Cerpen : Tanah Leluhur oleh Beatrix Polen Aran

DARI dalam kamar tidurnya, Martina, perempuan tua renta berumur menjelang seratus tahun berteriak histeris setelah mendengar suara derit rem mobil yang berhenti di halaman rumah. Lalu, suara pintu tergesa-gesa dibuka oleh cucunya yang baru saja menamatkan pendidikan sekolah dasar. Tentu saja, ledakan suara Martina menyedot perhatian seisi rumah. Apa sebab? Itu suara Mar, kan? Mana … Baca Selengkapnya

Cerpen : Semerah Darah oleh Beatrix Polen Aran

SELEPAS hujan, selalu saja tanah memerah, beberapa tetes darah segar menyusup ke dalam celah-celah bebatuan. Rerumput membiak dengan cepatnya, juga akar-akar pohon yang berusaha mengimbangi—terburu-buru mencengkeram tubuh tanah. Pertikaian yang terjadi meregang nyawa Kopong, seorang tetua kampung yang dikabarkan mati terbunuh di atas tanah berdarah itu. Potongan-potongan tubuhnya terserak bagai binatang yang selesai dibantai, lalu … Baca Selengkapnya

Cerpen : Bolehkah Jual Tanah Beli Beras? oleh Beatrix Polen Aran

PERCAKAPAN di ruang tamu terdengar kian lantang. Suasana yang semula adem ayem saat Ina Peni—perempuan berwajah bopeng itu menyodorkan beberapa gelas teh hangat ke hadapan anak-anaknya sambil melebar senyum. Tito anak laki-laki pertama meneguk sambil berucap lirih harga beras naik, dan pagi ini kita harus makan singkong dengan lauknya ikan teri berbalut tomat. Wajah Maria … Baca Selengkapnya

Cerpen : Perihal Pulang oleh Beatrix Polen Aran

Aku membayangkan sebuah pulang yang asing. Malam yang basah selepas rinai hujan. Saat bau tanah menguap ritmis, menimbulkan aroma kerinduan pada kehidupan yang telah lalu. Ketika mengangkat wajah, tak ada apa-apa yang nampak di bola mata. Gelap. Pekat. Tak terasa sepoi angin mencumbu kulit. Entah itu, harum bau kemenyan yang masih tertangkap raga—menimbulkan gelisah yang … Baca Selengkapnya

Cerpen : Kado dari Guru Honor oleh Beatrix Polen Aran

”Zaman sekarang ternyata seorang dokter juga bisa menjadi guru, bukan hanya seorang guru,” ujar Pater Ola pada perayaan pancawindu sekolah yang terletak di ujung timur sebuah kabupaten. Emak-emak dan juga anak-anak meledakkan tawa di bawah sebuah tenda dengan bara panas matahari yang memanggang ubun-ubun. Istri kepala sekolah gerah, kenapa juga pastor paroki dengan entengnya membanding-bandingkan … Baca Selengkapnya

Cerpen : Doa yang Lalu Lalang oleh Beatrix Polen Aran

Petrus benar-benar mati, setelah mengalami beberapa kali kematian yang belum sempurna. Sedianya, setelah matahari rebah ke barat, Petrus mengira situasi yang dialami sebelumnya terulang. Ia mondar-mandir dengan segenap hati yang kusut. Pada sudut matanya yang lelah ia mengerdip. Deretan nisan dan onggokan kayu bertuliskan Rest in Peace mengusik nanap batinnya. Lengkingan ratapan kematian mendayu-dayu pada kupingnya, bersahut-sahutan … Baca Selengkapnya

Cerpen : Guru Tinus Sudah Merdeka? oleh Beatrix Polen Aran

Mengapa sudah separuh umur, guru Tinus masih saja menyandang status guru honorer? Padahal, kalau mau dibilang, guru Tinus telah lama berbakti kepada negara lewat cara sederhananya mendidik anak bangsa, dari yang tidak tahu membaca, menulis dan berhitung menjadi tahu. Setiap kali guru Tinus menatap mata murid-muridnya, ia merasa melihat masa depan yang kian merapat erat … Baca Selengkapnya

Cerpen : Pastor Ola oleh Beatrix Polen Aran

SETIAP subuh sebelum orang-orang kampung pergi melaut dan ke kebun, Pastor Ola sudah berada di taman bunga persis depan gereja, membersihkan lalu merawat aneka bunga layaknya tubuhnya sendiri. Memindahkan batang-batang bunga yang mulai mengering pun dedaunan yang nampak kuning ketuaan. Kolam ikan berukuran kecil-permanen, dibuatnya dari sisa-sisa semen pembangunan aula paroki. Ikan-ikan kecil dipelihara di … Baca Selengkapnya