Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Batas Tidur oleh Gde Aryantha Soethama

Posted on Ming, 23 Okt 2011

 

Jika hendak tamasya, kami akan pergi ke batas tidur, tubuh pun melayang-layang, terayun-ayun seringan kapas. Benda-benda, gedung, gunung, laut, pohon, dan ternak terangkat, namun tetap terpegang erat di tempatnya. Kicau burung, suara serangga, dan desau angin, jernih dan jelas sumbernya. Bisikan-bisikan menjadi percakapan nan merdu.

Sebelum berangkat kami akan berkumpul di lembah Astungkara, di hamparan yang kami sebut campuhan, terbentuk oleh pertemuan dua sungai: Tukad Telagawaja dan Tukad Tugtugan. Orang-orang memercayai, campuhan adalah lembah suci, tempat mencari keheningan dan pelepasan. Seorang guru akan membimbing kami, menyodorkan ajakan dan kepastian, ke wilayah mana kami akan tamasya.

Tak seorang pun tahu asal Sang Guru. Kami mengenalnya begitu kami mulai berkumpul di lembah Astungkara, kemudian memanggilnya Guru Tung, yang sehari-hari sibuk mengurus kebun, beristirahat di gubuk beratap alang-alang, dengan tiang-tiang dan sekat bilik dari kayu. Orang-orang kemudian menyebut tempat itu sebagai pedukuhan Astungkara.

Jika hendak tamasya, di pedukuhan itu kami berbaring terlentang menatap angkasa, memusatkan lamunan pada bintang-bintang dengan rentang sekian juta tahun cahaya. Beberapa tergolek nyaman di bawah pohon wani, jambu, mangga, atau durian. Yang lain terbaring begitu saja di atas rumput sehingga sekujur tubuh berselimut embun. Ada yang nyaman telentang dalam bilik atau di emperan pondok yang menghadap ke sungai. Jika sudah siap, Guru Tung memberi aba-aba dengan helaan napas supaya kami bersujud pada sunyi, memohon pada hening dan sepi, agar bersua dengan kosong sejati.

Dalam kosong kami bisa mendengar detik-detik terakhir kami di bumi, saat berada persis pada batas gelap dan terang, pada sekat tipis wilayah gemuruh dan sunyi. Batas-batas itu oleh Guru Tung diajarkan kepada kami sebagai peralihan antara terjaga dan tidur. ”Semua orang bisa memilih saat hendak istirahat tidur. Tapi, tak seorang tahu detik ketika ia tertidur,” ujar Guru. ”Siapa pun yang bisa meraih detik ketika tertidur, ia akan tetap terjaga, rohnya melayang bisa melihat raga sendiri. Niscaya ia bisa memilih saat melepas roh dari raga untuk mati.”

Kami pun dibimbing untuk menguasai aji batas tidur, ilmu sederhana tapi bukan main sulit mendapatkannya. Kami diminta memejamkan mata, mengintip dengan perasaan dan khayalan, saat-saat menjelang tidur, sehingga bisa menyadari detik terakhir terjaga. Tapi, yang sering terjadi justru kami terlelap tanpa tahu jam dan detik berapa kami tertidur.

Kendati kami belum menguasai ilmu batas tidur, Guru Tung selalu dengan senang hati membantu kami melepas roh dari raga, sehingga kami bisa tamasya melayang-layang seringan kapas. Raga yang kami tinggalkan di bawah pohon, dalam bilik, di hamparan rumput, tak boleh dipindahkan dari kedudukannya. Jika digeser, roh tak bisa kembali memasuki raga, matilah orang itu. Biasanya kami meminta bantuan satu atau beberapa orang untuk tidak ikut tamasya, bertugas menjaga ketetapan posisi jasad kami, karena siapa tahu tiba-tiba ada yang berkunjung, bingung melihat kami terserak ketiduran, lalu menggoyang-goyang dan menggeser raga kami untuk membangunkan.

Guru Tung bercita-cita menciptakan rumus aji batas tidur agar mudah dikuasai dan dihayati kapan pun oleh siapa saja. Seperti rumus Phytagoras yang memudahkan orang membuat sudut sembilan puluh derajat setelah membuat kuadrat sisi miring sama dengan jumlah kuadrat sisi siku-siku. Menurut Guru Tung, karena kematian adalah kepastian, ia bisa dijabarkan dengan matematika.

