Cerpen : Tanah Leluhur oleh Beatrix Polen Aran

DARI dalam kamar tidurnya, Martina, perempuan tua renta berumur menjelang seratus tahun berteriak histeris setelah mendengar suara derit rem mobil yang berhenti di halaman rumah. Lalu, suara pintu tergesa-gesa dibuka oleh cucunya yang baru saja menamatkan pendidikan sekolah dasar. Tentu saja, ledakan suara Martina menyedot perhatian seisi rumah. Apa sebab? Itu suara Mar, kan? Mana … Baca Selengkapnya

Cerpen : Di Antara Cericit Burung, Dedaunan Bersaksi oleh Dody Widianto

KETIKA Mad kemudian menarik lengan Din lebih keras untuk mengikuti langkahnya menyusur jalan menuju atas bukit, ia lihat nama di nisan terlalu banyak nama laki-laki. Entah itu nama anak-anak atau nama dewasa, tidak ia lihat di sana nama perempuan. Ada memang, ia melihatnya satu saja di antara banyak nama lelaki yang lain. Nama perempuan itu … Baca Selengkapnya

Cerpen : Menunggu oleh L Malaranggi

APALAH arti menunggu jika seseorang tak kunjung datang, apalah arti menunggu jika yang ditunggu tak kunjung menemu. Apalah arti tentang menunggu itu, menunggu mungkin sesuatu yang setiap detik mempunyai sekilas bayangan yang berkaitan dengan waktu, perasaan dan hal yang menyangkut harga diri seseorang. Janji-janji, berbagai kata yang terucap sirna. Sebenarnya kenapa orang menunggu, mengapa ia … Baca Selengkapnya

Cerpen : Lelaki yang Dibeli Ayah oleh Efri Yeni

PELAN langkahku masuk ke ruangan berbau obat. Dingin menggigit, hening mencekam. Pada sebuah tempat tidur yang dikelilingi tirai berwarna biru. Di atasnya terbaring lelaki berambut putih yang terlelap menelan perih. Selang-selang menempel, nafasnya terhubung pada tabung besar oksigen. Tampak Ayah tertidur pulas. Aku mematung dua langkah darinya. Seperti pesan ibu di luar, Ayah baru saja … Baca Selengkapnya

Cerpen : Api di Atas Seribu Papan oleh Intan Andaru

SAAT itu, harum kayu gaharu mampu menembus hutan dan lautan. Banyak kapal baru dengan geladak penuh karung yang siap dijual hingga ke negara jajaran timur tengah. Gaharu adalah inti magnet, sementara kapal-kapal itu adalah serbuk besi yang menempelinya. Tanah dipetakan. Hutan berisi gaharu lalu disewa dengan segepok uang. Para lelaki meninggalkan jew, rumah bujang mereka, … Baca Selengkapnya

Cerpen : Karma Darah Mela oleh Dea Renaizah

NONGKRONG di kafe setelah acara reuni selesai. Aku dan teman-temanku bersantai memesan makanan. Kami datang terpisah dan janjian berkumpul melepas penat di sini, kafe langganan yang sering kami jadikan tempat untuk diskusi, pelayannya ramah dan sudah mengenalku dan teman-temanku. Biasanya aku membawa laptop, melakukan pembicaraan perihal pesantren, terutama tentang TPQ yang sudah lebih tiga tahun … Baca Selengkapnya

Cerpen : Semerah Darah oleh Beatrix Polen Aran

SELEPAS hujan, selalu saja tanah memerah, beberapa tetes darah segar menyusup ke dalam celah-celah bebatuan. Rerumput membiak dengan cepatnya, juga akar-akar pohon yang berusaha mengimbangi—terburu-buru mencengkeram tubuh tanah. Pertikaian yang terjadi meregang nyawa Kopong, seorang tetua kampung yang dikabarkan mati terbunuh di atas tanah berdarah itu. Potongan-potongan tubuhnya terserak bagai binatang yang selesai dibantai, lalu … Baca Selengkapnya

Cerpen : Sepulang Haji oleh Dadang Rhubido

I “SELAMAT Datang Haji Sulaiman dari Tanah Suci Mekkah.” Sebuah tulisan terbaca dengan jelas yang tergantung di sisi kiri-kanan tenda. Tenda itu membujur hingga seukuran lebar tiga rumah. Di bawahnya sudah tersusun kursi Elephant merah. Serta menggantung lampu mercury menyala terang mengalahkan gelap malam. Di atas meja tersaji berbagai kudapan khas Timur Tengah: kurma, kismis, … Baca Selengkapnya

Cerpen : Laki-Laki yang Mencumbu Residu oleh Heru Patria

ULAR-ULAR virtual merayap binal menyusuri kanal-kanal digital. Bermodal paket internet dan sinyal, setiap saat membuat dengan kalimat-kalimat gombal. Tak peduli janggal yang penting bisa terus membual. Dunia memang sedang janggal. Sesuatu yang tak masuk akal justru cepat menjadi viral. Sesosok lelaki kumal merasa terjungkal. Hidup dilanda sial. Penuh modal ia mencoba untuk menjual ide-ide milineal. … Baca Selengkapnya

Cerpen : Tanah Terjanji oleh Safry Dosom

SETELAH kemarin peti mati itu tiba, tangisan Elisabeth pun berlarut-larut sampai berhari-hari. Matanya membengkak dan suara tangisannya mulai serak. Badan menjadi lemah tak berdaya. Berkali-kali ia menyebut nama suaminya yang terbaring kaku itu, tetapi tetap saja dari tidurnya sama sekali tidak memberikan jawaban. Berkali-kali ia mencium keningnya, tetapi tetap saja tidak ada balasan yang sama … Baca Selengkapnya