Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Lebih Sunyi dari Gemerisik Daun Padi oleh Miranda Seftiana

Posted on Ming, 11 Mei 2025

eumur hidup yang belumlah seberapa panjang, yang ia cari adalah tenang. Namun, ia juga sepenuh paham, nasi yang telah tanak takkan serta-merta dapat berubah kembali menjadi padi di pematang. Gelisah yang menggelandangnya ke gelanggang pada hari ketika terik memanggang tak bisa berakhir hanya melalui langkah lintang pukang. Ia sudah di sini. Berdiri di atas truk orasi, menggenggam megafon dengan kalut yang menggetarkan tangannya sendiri seusai tak bisa tidur hingga pukul tiga dini hari.

Segala kemelut yang membuatnya menutup naskah skenario jauh lebih cepat dari semestinya, lalu beranjak dari meja menghatur pamit kepada sang sutradara. Langkahnya yang tergesa diiringi tepukan di bahu, penanda segala restu dan doa. Semua pasang mata menatap dengan debar tak menentu. Kecuali milik Raga, manajer yang telah bersetia lebih dari satu dekade membersamainya.

”Dengan segala kerendahan hati, saya hadir di sini hanya sebagai seorang rakyat biasa dengan gelisah yang sama. Gelisah warga negara yang hatinya terkoyak melihat tanah ulayat dirudapaksa sampai kehilangan keramatnya!” suara lantang Elang menembus bentang gelombang manusia. Para pemilik sanubari yang sama-sama mengais sisa harapan terhadap wakilnya di Senayan.

Lelaki itu mengepak sayap pada hari perempuannya belum benar-benar siap. Namun, siapa yang sanggup benar-benar siap jika yang ia hadapi adalah retak? Tidak bagi Khayrra hingga layar ponselnya menyala, menayangkan rekaman yang sudah tersiar ke mana-mana, dan Elang, kekasihnya, berdiri dalam barisan demonstrasi massa.

”Negara ini bukan diwarisi oleh segelintir elite yang haus kuasa dan sumber daya tanpa peduli hari lusa. Negara ini milik kita semua yang bersedia mengelola dengan bijaksana.”

Napas Khayrra terhela. Ada kesal dan sesal yang mengisi palung hati perempuan dengan sorot mata sehangat biji kopi itu. Kesal karena Elang hanya bercerita agendanya hari itu akan reading script dengan sutradara di sebuah kantor rumah produksi belaka. Sesal karena ia tahu lewat media setelah ratusan akun menandai penampilan lelakinya di gedung DPR RI. Sesal karena ia bukan yang pertama mengirim doa agar Elang baik-baik saja. Selamat dunia akhirat meskipun baru saja berbuat nekat.

Semoga Tuhan menjagamu dari seluruh marabahaya.

Merangkum dari seluruh kata, aku menaruh bangga.

Selalu dan senantiasa

Pada akhirnya, kasih sayang membuat Khayrra mengirim pesan lebih dulu. Meski dengan tegukan ludah yang sepat, ia bersegera melangkah menuju sorot kamera untuk majalah ternama, bersamaan Elang yang melompat dari truk yang mengawaki demonstrasi.

Telepon genggam lelaki berambut serupa setandan mayang pinang itu berdering nyaring. Tidak lama setelah ia menepi dari kerumunan yang meneriaki betapa runyamnya kondisi negeri hari-hari belakangan ini. Dari nomor tak dikenali.

”Pulanglah, Nak. Ambil alih kemudi. Selamatkan periuk nasi seribu orang yang tidak hidup untuk dirinya sendiri.”

Suara bapaknya sendiri. Lelaki yang telah lama dianggap Elang mati, bahkan pada setiap kesempatan wawancara di sesi promosi film-film yang ia bintangi atau saat para penggemar mencoba mengetuk kehidupan pribadinya jauh lebih dalam dari semestinya. Elang memberi jarak lewat alasan yang ia karang dengan sempurna. Setidaknya sampai saat ini. Sampai hari sudut hatinya berdebat hebat antara dendam dan kemanusiaan. Sampai Raga menghampiri dengan kabar yang ingin Elang ingkari bahwa ia adalah putra raja tanpa mahkota. Ia yang memilih mangkat dari takhta. Hidup sebagai orang biasa hingga sorot kamera berita menangkap wajahnya di barisan massa pada hari ayahnya digiring KPK.

