Cerpen : Kepala Desa Idiot oleh A Warits Rovi

JIKA sudah pegang mikrofon dan berpidato, Suring, Kepala Desa Suruni, sering ditertawakan banyak orang. Apalagi ketika rapat di pendopo kecamatan, kepala desa lain akan terus tertawa, terbahak-bahak, bagai menemukan hiburan gratis dari seorang komedian. Tak jarang hingga ada yang harus menekan perutnya karena sakit—saking asyiknya menertawakan Suring. Bahkan ada yang sampai menutup telinga demi tak … Baca Selengkapnya

Cerpen : Pelajaran Menaklukkan Buaya oleh A Warits Rovi

AKU di tengah jembatan bambu saat di seberang sungai orang-orang berteriak. “Hati-hati, ada buaya di bawah ujung jembatan. Lebih baik mundur.” Orang-orang yang sedang menapak jembatan bambu reot itu — termasuk aku — langsung panik. Bambu rapuh yang cuma berjajar tiga itu jadi bergetar-getar. Mengerikan. Terlebih setelah coba kuamati keadaan di bawah ujung jembatan seberang, … Baca Selengkapnya

Cerpen : Cara Lain Merayakan Tahun Baru oleh A Warits Rovi

BUTIR kerikil yang kutampung dalam botol bekas sudah purna berjumlah dua belas. Setiap bulan, aku tak lupa bertanya kepada ayah kapan tanggal 1 tiba. Setiap tanggal 1 itulah aku menambah sebutir kerikil ke dalam botol itu. Kata ayah, jika sudah berjumlah dua belas butir, itu berarti 1 tahun, dan biasanya 31 hari setelah kerikil yang … Baca Selengkapnya

Cerpen : Satu Wanita, Dua Lelaki oleh A Warits Rovi

SAAT usia kehamilanku enam bulan, Bando meninggalkanku begitu saja di tenda darurat yang terbuat dari anyaman daun siwalan, tepat pada hari kedua saat kami menjelajahi hutan Kesong. Ia tak peduli tenda itu berada di lokasi berbahaya, di sebuah ceruk yang dirimbuni aneka pohon kekar dan semak belukar. Pada suatu subuh, ketika bulan sabit tanggal tua … Baca Selengkapnya

Cerpen : Bulan yang Jatuh di Atap Rumbia oleh A Warits Rovi

HARGA beras yang terus naik membuat tenggorokan Salma bagai hamparan gurun dalam panggang terik kemarau; kering kerontang dan berdebu. Beruntung rumahnya yang reot dekat dengan sumur. Setidaknya ia bisa minum air sebagai pengganti nasi. Sebentar air itu bisa menghibur tenggorokannya yang kerontang walau ia tak bisa menjawab perutnya yang terus-menerus menginterupsi dalam bentuk rasa perih. … Baca Selengkapnya

Cerpen : Perempuan yang Menggambar di Tanah oleh A Warits Rovi

DINDING tua rumah Hanok yang berbata merah ini seperti sia-sia menepis tusukan dingin. Malam sedemikian pekat seperti menggulirkan kelereng salju lewat jendela kecil yang tertutup senyap. Ini rumah hanok kesekian yang kuidamkan setelah kepincut rumah-rumah hanok tua yang cantik di Desa Bukchon Hanok. Eun-Kyung sengaja menyewa rumah ini kepada salah seorang temannya khusus untukku setelah … Baca Selengkapnya

Cerpen : Nazar Seorang Perawan Tua oleh A Warits Rovi

SETIAP melihat kalender, selalu ada ketakutan di benak Arum. Tangannya gemetar saat meraba deretan angka-angka. Ia takut pada umurnya sendiri. Jika bisa, ingin waktu berjalan sangat pelan agar tidak segera tiba pada 22 Maret. Sebab, ia tak ingin merayakan hari ulang tahun dalam keadaan masih tak punya suami. Ia takut umurnya terus bertambah tua, tapi … Baca Selengkapnya

Cerpen : Romantisme Cinta si Buta dan si Bisu oleh A Warits Rovi

MENGENAL Mira di Pasar Kona karena bahasanya yang unik dan suaranya yang indah. Kala itu, aku dengannya sama-sama duduk di sebuah teras toko bekas sambil menunggu orang-orang berhati dermawan lewat dan memasukkan sebagian uang mereka ke kaleng yang menganga di hadapan kami. Kami biasa duduk hingga azan Zuhur terdengar atau ketika pasar mulai sepi. Di … Baca Selengkapnya

Cerpen : Drama Tanah Terakhir oleh A Warits Rovi

DI sisi utara ladang itu, tumbuh sebatang pohon jambu air yang berbuah sepanjang waktu. Ia terus merumbai bunga-bunga putih berputik halus. Menyembulkan gelantungan buah segar, mengkilap, dan agak licin. Saat pohon-pohon lain layu di terik kemarau, pohon jambu air itu tetap merimbun hijau, segar, seolah bersumbar bahwa dirinya hidup tak tergantung kepada musim. Sedang di … Baca Selengkapnya

Cerpen : Pisang Kembar oleh A. Warits Rovi

Tengah malam ketika ia bangun, perutnya terasa lapar. Tenggorokannya kering, seperti tanah cadas dicekik terik matahari. Lidahnya berlumur liur yang ia telan kembali dengan rasa haus dan lapar yang terus mendera supaya perutnya sedikit terisi. Amina, istrinya, mendengkur di sampingnya. Sepintas ia lirik perutnya yang buncit. ”Sudah enam bulan. Semoga lahir dengan selamat.” Ia bergumam. … Baca Selengkapnya