Cerpen : Sapi Sebesar Gajah

Nyapnyup mendadak populer setelah bocah lima tahun itu sukses membongkar keberadaan kawanan pembegal yang sering beraksi di jalan utama yang menghubungkan Lubuklinggau-Curup. KISAH berawal ketika Mar­pi­se­lo­pah mem­ba­wa putranya ke kantor polisi dan tak ada yang memercayai mereka hanya karena pe­rem­puan tiga puluh tahun itu menjadikan igauan anaknya tentang keberadaan para pembunuh suaminya itu se­bagai dasar … Baca Selengkapnya

Cerpen : Saat Negara Bangkrut dan Antrean di ATM Mengular oleh Satmoko Budi Santoso

TIBA saatnya negaraku mengumumkan dirinya dalam situasi bangkrut. Sekaligus secara terbuka mengumumkan sebagai negara gagal. Ternyata di luar dugaan seluruh warga negara telah siap. Tidak ada kepanikan sama sekali. Hanya saja, situasi itu membuat setiap warga negara cepat-cepat menyelamatkan uangnya di bank. Ternyata pula setiap bank dan setiap anjungan tunai mandiri (ATM) di berbagai tempat … Baca Selengkapnya

Cerpen : Lelaki dengan Sepatu, Perempuan dengan Cermin oleh Yuditeha

LELAKI itu pulang pada sore yang malas. Langit kusam seperti pikiran orang yang lupa alasan mengapa harus kembali. Tak ada angin menyambut, hanya debu yang menari di depan pintu rumah yang sudah terlalu lama menunggu. Tangan kirinya membuka pintu, tangan kanannya menyeret koper yang roda-rodanya gemetar. Seakan menolak mengulang jejak. Di ambang pintu, ia berhenti … Baca Selengkapnya

Cerpen : Cara Bunuh Diri Seorang yang Mengaku Agnostik oleh Indra Tranggono

AKHIRNYA Logoza berhasil mendarat di Bandara Internasional Luzon, Republik Lambardoz. Seorang teman menyarankan dia untuk menemui dokter Palimermo di negara itu, di Kota Kadalla. Tanpa menyebut jabatan atau profesinya, Logoza menjelaskan jika dia berasal dari Republik Qeeshrooh. “Di mana ya negara Anda itu?” “Jauh sekali dari sini. Namanya juga tidak terkenal….” “Ooooo…. Lalu apa profesi Anda?” “Saya cuma pengusaha … Baca Selengkapnya

Cerpen : Si Kucing yang Sangat Anjing oleh Sasti Gotama

Aku bersumpah tak akan memelihara kucing lagi semenjak harus berpindah-pindah tempat demi mengikuti hasrat cinta ibuku. Pupu, kucing terakhir yang kupelihara, terpaksa kutinggal di sebelah bak sampah pasar, tempat tikus-tikus sebesar garangan memperebutkan kepala tuna yang digerayangi belatung lapar. KARENA itu pula, aku menolak tahu nama-nama teman sekelasku, tak mau sapa-disapa mereka, sebagaimana aku tak … Baca Selengkapnya

Cerpen : Anak Tunggal Seorang Dukun oleh Baron Yudo Negoro

Oleh: Baron Yudo Negoro Saat Ghofur celaka, orang-orang bilang akulah penyebabnya. Mereka tak menuduh langit muram, atau tanah licin karena hujan semalam. Mereka melirik garis nasib yang melekat padaku, warisan yang tak pernah kuminta. Maka dari itu, aku tidak kaget karena tuduhan itu merupakan rutinitas. AKU memasukkan barang-barang seperlunya ke dalam tas. Di luar, langit … Baca Selengkapnya

Cerpen : Sindikat Peminjam Uang oleh Aliurridha

BERTAHUN-TAHUN sebelum dirinya dicari banyak orang, Ozy Faturrahman tidak pernah berpikir untuk meninggalkan kampung halamannya. Ia lahir di tanah itu dan berencana mati di tanah itu. Kampung tempatnya dilahirkan terbaring di satu sudut kecil kota Ampenan, kota tua yang telah berdiri jauh sebelum negeri ini berdiri. Dari simpang lima tempat para veteran kehidupan berkumpul memamerkan … Baca Selengkapnya

Cerpen : Km 83 oleh Raudal Tanjung Banua

SUNGGUH di luar “nurul” kata orang-orang sekarang. Setiap tahun, Jalan Lintas Timur Sumatera (lazim ditulis “Jalintim”) di Km 83 selalu terendam banjir. Artinya, belum ada yang dilakukan pemerintah untuk membebaskannya dari kutukan menahun itu. Setiap kali orang berkata, “Tahun ini paling parah; kendaraan antre sampai dua atau tiga jam.” Tahun berikutnya, “Ini paling parah! Antrenya … Baca Selengkapnya

Cerpen : Panggilan Lepas Malam oleh Aveus Har

“AKU sedang mempertimbangkan untuk bunuh diri,” demikian peneleponku berkata dengan nada datar. Aku membutuhkan beberapa tarikan napas untuk menahan perkataan refleks. Terasa ada denging di kepalaku, yang aku tahu dari mana asalnya: sebuah kenangan buruk. Aku berdehem. “Apakah kau sudah mempertimbangkan pula kerugiannya melakukan itu?” tanyaku dengan nada ringan, dengan menekan jauh mimpi buruk masa … Baca Selengkapnya

Cerpen : Tarung Laut oleh Risda Nur Widia

Oleh RISDA NUR WIDIA* — Pagi belum membuka gelapnya ketika dengan kaki bergetar, Pahar menggeret kapal memancing milik pamannya yang diparkir di naje. Dengan seluruh kekuatannya, kapal itu Pahar seret menuju bibir pantai Lamalera. Pahar berharap tak seorang pun melihatnya. Orang-orang pasti akan mencegahnya untuk pergi ke laut seorang diri bila diketahui. Apalagi saat mereka … Baca Selengkapnya