Sejak wajah mantan pejabat tinggi yang kini menduduki kursi direksi itu menghiasi layar kaca, Elang memilih menepi dari semua pemberitaan. Ia berupaya tuli dari segala tuding yang menghampiri, dari kecewa orang-orang yang merasa didustai. Padahal, ia tidak berniat apa-apa kecuali mencari secercah teduh dari gersang perpisahan yang telah menyakitinya bahkan sebelum air susu disapih ibunya.

Ia tidak berminat bertemu siapa pun jua. Tidak Raga, manajernya, tidak pula Khayrra, kekasihnya. Hingga langkah menuntunnya pulang ke sebuah rumah beratap sebatang ketapang kencana berdahan rindang. Tempat ibunya menanti dengan peluk paling lapang ketika hidup hanya menyisakan serpihan keberanian yang tak seberapa dalam diri Elang.

Guring anakku guring

Guring dalam buaian

Uma mangguringakan

Matanya suyuk bawa bapajam

Bapajam janak hampai baisukan

 Jauh rarawaian, jauhakan takutan

Kuitan damia manggaduh pian

Kada pacang saurangan manyaluh ari hujan

Kada bataha bakadap basusur jalan

Guring anakku guring

Anakku nang baiman wan parajakian

Allah Ta’ala ampun samunyaan

Ka Sidin sabarataan kasudahan

Mata yang pejam di atas pangkuan itu mendadak terasa panas. Ibunya menyenandungkan kembali syair pengantar tidur berbahasa Banjar Hulu dari tanah kelahiran Elang. Ia mengerjap dengan retina basah, menatap ibunya yang mengusap rambut hitam legam semayang pinang itu dengan penuh sayang. Mata keabuan yang penuh penerimaan ibunya tersenyum dengan sisa gerimis pula.

”Bu,” panggilnya dengan suara parau.

Ibunya hanya bergumam, masih setia mengusap kepala anak lelaki yang rebah di pangkuannya sedari petang hari tadi.

”Kenapa Ibu menerima saat Elang meminta menghabiskan hidup dengan mengikuti cara berdoa Bapak?”

Sekuntum senyum mekar sempurna dari sepasang katup bibir yang dipoles merah muda. Sungguhlah indah seruas wajah yang Elang pandang dari dagu ke dahi itu.

”Karena Ibu sudah menduga, suatu saat hari itu akan tiba.”

”Maksudnya?” Sepasang bola mata menunggu dengan tatapan tanya.

”Kamu dikandung dan dilahirkan saat Ibu masih berdoa dengan cara yang sama dengan Bapak. Tangis pertamamu dihantar Bapak dengan suara azan paling merdu yang pernah Ibu dengar meskipun dikumandangkan dengan suara bergetar. Kalau sembilan tahun lalu, kamu masih berdoa cara Ibu, semata-mata karena hanya itu yang Ibu tahu untuk mengajarimu.

Ketika kemudian kamu memilih sendiri caramu—yang sama dengan Bapak—tidak ada alasan bagi Ibu menolak. Sebab, sebaik-baik manusia bukan perihal caranya berdoa, tapi larik doanya yang mestinya memuat kasih ke siapa saja. Baik cara Ibu maupun Bapak, sama-sama mengajarkanmu kasih bukan?”

”Kalau memang sama, mengapa Ibu dan Bapak memutuskan menempuh jalan yang berbeda?” uliknya bagai tak puas hati.

Namun, seorang ibu, sebagaimana di mana-mana, adalah tanah lapang yang sedemikian ikhlasnya menampung genangan hujan meski sebagai tanah ia mesti tenggelam. Ibunya Elang pun bukan pengecualian.

”Karena tidak pernah ada pendayung paling ulung sekalipun yang sanggup membuat dua sampan berarung bersamaan. Ibu memilih menepi sebelum tenggelam dalam arus pengkhianatan.”

Cekat serasa membelit leher Elang. Udara bagai sempit seketika. Mengimpit dadanya. Ia tahu lelaki itu telah membina keluarga yang tiada memuat dirinya juga ibunya. Akan tetapi, Elang tak pernah tahu, pengkhianatan menyertai alasan ibunya menggendong ia meninggalkan tangga rumah panggung berbahan papan di tepi sungai 32 tahun silam.

”Petang sebelum Bapak digelandang sebagai pesakitan, ia sempat menelepon Elang, meminta pulang. Kalau Elang tidak mau pulang untuk seorang yang telah menyuguhkan pengkhianatan itu, bukan kesalahan kan?”

