Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Guru Tinus Sudah Merdeka? oleh Beatrix Polen Aran

Posted on Sab, 16 Sep 2023

Mengapa sudah separuh umur, guru Tinus masih saja menyandang status guru honorer? Padahal, kalau mau dibilang, guru Tinus telah lama berbakti kepada negara lewat cara sederhananya mendidik anak bangsa, dari yang tidak tahu membaca, menulis dan berhitung menjadi tahu.

Setiap kali guru Tinus menatap mata murid-muridnya, ia merasa melihat masa depan yang kian merapat erat ke punggungnya. Pada bilik kamar yang sedikit pengap, ia tumpahkan segala perasaan lewat sebatang lilin bernyala kepada Tuhan.

Ia berkisah tentang murid-murid yang ia jumpai di dalam kelas, di halaman sekolah, di pojok perpustakaan, di tiang bendera, juga pelataran ruang guru. Kepada seorang anak yang bersimpuh menangisi masa depannya di ruang kepala sekolah, sebabnya adalah orang tuanya belum membayar iuran sekolah.

Maklum, musim mente tahun ini tidak memberikan hasil apa-apa, ditambah lagi intensitas curah hujan yang tinggi membuat bijinya menghitam-tak layak dijual. Perempuan berambut ikal pendek yang bersimpuh dengan kepala tertunduk dalam di depan wajah guru Tinus-telah diselamatkan olehnya semester yang lalu.

Guru Tinus berjalan perlahan keluar dari bilik kamar, terus ke dapur, merapikan tungku api yang mulai lapuk batunya .

”Makin susah saja,” bicaranya pada dirinya sendiri.

”Harusnya aku sudah menjadi seorang aparatur sipil negara seperti Pak Ola. Mengapa nasib tak pernah berpihak?” tambahnya dengan berlinang air mata.

Guru Tinus mengerat sabut kelapa kering menggunakan giginya yang kokoh, menaruhnya di atas tungku dan mulai menyalakan api. Asap membubung tinggi memenuhi permukaan bilik kamar berbaur dengan gelombang perasaan yang tak kuasa ia arungi.

”Bummmm!” pukulan keras sang istri mengenai benda-benda yang terletak di atas meja.

Satu per satu berserakan di atas lantai. Guru Tinus terperangah, diam seribu bahasa, disusul anaknya yang tunggal dan keras kepala itu membanting pintu.

”Ada apa? bisakah kita bicara baik-baik?” guru Tinus merendah.

”Ayah, kapan ayah jadi seorang Aparatur Sipil Negara? Bosan melihat ayah terus-terusan menjadi seorang guru honorer, patuh dan taat pada aturan sekolah. Sedangkan, banyak guru-guru Aparatur Sipil Negara yang lalai,” kata-kata anaknya lebih tegas dan guru Tinus tampak merenung mendengarnya.

Kalau saja saat ini ia telah menjadi seorang ASN, ia ingin agar istri dan anaknya tahu satu hal bahwa uang akan mengubah segala hal terutama komitmen diri. Memang sejak awal, guru Tinus juga berambisi demikian dan ingin membawa serta anak dan istri pergi sejauh-jauhnya dari kampung-tempat ia mengajar.

Tapi, lambat laun semua pikiran itu berubah.

Langit mendung tipis menggantung, sebentar lagi hujan turun. Wajah istri turut kusam.

***

Sepuluh kali berturut-turut guru Tinus mengikuti seleksi Pegawai Negeri Sipil. Biasanya, kalau jadwal ujian siang atau sore hari di Kota. Ia lebih dahulu bangun pagi, kira-kira jam lima. Merapalkan doa pada Tuhan yang tergantung di salib di bilik nan pengap itu.

”Tuhan, hari ini aku ikut ujian. Hasilnya tergantung kehendak-Mu.”

Sesudah itu, ia mencedok air dengan timba pada sebuah sumur tua yang terletak persis di belakang sekolah. Anak dan istrinya masih lelap-lelapnya menikmati alas tidur yang terbuat dari kain nampak sobek pada pinggirnya.

