bisa menariknya keluar dari jurang tak kasatmata. Aku duduk di sampingnya tanpa suara. Hanya angin yang menyibak halaman dan aroma tanah yang mengingatkanku pada satu masa.

Lalu aku katakan pelan, nyaris berbisik, ”Berbuatlah dosa. Cukup sedikit saja. Biar hidupmu lebih berwarna seperti pelangi.”

Anak itu menoleh. Matanya jernih. Terlalu jernih. Seperti milik Jalad dulu, saat seusianya.

Aku sadar betul, aku sudah memulai lingkaran itu lagi. Lingkaran kisah yang aku tak pernah yakin akan benar-benar selesai. Cerita yang terus berputar diam-diam, menunggu aktor baru yang tak tahu bahwa panggungnya telah dibangun lama sebelum ia lahir.

Era Ari Astanto, penyuka bika ambon ini lahir di Boyolali. Saat ini bekerja di sebuah penerbitan buku pelajaran di Solo dan aktif di MYF Randhu Jembagar Boyolali.

sumber : kompas.id, 16 Mei 2025.

Tinggalkan komentar