Cerpen : Si Kucing yang Sangat Anjing oleh Sasti Gotama

Aku bersumpah tak akan memelihara kucing lagi semenjak harus berpindah-pindah tempat demi mengikuti hasrat cinta ibuku. Pupu, kucing terakhir yang kupelihara, terpaksa kutinggal di sebelah bak sampah pasar, tempat tikus-tikus sebesar garangan memperebutkan kepala tuna yang digerayangi belatung lapar. KARENA itu pula, aku menolak tahu nama-nama teman sekelasku, tak mau sapa-disapa mereka, sebagaimana aku tak … Baca Selengkapnya

Cerpen : Kawan Saya oleh Sasti Gotama

NYONYA Ji menggedor-gedor pintu saya. Terdengar bingar dan begitu mendesak. Meski saya yakin ia melakukan itu sambil tersenyum, karena ia memang selalu tersenyum, saya paham ketukannya itu mewartakan amarahnya. Kemarin ia menyuruh putranya, lalu putrinya, lalu suaminya. Kali ini Nyonya Ji tak sendiri. Ia bersama Bapak RT yang berkumis tipis, seorang satpam ceking, dan sepasukan … Baca Selengkapnya

Cerpen : Kawan Saya oleh Sasti Gotama

Nyonya Ji menggedor-gedor pintu saya. Terdengar bingar dan begitu mendesak. Meski saya yakin ia melakukan itu sambil tersenyum, karena ia memang selalu tersenyum, saya paham ketukannya itu mewartakan amarahnya. Kemarin ia menyuruh putranya, lalu putrinya, lalu suaminya. Kali ini Nyonya Ji tak sendiri. Ia bersama Bapak RT yang berkumis tipis, seorang satpam ceking, dan sepasukan … Baca Selengkapnya

Cerpen : Beruang Biru oleh Sasti Gotama

Gerbang Sekolah Al-Shati, 21 Maret 2008 Sebelum menyadari apa yang terjadi, tubuh mungil Rania melambung ke udara, lantas terempas ke tanah. Barusan terjadi ledakan, sangat keras, bahkan hingga kini telinganya masih berdenging. Sebelumnya ia mendengar suara mendesing dari langit dan ia mendongak: semacam laba-laba besi raksasa yang mengapung di udara. Sebelumnya lagi, saat keluar gerbang … Baca Selengkapnya

Cerpen : Bila Lelah oleh Sasti Gotama

Tatkala jaksa bertanya kepadanya, apakah ia menyesal, San, di balik bilik pesakitan, memejamkan mata sejenak, membuka kelopak, lantas tersenyum suam yang bisa melelehkan mentega mana pun yang terlalu lama disimpan di kulkas. ”Tentu saja saya menyesal,” ucapnya lembut dan tertata. ”Seharusnya saya tak langsung menikam pembuluh besar di lehernya, tetapi terlebih dahulu mengiris lidahnya yang … Baca Selengkapnya

Cerpen : Serbuk Ragi oleh Sasti Gotama

MESIN silindris itu langsung mendesing lembut dan mengedip-ngedipkan warna merah begitu kudekatkan gelang logam elektronikku ke pemindai. Palang pintu menuju supermarket tetap tertutup rapat. Petugas pintu melirikku sekilas, tetapi bisa kulihat sorot matanya yang mengasihaniku. Ia menunjuk ruangan yang berada di sebelah lorong kasir. “Setelah Anda selesai menyaksikan pesan layanan masyarakat, palang di sebelah sana … Baca Selengkapnya

Cerpen : Sima oleh Sasti Gotama

Kadiri, 1895 Ditembak karabijn di dada, dicambuk sampai mampus, ditebas kelewang tajam: Roemina telah membayangkan ribuan cara kematian, tetapi tak pernah terpikir olehnya dia akan berakhir sebagai selilit di sela-sela taring sima. BEGITU menatap sosok loreng itu, Roemina ingin lari, tetapi tubuhnya mendadak lunglai hingga dia jatuh terduduk. Sesaat dia lupa cara bernapas. Bebauan bunga … Baca Selengkapnya

Cerpen : Batavia yang Tak Sesuai Rencana Lucretia oleh Sasti Gotama

Selasa pagi 7 Juni 1898, seharusnya menjadi hari yang biasa bagi Lucretia van der Maas. Ia berencana menyiram gladiol jingganya yang baru berbunga, menerima kiriman sayur segar dari Catia, dan memanggang roti kismis bagi Bastiaan van der Maas, suaminya. Hidupnya selalu tertata dan ia tak ingin menyesali setiap detiknya. Karena itu, ia selalu merencanakan semua … Baca Selengkapnya

Cerpen : Segala yang Mati Harus Dikubur oleh Sasti Gotama

Kamis masih sejuk ketika Oma Nin menemukan kucing mati di bawah pohon kenari. Tubuh berbulu kelabu itu masih utuh, tetapi kepalanya lebih mirip kentang tumbuk yang disiram saus stroberi. Beberapa helai daun kering bertabur di atas perutnya yang luncai. Entah apa yang terjadi pada kucing malang itu. MUNGKIN seorang pengendara motor yang lamur melindas kepalanya, … Baca Selengkapnya

Cerpen : Sesaat sebelum Fajar oleh Sasti Gotama

Beku, teramat beku. Pendulum belum berdentang, apalagi kokok ayam jantan. Samudra masih jelaga. Konon, waktu terdingin adalah sesaat sebelum fajar. Nona, apakah ini dingin yang kamu ceritakan? — SEDETIK lalu, laut muntahkan aku. Tubuhku yang telanjang terdampar bersama pecahan botol soda, popok bekas pakai, dan sandal sebelah kanan. Laut asyik menjilati ujung jari tanganku yang … Baca Selengkapnya