Usai mandi, guru Tinus pergi menemui kepala sekolah meminta restu. Embun pagi melekat di kaca setengah retak, jalanan penuh debu ia lewati dengan sukacita tatkala telapak kakinya melepuh pada bebatuan nan tajam dan terbakar bara matahari.

Potongan celana berwarna biru tua dari bahan kain murah, juga baju yang sedikit kumal, membungkus tubuhnya. Di tengah jalan perutnya terasa lapar, tak seorang pun yang mengenalnya. Ia menyandarkan tubuhnya, sampai tengkuknya terbenam di toko kecil. Akhirnya ia memutuskan untuk menemui kenalan, yang adalah mantan anak muridnya.

Sayangnya, rumah itu terletak jauh di atas bukit. Ia tergopoh-gopoh mendaki dengan kepala setengah tengadah pada langit, agar nafasnya lebih leluasa. Begitu guru Tinus sampai di pintu rumah, seorang mantan anak muridnya itu berlari membopong tubuhnya.

”Guru, jangan pingsan,” kata Maria sambil membaringkan tubuh guru Tinus di sofa.

Maria membayangkan seandainya dulu guru Tinus tak mengajarnya di sekolah, tak mendidiknya saat ia melakukan kesalahan, tentu saja saat ini, ketika guru Tinus pingsan, ia sama sekali tidak peduli bahkan menutup pintu dengan keras.

Guru Tinus segera sadar lalu terbangun.

”Guru, kakimu melepuh,” Maria menunjuk-nunjuk ke arah kaki guru Tinus. Untungnya, Maria selalu menyediakan obat dan sepasang sandal di bawah tempat tidurnya.

Segera diobatinya dan mengambil makanan lalu menyuruh guru Tinus makan. Matahari condong ke barat, guru Tinus melanjutkan perjalanannya.

Sesampainya ia di kota, tepatnya di lokasi ujian ia mengganti pakaian dan masuk ke dalam ruangan.

Apa yang akan diisi guru Tinus, guru kampung itu? Nyatanya, setiap hari ia hanya berhadapan dengan siswa, guru, tenaga pendidik tanpa berhadapan dengan komputer atau laptop atau sarana yang berurusan langsung dengan jaringan internet. Pada layar komputer bertuliskan: ”Silakan login nama dan password Anda!”

Bola matanya mengitari sekeliling, wajahnya pucat paci, keringat berdesak-desakan keluar menimbun pada mouse, sebagiannya mengalir pelan di atas meja.

Dalam hati kecilnya ia berdoa; ”Tuhan, ini sudah kali yang kesekian. Tapi mengapa aku terlalu takut menekan huruf-huruf pada komputer?”

”Ah, sial. Benar-benar guru gatek alias gagal teknologi,” guru Tinus berang pada dirinya sendiri.

Tanpa malu-malu, ia mengacungkan tangan lalu menanyakan kepada petugas penjaga ruangan.

Ia dituntun untuk menyelesaikan soal sebanyak seratus nomor dengan durasi waktu seratus dua puluh menit, bonus waktu dua puluh menit.

Beres selesaikan soal, sebagaimana biasa guru Tinus menanggalkan alas kaki, menyimpannya dalam tas lalu pulang ke kampung.

***

”Lapor, Pak. Aku sudah mengikuti ujian tes PNS,” guru Tinus menghadap langsung di ruang kepala sekolah.

”Bagaimana soalnya guru Tinus?” Kepala sekolah bertanya ingin tahu sambil melemparkan senyum kecil.

”Soalnya mudah. Yang sulit itu cara me-login komputer agar bisa mengerjakan soal,” jawab guru Tinus apa adanya.

Guru Tinus segera membalikkan tubuh dan pergi dari hadapan Kepala sekolah.

Hati kecilnya berperang! Kalau tetap menjadi guru honorer seperti ini, istri dan anakku makan apa? Apakah aku bisa menyekolahan anakku? Ia kembali masuk ke ruang Kepala sekolah.

