Cerpen : Ordil Jadi Gancan oleh Gde Aryantha Soethama

  Dari bawah pohon sawo di sudut alun-alun, Ordil menatap bade tumpang sembilan itu dengan pandang berseri-seri, tapi juga dengan perasaan memuncak dengki. Dia girang, niat melampiaskan dendam sebentar lagi terpenuhi. Pada saat sama, kebencian membakar rongga dadanya, karena jenazah orang yang paling ia musuhi memperoleh kehormatan dibakar dengan menara megah bertumpang sembilan. Ordil melangkah … Baca Selengkapnya

Cerpen : Menonton Wayang oleh Gde Aryantha Soethama

Seorang lelaki punya pengalaman sangat berkesan ketika menonton pergelaran wayang kulit. Waktu itu, awal 1960-an, ia masih di sekolah dasar. Dari tempat tinggalnya di kota K, ia acap pulang kampung, sebuah dusun di kota G. Kendati jarak G dan K cuma 25 kilometer, pulang kampung kala itu sungguh istimewa, perjalanan yang ditunggu-tunggu, naik bus antarkota … Baca Selengkapnya

Cerpen : Menonton Wayang oleh Gde Aryantha Soethama

SEORANG lelaki punya pengalaman sangat berkesan ketika menonton pergelaran wayang kulit. Waktu itu, awal 1960-an, ia masih di sekolah dasar. Dari tempat tinggalnya di kota K, ia acap pulang kampung, sebuah dusun di kota G. Kendati jarak G dan K cuma 25 kilometer, pulang kampung kala itu sungguh istimewa, perjalanan yang ditunggu-tunggu, naik bus antarkota … Baca Selengkapnya

Cerpen : Baliho oleh Gde Aryhanta Soethama

Tak pernah lelaki itu semuak kini. Sering kali ia mual jika menatap gambar selebar dua kali tiga meter itu. Ia mencoba bersikap biasa-biasa saja, tapi tetap tak kuasa mengelak dari baliho-baliho yang berdiri pongah di setiap tikungan dan sembarang sudut jalan. Ribuan baliho caleg mengepung kota kecil itu, dipasang semau gue, berbagai ukuran, saling sodok, … Baca Selengkapnya

Cerpen : Perang Siobak oleh Gde Aryantha Soethama

Wajah Dirga merah padam, tak kuasa menahan geram karena Suliang ingkar janji. ”Aku tak pernah menjanjikan motor baru, Dir, cuma motor bekas.” ”Ah, jangan berkilah, Sul, aku ingat betul, kau menjanjikan motor baru, gres.” ”Tak pernah aku ngomong begitu. Aku bilang, kalau kerjamu bagus, kukasi motor, tak ada kubilang baru.” Dirga diam lama, terhenyak, kecewa sangat. Ia telah melakukan … Baca Selengkapnya

Cerpen : Pangus Ukulele oleh Gde Aryantha Soethama

Setelah istrinya meninggal, juragan tembakau dari Bondowoso itu menyerahkan seluruh urusan perusahaan kepada anaknya. Dan sejak itu ia sulit tidur, selalu membayangkan usaha yang dengan gigih ia bangun sejak muda bakalan redup dan akhirnya terkubur karena salah urus. Seorang paranormal menganjurkan agar ia menyepi, mengikhlaskan diri. Lelaki Bondowoso itu pun membeli tanah di Tegalalang, dusun … Baca Selengkapnya

Cerpen : Belukar Pantai Sanur oleh Gde Aryantha Soethama

Dua orang pecalang bergegas mendekati tiga lelaki hendak ke pantai, masing-masing menggendong ransel dengan tangkai pancing menyembul. Petugas keamanan desa adat itu menghentikan langkah mereka, persis tatkala kaki mereka menyentuh pasir. ”Kami mau mancing, Pak.” ”Boleh, tapi tetap pakai masker, jaga jarak,” perintah pecalang yang tubuhnya kekar dan berewok. Tiga pemancing itu saling pandang, mengeluarkan … Baca Selengkapnya

Cerpen : Jemput Aku di Bawah Pohon Gatep oleh Gde Aryantha Soethama

Sangat sering Ningrum punya keinginan hidup sendiri selamanya, tak usah menikah. Tapi, begitu niat itu muncul, selalu terbayang Saskara dengan hasrat berumah tangga yang mendesak-desak. ”Kita akan jadi pasangan bahagia, Rum, membuat iri banyak orang,” jelas Saskara berulang-ulang, mungkin lebih dari seratus kali. ”Mereka yang memilih hidup sendiri juga bahagia, Sas,” sahut Ningrum, sedatar mungkin, … Baca Selengkapnya

Cerpen : Bertemu Batu oleh Gde Aryantha Soethama

Bulat sudah tekad lelaki itu pergi ke pegunungan, menembus belantara pohon. Dia sudah jenuh bertemu laut, lelah berjemur di pantai. Sudah dua tahun dia menggali pasir, lalu berbaring membenamkan tubuhnya di lubang galian, hanya sebatas leher dan kepala yang tampak. Selalu begitu ia lakukan, setiap matahari sore setinggi pinggang batang kelapa. Ia akan pulang jika … Baca Selengkapnya

Cerpen : Batas Tidur oleh Gde Aryantha Soethama

  Jika hendak tamasya, kami akan pergi ke batas tidur, tubuh pun melayang-layang, terayun-ayun seringan kapas. Benda-benda, gedung, gunung, laut, pohon, dan ternak terangkat, namun tetap terpegang erat di tempatnya. Kicau burung, suara serangga, dan desau angin, jernih dan jelas sumbernya. Bisikan-bisikan menjadi percakapan nan merdu. Sebelum berangkat kami akan berkumpul di lembah Astungkara, di … Baca Selengkapnya