Cerpen : Al Furqon, Sebuah Malam Sebuah Sajak oleh Toni Lesmana

  Malam. Bulan timbul tenggelam di lautan awan. Gerimis sesekali menyapa bumi dan mengabarkan langit masihlah ada. Namun tak benar-benar turun hujan. Sesekali segaris cahaya mengerjap dan gemetar di angkasa. Bukanlah kilat atau petir, hanya segaris cahaya mengerjap dan gemetar. Orang-orang di kampungku menyebutnya kingkilaban. Seperti sebuah isyarat atau gelagat. Kau ingin memahaminya, tapi bagiku … Baca Selengkapnya

Cerpen : Ziarah Kepayang oleh Martin Aleida

Jalan diapit sungai kecil, yang kami sebut bendar, tetap seperti ketika kulewati dulu. Jalan di mana orang-orang Tionghoa dari kota datang di musim berburu, dan pulang memanggul babi hutan yang masih berlumuran darah, hasil buruan yang ditinggalkan begitu saja oleh orang kampung yang mengharamkannya. Juga uangnya! Di jalan ini aku pernah terjerembab ditindih gerimis, mencium … Baca Selengkapnya

Cerpen : Kulihat Bulan seperti Es Krim Vanila oleh Eko Darmoko

Ketika bom meremukkan Gaza menjelang pembukaan Piala Dunia U-17 di Surabaya, aku justru dikirim ke Pulau Kyushu untuk liputan. Rasanya tak perlu aku ceritakan mengenai hari-hari liputanku di Kota Kitakyushu. Sebab, itu tidak penting dan tidak menarik. Yang penting dan menarik justru pertemuanku dengan perempuan di penginapan. MALAM hari, kira-kira selepas isya, aku diantar sopir … Baca Selengkapnya

Cerpen : Ordil Jadi Gancan oleh Gde Aryantha Soethama

  Dari bawah pohon sawo di sudut alun-alun, Ordil menatap bade tumpang sembilan itu dengan pandang berseri-seri, tapi juga dengan perasaan memuncak dengki. Dia girang, niat melampiaskan dendam sebentar lagi terpenuhi. Pada saat sama, kebencian membakar rongga dadanya, karena jenazah orang yang paling ia musuhi memperoleh kehormatan dibakar dengan menara megah bertumpang sembilan. Ordil melangkah … Baca Selengkapnya

Cerpen : Kriminalitas Meja Makan oleh Damhuri Muhammad

Persentuhan mula-mulanya dengan perkakas tajam berawal dari omelan-omelan ayahnya di meja makan saat ia masih berusia 9 tahun. Salman ingat betul raut muka jengkel ayahnya, hanya karena bawang goreng yang terhidang bersama lauk lain di meja makan tidak berbunyi kriuk-kriuk di mulutnya. ”Rasanya seperti mengunyah jamur mentah saja,” gumam ayahnya sebelum tergesa-gesa melepehkan kunyahannya melalui … Baca Selengkapnya

Cerpen : Lelakiku oleh Martin Aleida

Aku tak tahu apa niat Mbah membujuk kami menginap di rumahnya. Apakah dia merasa tidak layak, dan barangkali akan bikin geger seisi desa, bila lelakiku melewatkan malam di rumahku. Karena ibuku sudah menjanda. Atau dia hendak memerangkap kami berduaan belum waktunya, berbuat mesum. Kami merebahkan diri di amben yang terbuat dari belahan bambu. Kuhamparkan selendang … Baca Selengkapnya

Cerpen : Mata-mata di Kepala oleh Ni Komang Ariani

anpa harus dijelaskan, aku sudah paham. Sore itu, sehabis mandi dan rambutku masih basah, pintu kamar kontrakanku diketuk berulang kali. Tiga orang laki-laki berkaus hitam dengan rambut yang klimis menjemputku. ”Silakan, Bu. Ini waktunya.” Ketiganya tersenyum ramah. Sekilas, ketiganya tampak sebagai laki-laki baik. Namun, kedatangan mereka bukanlah untuk sesuatu yang baik untukku. Pengalaman pahitku sejak … Baca Selengkapnya

Cerpen : Ritual Makan Malam oleh Petrus Nandi

Ama duduk dekat tungku api yang masih membubungkan asap ke loteng dapur. Serentang tangan darinya, kami duduk bersila di atas tikar sembari menerima makanan dari tangannya. Seusai mengedarkan makanan, Ama mengarahkan tubuhnya ke sebuah piring kosong yang terletak di samping kanannya. Piring itu berukuran lebih besar dari piring-piring kami. Itu piring milikmu. Ia selalu ada … Baca Selengkapnya

Cerpen : Lebih Sunyi dari Gemerisik Daun Padi oleh Miranda Seftiana

eumur hidup yang belumlah seberapa panjang, yang ia cari adalah tenang. Namun, ia juga sepenuh paham, nasi yang telah tanak takkan serta-merta dapat berubah kembali menjadi padi di pematang. Gelisah yang menggelandangnya ke gelanggang pada hari ketika terik memanggang tak bisa berakhir hanya melalui langkah lintang pukang. Ia sudah di sini. Berdiri di atas truk … Baca Selengkapnya

Cerpen : Oma Tina oleh Selo Lamatapo

elesai doa Rosario Bulan Maria di rumah Oma Tina, Guru Joni mengajak istrinya untuk pulang. Tidak seperti biasanya. Karena itu, istrinya mengerutkan dahi dan menampakkan raut keheranan. Sebab, tuan rumah sedang menyiapkan minuman untuk mereka yang datang malam ini. Sebagaimana malam-malam sebelumnya di setiap rumah, mereka akan duduk minum dan mencicipi kue-kue yang dihidangkan tuan … Baca Selengkapnya