Jika banyak orang menguasai aji batas tidur, orang sakit parah tak tersembuhkan tak perlu sengsara karena bisa memilih hari kematian yang diinginkan tinimbang minum obat mahal tak kunjung menyembuhkan dan terus memiskinkan. Tak akan ada orang digencet sakit hati dan putus asa tewas gantung diri atau menenggak racun, karena ia akan memilih mati teduh lewat batas tidur. Kematian bukan lagi maut yang seram menakutkan dan merepotkan, namun sebuah pilihan yang kapan pun bisa diselesaikan sesuai keinginan, bisa dihitung seperti bilangan.

Pedukuhan Astungkara pun jadi terkenal, dikunjungi banyak orang dari berbagai benua dan pelosok negeri, datang belajar untuk mati dengan pertolongan ilmu batas tidur. Bule-bule banyak di sini, membuat iri para pemilik wisata spiritual di hotel dan vila dengan menu tapa-yoga-semadi, karena ditinggalkan peminat. Tapi, sedikit orang asing yang bisa ikut tamasya dengan bimbingan Guru Tung karena sebagai pelancong, waktu mereka sempit, tergesa-gesa, tak pernah sanggup bersujud pada sepi, gagal memohon pada sunyi dan hening, untuk masuk ke dalam kosong. Di antara kami yang berhasil adalah Dingkling, seorang terpidana mati yang divonis tujuh tahun lalu. Karena berkelakuan sangat baik, ia sering diizinkan bermalam di pedukuhan Astungkara, dibimbing Guru Tung ikut tamasya bersama ke batas tidur.

Tadi malam Dingkling datang ke pedukuhan, dan akan menjadi malamnya yang terakhir karena dini hari ia akan berhadapan dengan regu tembak. Ketika ditanya permintaan terakhir sebelum dieksekusi, dengan gembira ia menjawab, ”Izinkan saya mampir ke pedukuhan Astungkar, untuk mendapat doa restu Guru Tung dan murid-muridnya.”

Kami merayakan perpisahan itu dengan tamasya bersama ke batas tidur. Dingkling memilih berbaring menatap angkasa raya di bawah pohon leci, di antara rentang akar-akar yang menyembul ke atas tanah. Dua sipir siaga menjaganya penuh awas. Kami yang menemani Dingkling tamasya segera masuk ke dalam kosong. Tubuh pun melayang-layang, terayun-ayun seringan kapas, benda-benda terangkat mengambang.

Menjelang dini hari, dua sipir itu membangunkan Dingkling, menggoyang-goyang tubuhnya. Ketika Dingkling tak juga bergerak, sipir itu panik. ”Kita angkat ke dalam, ayo!” teriak sipir yang kurus, setengah menyeret tubuh diam itu.

Kami terjaga, secepatnya kembali dari tamasya. Bergegas kami bangkit dari tempat masing-masing di atas rumput dan bawah pohon, menghambur ke dalam bilik. Guru menatap tubuh Dingkling yang lunglai di ubin. Kami saling pandang karena tahu Dingkling tak bakal kembali. Ia meninggal dalam tamasya batas tidur karena sipir memindahkan raganya dari bawah pohon leci ke dalam bilik. ”Ikhlaskan, mari kita berdoa, Dingkling sudah pergi dengan damai,” ujar Guru. Dua orang sipir itu ternganga, tak tahu bagaimana harus menjelaskan kepada komandan karena kelalaian mereka membuat regu tembak yang sudah siaga urung bertugas.

Berita terpidana hukuman mati tewas di pedukuhan Astungkara beberapa jam menjelang eksekusi menjadi berita besar, disiarkan televisi berulang-ulang, merambat cepat lewat pesan singkat telepon seluler. Menjelang petang, gerombolan orang riuh di depan pedukuhan. Beberapa orang mengacungkan kelewang, selebihnya menggenggam batu yang diambil dari sungai, siap dilempar ke pondok. Ada yang mengacung-acungkan obor. ”Bakarrrrr…! Bunuhhhhh…!” jerit mereka galak berulang-ulang.

Kami gemetar, namun pasrah dan mencoba tenang. Sudah sejak lama berembus kabar, penghuni pedukuhan Astungkara tengah menekuni ajaran sesat. Orang-orang sangat meyakini itu karena yang datang ke tempat kami adalah kaum terbuang, manusia-manusia yang dikucilkan karena depresi menderita sakit tak tersembuhkan. Banyak yang dikenal sebagai pemadat, mantan preman, pemakai narkoba yang kemudian mengidap AIDS, sengsara menunggu ajal. Sekarang, para penuduh itu punya kesempatan melampiaskan amarah, berdesak-desak hiruk-pikuk sampai di tepi sungai, berteriak-teriak kasar menantang dan mengumbar bermacam tuduhan. Empat pemimpin mereka berdiri di pintu pagar pepohonan. Kami masuk bilik menemui guru yang duduk bersila di lantai.