Ibunya mengangguk. ”Memang bukan kesalahan dan memang bukan untuk itu kamu pulang. Bapakmu sudah melunasi rasa bersalahnya seorang diri. Tidak ada yang mewarisi darah dan dagingnya selain kamu. Pulanglah, bukan untuk membela diri siapa pun juga. Akan tetapi, untuk menebus utang hati pada tanah ulayat yang ia tebas, pada gemetar tangis para ibu yang anak bayinya terbatuk menghirup debu, juga tulang belulang yang tidak bisa diziarahi karena nisannya berganti patok-patok batas perusahaan Bapak.”

”Lang,” bisik Ibunya. ”Gelanggang Samudera Sjaifroeddin.”

Sesaat segalanya terasa lebih sunyi dari gemerisik dedaun padi. Tiada yang Elang dengar lagi selain deru napas sendiri dan suara ibunya memanggil dengan nama kecil yang telah lama ia tanggalkan tanpa ingin mengingat lagi. Meski jelas tidak bisa. Sebab, takdir bukan ia pemegang penanya.

Pagi temaram dengan lembar-lembar surat kabar terhampar di atas meja kaca. Secangkir kopi telah mendingin tanpa sesap berarti. Khayrra duduk menghadapnya. Jemari lentik itu berkali-kali mengeja setiap judul berita yang membuat gegar gempita berbagai media. Tatapnya nanar pada foto seorang lelaki yang bersila di sebuah terpal terhampar di bawah dahan teduh Gandaria. Foto yang disertai bermacam cerca perihal warisan, sengketa, pengkhianatan, kuasa, dan nama ganda yang disandang lebih dari satu dekade.

Semua bicara, sebagian memberi penghakiman, nyaris sedikit yang bersikap biasa. Khayrra berusaha menjadi salah satunya. Menjadi garda pada malam sebelum Elang terbang ke sarang masa kecilnya seusai sebuah akta usaha memuat namanya sebagai direktur utama pengganti ayahnya yang menghadapi pengadilan negara.

”Dosa masa lalu diri dan keluargaku terlalu panjang membentang, Khay. Suatu hari nanti bisa jadi menuntut lebih lantang daripada saat ini. Aku ragu bisa memberikan ketenangan hidup ke kamu.”

”Manusia mana yang tidak punya dosa di belantara kehidupan ini? Bahkan seorang nabi yang paling Tuhan kasihi,” tutur Khayrra. Degup menyertai getar bibirnya. ”Apalagi kita yang hidup terlalu dekat dengan akhir zaman. Karena itu, Tuhan menitip doa untuk meminta diampuni dari dosa yang terdahulu dan yang terkemudian, dosa yang kamu nyatakan dan sembunyikan, bahkan dosa-dosa yang Tuhan lebih mengetahui tentangnya daripada kita sendiri. Semata-mata supaya kita tahu, kasih sayang Tuhan melampaui rasa marahnya.”

Elang tak menyahut apa-apa. Diraihnya tubuh Khayrra ke dalam dekap. Membenamkan kepala pada ceruk bahu perempuannya. Lama. Demikian lama. Seperti tidak pernah ingin hari esok tiba dan dunia kecil yang hangat meskipun penuh rahasia punya mereka menjadi milik publik juga. Sebab, Elang pernah terlampau lantang, kini ia hanya ingin pulang dengan tenang.

Miranda Seftiana, lahir di Hulu Sungai Selatan. Merampungkan pendidikan di Psikologi Fakultas Kedokteran Unlam. Karyanya dengan judul Jendela Seribu Sungai dan Semusim Setelah Kemarau telah diadaptasi menjadi film yang tayang pada tahun 2023 dan 2025. Karya lainnya berjudul Lalu Tenggelam di Ujung Matamu (2019) terpilih dalam sayembara novela. Cerpen Miranda turut terhimpun dalam buku Kumpulan Cerpen Pilihan Kompas 2015, 2017, 2019, dan 2023. Miranda juga terpilih sebagai emerging writers untuk Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) tahun 2024.

RB Ali, seniman kelahiran Lampung. Belajar melukis secara otodidak. Puluhan kali mengadakan pameran bersama dan setidaknya delapan kali pameran tunggal sejak tahun 2012.

sumber : harian Kompas edisi 11 Mei 2025 di halaman 10 dengan judul “Lebih Sunyi dari Gemerisik Daun Padi”.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme