Cerpen : Pil Mimpi oleh Dody Widianto

Ternyata kami berjumpa untuk berpisah. Setelah persidangan singkat itu, ayah melambaikan tangan untukku. Tiba-tiba ada yang berembun di sudut mata. Harapan dan mimpi menjadi penyanyi yang pernah kami ceritakan dulu saat berboncengan sepeda bersama ke sekolah hingga sepatuku kadang loncat terlepas, bermain busa-busa dalam ketelanjangan saat mandi sambil mengepalkan tangan ke angkasa, berjanji akan jadi … Baca Selengkapnya

Cerpen : Di Antara Cericit Burung, Dedaunan Bersaksi oleh Dody Widianto

KETIKA Mad kemudian menarik lengan Din lebih keras untuk mengikuti langkahnya menyusur jalan menuju atas bukit, ia lihat nama di nisan terlalu banyak nama laki-laki. Entah itu nama anak-anak atau nama dewasa, tidak ia lihat di sana nama perempuan. Ada memang, ia melihatnya satu saja di antara banyak nama lelaki yang lain. Nama perempuan itu … Baca Selengkapnya

Cerpen : Pancawara Paringkel oleh Dody Widianto

MENURUT primbon, Bapak percaya hari ketiga selanjutnya dari weton kelahiran adalah hari sial yang sudah ditakdirkan. Sejujurnya, di era yang serba digital ini, aku kadang meragukan isi buku primbon yang diwariskan Eyang Kakung. Namun, Bapak selalu berujar, orang Jawa itu punya ilmu titen, ajaran yang meyakini jika segala sesuatu akan terjadi karena pemahaman yang dulu-dulu … Baca Selengkapnya

Cerpen : Ricardo Melukis Natal oleh Dody Widianto

Sunyi di kepalanya sering ia tuang ke dalam beragam warna di iPad dengan pensil khusus yang selalu ia bawa dalam tas kecilnya. Warna-warna tanpa suara itu selalu bercipratan tak beraturan di rongga kepalanya, lalu jatuh di atas layar gawai delapan inci yang selalu mengikuti perjalanan tubuhnya. Dulu, dengan jari mungilnya, ia sering diajari melukis abstrak … Baca Selengkapnya

Cerpen : Malu Bertanya, Sesat di Rumah Janda oleh Dody Widianto

DUA belas hari berlalu dan keberadaan Pon belum jelas rimbanya. Segala upaya pencarian telah dilakukan, tetapi belum membuahkan hasil. Sudah kubuat laporan orang hilang ke kantor polisi terdekat walau seolah lamban penanganannya. Tak ada konfirmasi apa-apa. Barangkali amplop yang kuberikan kurang tebal, begitu celetuk istriku yang sedang menyiapkan sarapan untuk dua jagoan kami yang hanya … Baca Selengkapnya

Cerpen : Di Meja Makan, Rhien Menyajikan Rindu oleh Dody Widianto

LANGIT di luar serupa jidat kakek renta. Ia melihat dari jendela kaca dapur di sebelahnya, warna abu-abu keperakan tanpa warna biru dalam lipatan-lipatan tak beraturan, seolah malaikat senja sedang malas menyetrika. Mungkin akan hujan mungkin tidak. Ia melihat jam di tembok kiri arah pintu belakang, lebih dari 24 detik hingga Pras datang di waktu yang … Baca Selengkapnya

Cerpen : Penjual Angin oleh Dody Widianto

TAK ada yang lebih menyebalkan bagi Seno ketika pelajaran mengarang dimulai. Kali ini ibu guru tiba-tiba menyuruh para siswa menuliskan tentang pekerjaan ayah mereka. Ia bersungut. Kenapa juga hal seperti itu harus dimasukkan dalam kurikulum pelajaran Bahasa Indonesia bagian kelas dua. Padahal cerita tentang kelinci dan kura-kura sudah pasti lebih membuatnya senang. “Kenapa kau diam … Baca Selengkapnya

Cerpen : Tanah Perawan oleh Dody Widianto

SEBELUM selesai kuceritakan kenapa kau berani melawan sejarah demi pundi-pundi rupiah, Kidung Turun Sintren (1) berhasil membiusmu keluar dari kurungan besar yang terbuat dari anyaman bambu yang terbalut kain merah. Lepas dari jerat tali yang melilit tubuhmu. Sebelumnya kau terlihat telentang tak berdaya di dalamnya. Sekarang, kau keluar begitu ayu dengan baju golek (2), celana cinde (3), … Baca Selengkapnya

Cerpen : Tanah Perawan oleh Dody Widianto

SEBELUM selesai kuceritakan kenapa kau berani melawan sejarah demi pundi-pundi rupiah, Kidung Turun Sintren [1] berhasil membiusmu keluar dari kurungan besar yang terbuat dari anyaman bambu yang terbalut kain merah. Lepas dari jerat tali yang melilit tubuhmu. Sebelumnya kau terlihat telentang tak berdaya di dalamnya. Sekarang, kau keluar begitu ayu dengan baju golek [2], celana … Baca Selengkapnya

Cerpen : Tetes Hujan Tak Pernah Datang Sendirian oleh Dody Widianto

SEHARUSNYA warna langit yang kelabu akan menerjunkan butir-butir bening dari angkasa dengan irama yang ritmis. Juga aroma yang manis. Namun, entah kenapa satu suara malah membuatku ingin menangis. Prakkk! Suara itu berulang. Beruntung, piringmu sudah kuganti dengan piring plastik. Sudah kuduga jika kau tak akan menerima suapanku. Berusaha menampik semua isi dari piring di tanganku. … Baca Selengkapnya