”Biarkan mereka masuk, sekarang saat menunjukkan siapa kita,” ujar Guru lembut, tenang, dan bersahaja.

Empat pemimpin itu memasuki halaman, kami menyongsong mereka dengan memaksakan keberanian.

”Mana Pak Pektung?!” teriak pemimpin yang mengenakan destar melecehkan nama Guru, dengan bibir sinis menyeringai. Seingat kami, dia salah seorang tokoh yang punya vila dengan wisata spiritual tapa-yoga-semadi.

”Katakan pada gurumu, jangan memelihara iblis dan setan!” seru pemimpin yang bersarung.

”Dosa besar kalau gurumu mengajarkan tentang semesta kepada kalian, namun tak menyebut-nyebut kebesaran Tuhan,” ujar pemimpin yang mengenakan jas dan berdasi.

Pemimpin yang berkepala gundul menghampiri kami sembari berujar dengan datar, ”Gurumu boleh-boleh saja jadi pemimpin, tapi jangan menyesatkan umat.”

Tapi, pengikut empat pemimpin ini sungguh sangar dan berlumur dengki. ”Bakarrrrr…! Bunuhhhhh…!” teriak mereka sengit merangsek maju menerobos pagar tanaman. Nyala obor yang diacung-acungkan kian terang karena petang akan sempurna, hari sebentar lagi malam. Kami masuk ke pondok diikuti empat pemimpin itu. Di dalam, kami tercengang, guru tak ada lagi. Kami hanya menemukan onggokan abu di tempat Guru tadi bersila.

Lelaki berdestar dan pemimpin bersarung tertawa terbahak menyaksikan onggokan abu itu. Mungkin mereka menduga itu abu sisa pemujaan. Mereka berdua maju dan menendang gundukan abu itu berulang-ulang sembari terus terbahak. Lengking tawa bercampur gulungan debu beterbangan memenuhi bilik. Abu terserak ke mana-mana.

Tiba-tiba cahaya terang benderang menyilaukan menyergap, seperti usai gemuruh dentuman ledakan bom. Kami terperangkap dalam kilatan dahsyat cahaya, tak sanggup melihat apa pun, harus secepatnya memejamkan mata karena silau cahaya benderang itu akan merusak kornea. Kami tahu yang seharusnya kami lakukan: segera telentang di lantai, tangan bersedekap di dada, menghadap ke atap, mencoba masuk ke dalam kosong, agar segera melayang masuk angkasa. Kami melihat Guru berdiri. ”Sekarang mereka tahu siapa kita,” ujar Guru pelan.

Guru Tung pernah bercerita, seseorang yang sempurna menguasai aji batas tidur, jika memilih saat untuk mati, ia akan mengeluarkan energi panas membakar raga sendiri jadi abu. Setelah itu, ia akan menjadi seberkas cahaya yang bisa menampakkan diri, sanggup bercakap-cakap dengan siapa saja, kapan pun ia mau. Kami mengerti, Guru Tung telah menjadi cahaya, moksa. Aji batas tidur adalah jalan pelepasan, menuju pembebasan yang sempurna, hidup kekal abadi. Dan yang tidak paham ketika berhadapan dengan peristiwa pelepasan akan terbakar, seperti empat pemimpin itu. Mereka menjerit-jerit keluar halaman pedukuhan, menggelepar-gelepar menahan panas pada mata, buta, karena kornea mereka binasa oleh sergapan kilatan benderang cahaya. Telinga mereka mendenging, tuli. Kerongkongan tercekat oleh hawa panas, akan membuat mereka gagap dan terbata-bata kalau bicara.

Setelah peristiwa petang itu, jika hendak bertemu Guru Tung, kami akan telentang menatap angkasa, memusatkan lamunan pada bintang-bintang jutaan tahun cahaya, bersujud pada sunyi, memohon pada hening dan sepi, agar bisa bersua dengan kosong sejati. Kami akan terus di campuhan ini, meresapi aji batas tidur, agar bisa memilih sendiri hari mati.

Denpasar, September 2011

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme