Cerpen : Kriminalitas Meja Makan oleh Damhuri Muhammad

PERSENTUHAN mula-mulanya dengan perkakas tajam berawal dari omelan-omelan ayahnya di meja makan saat ia masih berusia 9 tahun. Salman ingat betul raut muka jengkel ayahnya, hanya karena bawang goreng yang terhidang bersama lauk lain di meja makan tidak berbunyi kriuk-kriuk di mulutnya. “Rasanya seperti mengunyah jamur mentah saja,” gumam ayahnya sebelum tergesa-gesa melepehkan kunyahannya melalui … Baca Selengkapnya

Cerpen : Emosi Pemijat Meledak oleh M Nasir Asnawi

Kereta api commuter line terakhir dari Jakarta baru saja masuk ke Stasiun Tangerang Kota. Para penumpangnya yang tinggal sedikit bergegas turun dan menyebar ke berbagai arah. Penjual sate, nasi goreng sudah tidak terlihat di pinggir jalan. Pintu-pintu rumah di kompleks perumahan rata-rata sudah tertutup rapat. Semua warga seperti sudah nyenyak di tempat peraduan. Sepi. Tengah malam yang … Baca Selengkapnya

Cerpen : Bedak Pinokio oleh Herumawan P A.

Kubuka smartphone second milikku kemudian berselancar di dunia maya. Memelototi unggahan-unggahan video viral. Ada yang memaki pejabat yang korupsi. Mereka tidak suka dengan kebohongan-kebohongan yang selama ini dilakukan para koruptor. Aku merenungi apa yang kusaksikan dan kubaca di media sosial. Tiba-tiba, tebersit ide. Membuat pendeteksi kebohongan. ”Bagaimana kalau aku buka praktik jual ramuan yang bikin hidung jadi … Baca Selengkapnya

Cerpen : Lelakiku oleh Martin Aleida

AKU tak tahu apa niat Mbah membujuk kami menginap di rumahnya. Apakah dia merasa tidak layak, dan barangkali akan bikin geger seisi desa, bila lelakiku melewatkan malam di rumahku. Karena ibuku sudah menjanda. Atau dia hendak memerangkap kami berduaan belum waktunya, berbuat mesum. Kami merebahkan diri di amben yang terbuat dari belahan bambu. Kuhamparkan selendang … Baca Selengkapnya

Cerpen : BLOK SEMBILAN oleh Auranita Gibrani Darmawan

inar dari sang pusat tata surya menembus jendela bersama gerobak sarapan yang berkeliling. Gema sepatu penjaga menggema di koridor sempit, diikuti oleh roda gerobak besi yang berdecit setiap kali bergerak. Sebaskom nasi putih, sepiring tempe goreng, sambal, dan sayur rebus ala kadarnya telah dikirim pada setiap sel di blok pertama. Aku menyaksikan betapa rakusnya para … Baca Selengkapnya

Cerpen : Yang Terjadi Setelah Senja oleh Arie Fajar Rofian

angit terik bersorak panas, membakar apa pun yang berada di bawah naungannya. Matahari yang menggantung di atas tak mengenal belas kasihan; sinarnya tajam dan menusuk-nusuk dari atap beton gedung perkantoran hingga kulit-kulit yang berseliweran di permukaan yang kian lama kian legam. Sementara, asap knalpot beragam kendaraan bermotor memanjat pelan, sekaligus berlomba-lomba menggapai udara, lalu larut … Baca Selengkapnya

Cerpen :Tapanaga oleh Daviatul Umam

Sebagai ketua RT, Sidik jadi orang terdepan dalam memperjuangkan kesejahteraan warganya. Ia satu-satunya aparat desa yang menolak keras rencana reklamasi pantai yang dicanangkan Kalebun Mahri sejak 2013. Ia tak segan mengumpulkan warga untuk bermusyawarah. Dalam musyawarah tertutup, ia menyampaikan rencana Kalebun Mahri, mewanti-wanti warga agar bersama-sama menolak rencana tersebut, serta menerangkan sejumlah alasan kenapa harus … Baca Selengkapnya

Cerpen : Berpikir dalam Hening oleh Jimmy Anggara

Anak itu bertubuh kurus-kering seperti seutas lidi. Celana panjang abu-abunya terlalu pendek sehingga menampakkan kaus kakinya yang melorot ke mata kaki. Ia datang paling akhir. Saat berdiri memperkenalkan diri—”Nama saya Gabustois”—teman-teman barunya mentertawainya. Guru kelas sampai harus memukul meja dengan penggaris kayu supaya murid-murid diam. Setelah tawa reda, murid bernama aneh itu dipersilakan duduk dan … Baca Selengkapnya

Cerpen : Mata-mata di Kepala oleh Ni Komang Ariani

TANPA harus dijelaskan, aku sudah paham. Sore itu, sehabis mandi dan rambutku masih basah, pintu kamar kontrakanku diketuk berulang kali. Tiga orang laki-laki berkaus hitam dengan rambut yang klimis menjemputku. “Silakan, Bu. Ini waktunya.” Ketiganya tersenyum ramah. Sekilas, ketiganya tampak sebagai laki-laki baik. Namun, kedatangan mereka bukanlah untuk sesuatu yang baik untukku. Pengalaman pahitku sejak … Baca Selengkapnya

Cerpen : Eriopis oleh Zulvanny Fatwa Firmananda

i museum yang berdiri tegak di pinggir kota, aku terdiam di depan sebuah manekin tanpa kepala yang mengenakan gaun keemasan berpotongan mermaid, dengan banyak rok yang bisa dilepas-pasang di bagian belakang pinggang. Gaun yang, entah mengapa, mengingatkan aku dengan rubah berekor sembilan. Didesain langsung Medea, wanita tua yang lima tahun silam dipenjara atas tuduhan pembunuhan kedua … Baca Selengkapnya