”Pak Kepala, aku pinjam uang lima ratus ribu. Apakah Bapak bersedia? Begitu dapat uang aku ganti,” kata guru Tinus dengan suara memelas.

Atas kebesaran hati Kepala sekolah, guru Tinus dipinjamkan uang senilai lima ratus ribu rupiah.

Uang itu ia putar untuk pembayaran awal pembelian anak babi untuk dipelihara. Banyak untungnya! Selain itu, pekerjaan sampingan lainnya seperti mengumpulkan kayu bakar untuk dijual di pasar. Jadwal mobil masuk ke kampung tiga minggu sekali, jadi ia manfaatkan waktu itu sebijak mungkin.

Tak urung, ia meminta lahan pada orang kampung untuk digarap sekadar menanam ubi, pisang dan sisanya ia tanam padi. Ini ia lakukan untuk menghemat pengeluaran.

Malam harinya, ia siapkan keturak untuk menangkap ikan, mencari siput laut, gurita, cumi-cumi serta agar-agar laut. Rupanya ia guru dengan segudang talenta tanpa harus menadah perut pada pemerintah yang tak tahu ujung pohonnya.

Menunggu honor daerah, tidak mungkin! Yang mungkin, hanya honor komite sebulan tiga ratus ribu rupiah. Itu pun kalau orang tua lancar membayar iuran sekolah

Istri dan anaknya itu baru menyadari kehadiran sosok ayah seperti guru Tinus-seorang guru honorer yang menjelma menjadi tiang kokoh, tempat mereka membentang harapan menuju rumah tangga yang sempurna.

Keduanya tak mengeluarkan sepatah kata pun.

Sudah pukul 17.00. Sepi di luar rumah. Hanya terdengar dentang lonceng gereja. Gemuruh dari dalam hati guru Tinus. Ia langkahkan kaki melewati lorong sempit dan langsung menuju gereja.

Malam itu ada pemilihan pengurus gereja, guru Tinus turut serta ambil bagian.

Buat beberapa saat ia merasa tak tahu apa yang akan dikatakannya semacam tak siap menerima tugas yang teramat berat itu. Lagi, mengapa mesti guru Tinus yang menjadi pengurus inti gereja?

Dan ia tidak menyesal sama sekali memikul beban itu.

***

Suasana di sekolah semakin hiruk-pikuk setelah beredarnya informasi bahwa seluruh tenaga honorer akan diberhentikan layaknya tenaga honorer di instansi pemerintahan. Miris.

Guru Tinus menggeleng-gelengkan kepala. Sebuah isyarat yang tidak sia-sia. Guru Tinus merasa gamang kalau-kalau di umur yang semakin menua itu, ia akan kehilangan pekerjaan sama sekali.

Ia berpikir, masih baik tidak menjadi seorang ASN. Tidak menjadi seorang guru? Mau jadi apa anak-anak negeri ini?

Di dalam gereja, guru Tinus duduk berhadapan dengan meja altar. Ia berdoa, sekiranya informasi yang baru didengarnya itu tak benar. Ya, tak benar-benar jadi!

”Tuhan, tantangan apalagi yang harus kuhadapi? Salib ini terlampau berat. Kami hanya perantau.”

Bahkan Tuhan Yesus pun ketika di jalan salib yang berat dengan tenaga yang masih tersisa, ia jatuh tersungkur tiga kali.

”Haruskah aku, seorang guru honorer, guru kampung sanggup memikul salib?”

Tampaknya guru Tinus mulai terbawa suasana. Entahlah. Bagaimana guru Tinus harus bersikap, Tuhan menatapnya dari atas salib dan menyunggingkan senyum.

Keterangan:

Keturak: alat untuk menangkap ikan (dalam bahasa Lamaholot Flores Timur)

Beatrix Polen Aran, guru kampung di SMP Negeri 3 Tanjung Bunga. Ujung timur Kabupaten Flores Timur, NTT. Aktif menulis di media lokal dan nasional. Bergiat di Nara Teater

sumber : kompas.id, 16 Sep 2023.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme