Cerpen : Ketika Listrik Padam oleh Wendoko

TIBA-TIBA lampu padam. Tidak hanya lampu di ruang makan, tempat Nita—perempuan kecil berumur sembilan tahun dan berambut kepang itu—duduk menggarap PR matematika. Tapi semua lampu di dalam rumah padam. Beberapa saat Nita terdiam. Lalu, pelan-pelan, dengan bantuan cahaya samar dari genting kaca di atap dapur, matanya mulai menyesuaikan dengan suasana gelap itu. Lamat-lamat dia melihat … Baca Selengkapnya

Cerpen : Al Furqon, Sebuah Malam Sebuah Sajak oleh Toni Lesmana

  Malam. Bulan timbul tenggelam di lautan awan. Gerimis sesekali menyapa bumi dan mengabarkan langit masihlah ada. Namun tak benar-benar turun hujan. Sesekali segaris cahaya mengerjap dan gemetar di angkasa. Bukanlah kilat atau petir, hanya segaris cahaya mengerjap dan gemetar. Orang-orang di kampungku menyebutnya kingkilaban. Seperti sebuah isyarat atau gelagat. Kau ingin memahaminya, tapi bagiku … Baca Selengkapnya

Cerpen: Syekh dan Anjing-anjingnya oleh F Ilham Satrio

Abu bersyukur pernah meraih punggung jemari sang Syekh. Belasan purnama yang lalu, ketika ia dan para santri lain ditugaskan mengambil air sungai karena sumur pendopo tiba-tiba saja kering. Ia berpapasan dengan Syekh dan anjing-anjingnya saat ia sedang memanggul bejana menuju pendopo. Sebuah pengalaman langka yang terbilang oleh jari. Sama langkanya dengan kejadian sumur yang tiba-tiba … Baca Selengkapnya

Cerpen : Ordil Jadi Gancan oleh Gde Aryantha Soethama

  Dari bawah pohon sawo di sudut alun-alun, Ordil menatap bade tumpang sembilan itu dengan pandang berseri-seri, tapi juga dengan perasaan memuncak dengki. Dia girang, niat melampiaskan dendam sebentar lagi terpenuhi. Pada saat sama, kebencian membakar rongga dadanya, karena jenazah orang yang paling ia musuhi memperoleh kehormatan dibakar dengan menara megah bertumpang sembilan. Ordil melangkah … Baca Selengkapnya

Cerpen : Minum Teh Sebelum Mati oleh Moehammad Abdoe

SAYA tidak tahu pasti kapan pertama kali berpikir bahwa pria itu akan mati. Tapi saya ingat hari ketika ia memutuskan untuk hidup dua kali. Namanya: Tuan K. Nama lengkapnya—atau yang tercatat di lembar negara—adalah Karsena Yudhatama, seorang anggota dewan dari partai yang warnanya seperti darah encer. Tuan K tak pernah minum kopi. Ia percaya teh … Baca Selengkapnya

Cerpen : Kepala Desa Idiot oleh A Warits Rovi

JIKA sudah pegang mikrofon dan berpidato, Suring, Kepala Desa Suruni, sering ditertawakan banyak orang. Apalagi ketika rapat di pendopo kecamatan, kepala desa lain akan terus tertawa, terbahak-bahak, bagai menemukan hiburan gratis dari seorang komedian. Tak jarang hingga ada yang harus menekan perutnya karena sakit—saking asyiknya menertawakan Suring. Bahkan ada yang sampai menutup telinga demi tak … Baca Selengkapnya

Cerpen : Teror oleh Putu Wijaya

 AKU cabut dari kantor dengan kepala terbakar. Tak ada yang berani menegurku meskipun aku sudah ngacir 2 jam sebelum jam tutup kantor. Mereka tahu aku marah. Kecewa. Frustrasi. Keki. Dalam rapat dadakan, karena majalah kami ditegur penguasa akibat kebablasan satu kata yang dianggap melanggar SARA. Pimpinan menegurku sadis dalam rapat konsolidasi dadakan bersama semua karyawan. … Baca Selengkapnya

Cerpen : Setelah Kematian Romo Simon oleh Safry Dosom

SETELAH menemukan jenazah Romo Simon di dekat gerbang menuju hutan Poco Leok itu, semua warga kampung L serentak membisu. Setiap orang, baik anak kecil maupun orang dewasa, terus dihantui oleh rasa takut. Mereka tidak mampu lagi menjelaskan semua peristiwa itu. Romo Simon yang berjuang bersama mereka beberapa hari yang lalu kini hanya tinggal kenangan. Ia … Baca Selengkapnya

Cerpen : Aroma Penyair Mahzan oleh Helvy Tiana Rosa

DI kaki Bukit Seulawah, tinggal seorang penyair tua bernama Mahzan. Rumahnya panggung berlumut, dikelilingi rumpun nilam, dan ilalang yang meninggi. Ia telah lama berhenti menulis di koran, menolak undangan baca puisi, dan menjauh dari ingar bingar dunia sastra. Mahzan sering duduk di serambi rumahnya, menjemur dan mencium dedaunan nilam. Ia percaya bahwa dalam setiap hela … Baca Selengkapnya

Cerpen : Imigran Gelap oleh Vito Prasetyo

PENERBANGAN dari Moskow hari ini harus ditunda. Cuaca sangat buruk di Bandara Domodedovo Mikhail Lomonosov. Badai angin disertai gumpalan hujan lebat menutupi jarak pandang. Semua maskapai penerbangan tidak berani mengambil risiko. Di lobi dan ruang tunggu, hampir semua orang memilih duduk dan berdiam diri. Tidak ada yang mampu mengubah kondisi, selain pasrah dan menunggu kondisi … Baca Selengkapnya