Ibu mengaduk chai tea hangat yang kubuatkan untuknya. Ibu suka chai tea buatanku. Katanya aku pintar menakar susu, teh hitam, jahe, dan rempah-rempah yang pas. Kami duduk di ruang tamu. Sayup-sayup terdengar suara TV menyiarkan iklan…
Bulan: Februari 2021
Cerpen : Mbah Yai oleh A. Zulfa Muntafa
Setelah salat Isya, seluruh santri pondok pesantren Roudlotut Thullab baik putra maupun putri mengikuti kajian kitab kuning yang dipimpin langsung oleh pengasuh pondok, Kiai Haji Abdul Muhaimin. Para santri lebih sering menyebut…
Cerpen : Terusir oleh Ade Mulyono
Kesedihan sepertinya makin akrab dengan perempuan muda beserta bayinya. Sudah berhari-hari derita tak bosan mengepung hidupnya. Baru saja menginjakkan kaki di pekarangan rumah salah seorang warga di desa sebelah ia sudah disembur:…
Cerpen : Memendam Luka di Kebun
Bagi Ibu, jarak antara luka dan kebahagiaan amatlah pendek. Bahkan sangat tipis, begitu katanya, seketika mengingatkanku akan helai-helai rambut. Aku benar-benar tidak mengerti saat pertama kali Ibu mengatakannya. Bagiku, luka dan kebahagiaan…
Cerpen : Cakar Dubuk Tutul oleh Naning Scheid
Di Nsanje, pada musim kemarau awal Juni 2016 aku bertemu Kulunga, perempuan Malawi berusia sekitar 30-an dan berkulit legam. Dengan tatapan mata putus asa ia menceritakan rahasia tentang ritual persetubuhan dengan “Dubuk…
Cerpen : Melankoli Patriot oleh Ranang Aji Sp
Sepasang anak muda itu berjalan menuju bangku melewatiku sembari bercakap. Mereka seperti dua orang yang paling bahagia di dunia ini. Tersenyum dan saling berbagi harapan. Di antara rumput hijau dan pohon ringin…
Cerpen : Warung Sebelah oleh Setiyo Bardono
”Kalau jualan sayuran, jualan sayuran saja, jangan jualan yang lain. Itu namanya serakah, matiin rezeki tetangga.” Bentakan Bu Darmi membuat jantung Mak Isah terasa mau copot. Tubuh Mak Isah gemetar melihat Bu…
Cerpen : Akhirnya Kita Semua Menjadi Maling oleh Zaidinoor
Ia sudah mempersiapkan semuanya. Parang di tangan sudah diasah. Belati kecil sudah terselip di pinggang. Dan dari balik semak di tepi kebun karetnya, ia bersembunyi. Tanpa suara lelaki itu sudah berjam-jam menunggu….
Cerpen : Menari Dalam Jerat Tali oleh Salehati
Tubuh itu menari mengikuti arah angin. Diiringi desau dedaunan ia bergerak. Pelan, pelan, begitu pelan. Guruh pecah di udara. Tariannya berhenti. Tubuh itu masih melayang, menggantung, tidak menapak tanah. Nyawanya lenyap. Ibuku…
Cerpen : Apartemen Itu Menelan Rembulan oleh Han Gagas
Hawa dingin langsung menggigit pori-pori kulit Mery ketika tangannya membuka daun jendela. Angin malam menghempas wajahnya yang menekuk sedih. Suaminya tidur dalam dengkur yang teratur. Anak-anak lelap di kamarnya masing-masing. Mery tak…