Cerpen : Dua Kisah tentang Joko Pinurbo oleh Satmoko Budi Santoso

SALAH satu moda transportasi darat yang disukai pakar pembuat puisi alias penyair Joko Pinurbo adalah becak. Saya pernah menjumpai Joko Pinurbo naik becak sendirian di jalanan kota Yogyakarta puluhan tahun silam. “Wah mau ke mana Pak Penyair kok naik kendaraan roda tiga berbadan tambun,” kata saya. “Biasalah penyair harus bisa melengkapi kegembiraan dengan menyusuri kota … Baca Selengkapnya

Cerpen : Kata Tak Sampai oleh Novita Riski Utami

SATU buah ubi rebus ini hanya cukup dihabiskan berdua. Tapi lelaki renta itu justru membaginya menjadi lima. Untuk dirinya sendiri dan keluarganya, hari ini bahkan juga esok hari. Tak ada beras maupun telur. Petang tadi, bapak menemukan sekaleng camilan. Hanya ada remah-remah di dalamnya, tapi tetap dibawa pulang dengan riang. Serpih yang kerap orang lain … Baca Selengkapnya

Cerpen : Pancawara Paringkel oleh Dody Widianto

MENURUT primbon, Bapak percaya hari ketiga selanjutnya dari weton kelahiran adalah hari sial yang sudah ditakdirkan. Sejujurnya, di era yang serba digital ini, aku kadang meragukan isi buku primbon yang diwariskan Eyang Kakung. Namun, Bapak selalu berujar, orang Jawa itu punya ilmu titen, ajaran yang meyakini jika segala sesuatu akan terjadi karena pemahaman yang dulu-dulu … Baca Selengkapnya

Cerpen : Bansos oleh Satmoko Budi Santoso

KARMIN lagi-lagi cemberut. Dirinya kembali merasa sebagai orang yang paling sial sekampung. Penyebabnya sederhana, tiap kali ada bagi-bagi jatah Bantuan Sosial atau Bansos, dirinya selalu kelewatan. Padahal, dirinya juga berkategori miskin. Buktinya, misalnya, rumahnya yang biasa saja. Belum dikeramik, listrik juga masih golongan paling rendah. Pekerjaannya juga masih serabutan. Jika malam tiba dirinya juga hanya … Baca Selengkapnya

Cerpen : Mendekati Ajal oleh Putri Oktaviani

BAU busuk menusuk hidung Oji di rumahnya. Wajah kusamnya menatap jendela teralis besi. Melihat orang-orang baru pulang mengaji tujuh harian kematian tetangga dermawan di kampungnya. Perutnya keroncongan, karena sejak lima hari lalu tak diisi nasi. Dia hanya berharap salah satu tetangga berkunjung ke rumahnya, mengetuk pintu, dan memberikan besek berisi makanan hasil pengajian. Tetapi harapannya … Baca Selengkapnya

Cerpen : Menunggu Bapak oleh Marisa Rahmashifa

AKU mengabaikan perintah Ibu, membiarkan batu itu tetap mengganjal pintu rumah hingga membuat tubuhnya menggigil oleh angin malam. Sekembalinya dari kamar dengan membawa jaket, bantal, dan selimut, ia mematikan televisi. Lalu, memandangiku yang tak berhenti menggambar wajah Ayah dengan runcing bambu untuk layangan. “Tidurlah! Bapakmu tak akan pulang,” tukas Ibu untuk yang kesekian kali. Lekas … Baca Selengkapnya

Cerpen : Siapa Parkir di Situ? oleh Teni Puji A

“KURANG ajar!” Rustam mengumpat kasar. Mukanya merah padam melihat mobil yang untuk ke sekian kali terparkir di depan pagar rumahnya. “Bu! Ibu!” Rustam berteriak-teriak memanggil istrinya. Masih mengenakan mukena, istrinya tergopoh keluar dari kamar menuju teras depan. “Ada apa, Pak?” Tak ada jawaban. Rustam hanya mendelik tajam, menunjuk ke arah luar pagar. Istrinya menoleh ke … Baca Selengkapnya

Cerpen : Dua Kepak Sayap oleh Marisa Rahmashifa

 APAKAH aku akan mati? Pertanyaan itu sekonyong-konyong terlontar di usiaku yang masih empat tahun. Aku menunggu jawaban Ayah. Entah, ia mendengarku atau tidak. Kuulangi pertanyaan itu sekali lagi. “Ya,” jawabnya ringan. “Setelah itu bagaimana?” tanyaku lagi. “Menjadi bidadari,” ujarnya. “Apakah bidadari bersayap?” Dan Ayah hanya mengangguk. Sejak itu aku menggambar paras bidadari. Mahkotanya seperti rumpun … Baca Selengkapnya

Cerpen : Makhluk Tanpa Kepala oleh Iis Suwartini

TANGIS Nunik pecah, orang-orang mulai berdatangan. Ia tak lagi mampu menahan kepedihannya. Anaknya raib begitu saja. Tak ada seorang pun yang mengetahui keberadaan buah hatinya. Sementara Tarjo sibuk menyiapkan kembang tujuh rupa, kemenyan, juga dupa. Tarjo tak henti-hentinya merapal mantra. Ia berputar-putar mengelilingi rumah sebanyak tujuh kali sambil menaburkan garam ke atap rumah. Orang-orang yang … Baca Selengkapnya

Cerpen : Geger Kerbau Pak Danu oleh Fuad Zawatri

DESA Gardusewu geger. Banyak warga yang sudah berkumpul di halaman dan sekitar Balai Desa. Hari itu kerbau Pak Danu akan disidangkan. Orang-orang ramai membicarakan ulah kerbau milik pensiunan tentara itu. Persidangan itu untuk menghakimi kerbau Pak Danu yang telah mengamuk tiga hari yang lalu. Kerbau itu sudah mengobrak-abrik kebun buah dan sebagian garasi mobil Pak … Baca Selengkapnya