Cerpen : Batu Bolemeta oleh Kiki Sulistyo

Waktu itu musim kemarau demikian berat. Para lelaki nyaris putus asa, para perempuan sama saja. Mereka berjalan jauh untuk sekadar mendapat air yang tak seberapa. Mereka tidak pernah lupa berdoa. Mereka juga tak sekali-kali malas berusaha. Tapi nampaknya usaha dan doa-doa mereka tertahan di udara. Pada masa yang sama, kudeta terjadi di pusat kota. Junta … Baca Selengkapnya

Cerpen : Berburu Macan oleh S Prasetyo Utomo

Dengan senapan di tangan, Santo, lelaki setengah baya bertubuh kekar berambut cepak itu, berhasrat menyusup hutan lereng Gunung Merapi: berburu macan. Orang-orang desa yakin benar bila kambing-kambing mereka mati dan terluka diterkam macan. Semua orang tahu, Santo seorang desersi tentara, suka berburu ke dalam hutan. Ia berburu dengan dua sahabatnya. Ia dikenal sebagai penembak jitu. … Baca Selengkapnya

Cerpen : Minum Teh Sebelum Mati oleh Moehammad Abdoe

SAYA tidak tahu pasti kapan pertama kali berpikir bahwa pria itu akan mati. Tapi saya ingat hari ketika ia memutuskan untuk hidup dua kali. Namanya: Tuan K. Nama lengkapnya—atau yang tercatat di lembar negara—adalah Karsena Yudhatama, seorang anggota dewan dari partai yang warnanya seperti darah encer. Tuan K tak pernah minum kopi. Ia percaya teh … Baca Selengkapnya

Cerpen : Teror oleh Putu Wijaya

 AKU cabut dari kantor dengan kepala terbakar. Tak ada yang berani menegurku meskipun aku sudah ngacir 2 jam sebelum jam tutup kantor. Mereka tahu aku marah. Kecewa. Frustrasi. Keki. Dalam rapat dadakan, karena majalah kami ditegur penguasa akibat kebablasan satu kata yang dianggap melanggar SARA. Pimpinan menegurku sadis dalam rapat konsolidasi dadakan bersama semua karyawan. … Baca Selengkapnya

Cerpen : Aroma Penyair Mahzan oleh Helvy Tiana Rosa

DI kaki Bukit Seulawah, tinggal seorang penyair tua bernama Mahzan. Rumahnya panggung berlumut, dikelilingi rumpun nilam, dan ilalang yang meninggi. Ia telah lama berhenti menulis di koran, menolak undangan baca puisi, dan menjauh dari ingar bingar dunia sastra. Mahzan sering duduk di serambi rumahnya, menjemur dan mencium dedaunan nilam. Ia percaya bahwa dalam setiap hela … Baca Selengkapnya

Cerpen : Daun oleh Yuditeha

STASIUN kecil itu hampir tenggelam oleh senja. Cahaya jingga memantul pada besi tua yang menghitam, membentuk bayangan panjang dari kursi-kursi semen yang terkelupas. Beberapa orang berdiri di ujung peron, menunggu kereta seperti menunggu alasan yang tepat setiap kali tak bisa kembali. Di antara mereka, seorang perempuan dengan mantel hijau lumut duduk sambil memeluk tas jinjing … Baca Selengkapnya

Cerpen : Budi Anarko oleh Kurnia Gusti Sawiji

DIA tahu bahwasanya pertarungan adalah bayangan yang bertaut di dalam setiap langkah dan gerak-gerik peradaban manusia. Dia juga tahu bahwa nama adalah rantai-rantai yang mengikat umat manusia dengan bayangan-bayangan mereka. Maka dari itu, seyogianya mereka yang terlahir tanpa nama, tetapi menerima adanya nama disematkan ke atas mereka adalah seumpama mengikat diri dengan rantai-rantai. Nama “Anarko” … Baca Selengkapnya

Cerpen : Rumi Tidak Menjawab oleh Muhammad Aswar

KONYA, musim semi yang tak seperti biasanya. Bunga almond mekar sebelum waktunya, dan para peziarah datang lebih awal, mungkin karena mereka lelah menunggu perdamaian yang tak kunjung tiba di tempat-tempat yang bahkan tak mereka pahami. Di antara peziarah itu, ada seorang lelaki bernama Taha, umur empat puluh dua, jurnalis lepas dari Amman, Yordania. Ia tidak … Baca Selengkapnya

Cerpen : Bayang-bayang Kebun Karet oleh Yulizar Lubay

DI tengah siaran berita Nasional tentang bahaya gerhana matahari total, warga Kampung Kebun Karet digegerkan dengan penemuan mayat seorang lelaki yang tergeletak di pinggir jalan sepi. Ketakutan menyebar cepat sekali. Di warung-warung kopi, warga mulai membahas tentang seseorang atau beberapa orang yang berjuluk Bayang-bayang. Di warung kopi, para lelaki duduk melingkar dengan suara ditekan, kadang … Baca Selengkapnya

Cerpen : Hiu Berjalan di Teluk Ama oleh Ahmad Arif

Malam itu laut surut lebih jauh dari biasa. Langit pucat, keriput seperti kulit ikan dijemur tujuh hari. Angin mati. Pohon-pohon di tepi Teluk Ama membatu. Bulan Saure melahirkan tanpa suara, hanya gemetar di bibir, seperti merapal mantra penghabisan. Darah mengalir deras, membanjiri lantai bambu rumah panggung. Di luar, hujan mendadak turun, memecah sepi. Seperti ibunya, … Baca Selengkapnya