HUJAN turun lagi. Di bawah payung hitam kita berlindung. Berusaha berteduh dari kenangan lalu yang membuatmu menangis. Dari diorama samping kanan terminal yang pernah membuat hatimu sedikit teriris. Dalam jarak sepuluh langkah…
Tag: Dody Widianto
Cerpen : Persatuan Duda Indonesia oleh Dody Widianto
SATU gambar di atas kertas membuat bibir Hans sedikit monyong. Memiringkan kepalanya ke kiri membentuk sudut delapan puluh derajat. Ia masih belum cocok dengan gambar yang diajukan salah satu peserta. Ia meletakkan…
Cerpen : Yang Lebih Kuat dari Waktu Hanyalah Rindu oleh Dody Widianto
MATAHARI masih dingin dalam sudut sepuluh derajat pandangan. Bulat kuning dan masih saja diam. Dari kejauhan, langit sekitar remang ungu bercampur merah jambu. Ada butir bening di pucuk-pucuk ilalang, di tepi jembatan…
Cerpen : Ramalan Nian Gao oleh Dody Widianto
DI Sam Poo Kong, ketika tetabuhan gendang dan gong terdengar meriah dari para pemain barongsai yang sedang berlatih untuk perayaan Imlek di halaman kelenteng lima hari lagi, alisku mengerut melihat gulungan kertas…
Cerpen : Surga Kupu-Kupu oleh Dody Widianto
LANGIT di luar meredup. Seekor kupu-kupu tetiba menyelinap masuk ke kamarku. Entah lewat lubang mana. Semua jendela samping kamar yang bersebelahan dengan taman telah terkunci. Kupu-kupu itu lalu menempel di gorden jendela…
Cerpen : Pegadaian Perempuan oleh Dody Widianto
DARI semua perempuan yang mencoba ingin singgah di teras hatinya ketika itu, Rhien, hanya dia satu-satunya perempuan yang bisa membuat hatinya luluh. Perilakunya santun dan anggun. Sorot matanya teduh bak rimbun dedaunan…
Cerpen : Empat Puluh Hari Sebelum Mati oleh Dody Widianto
SEPERTI teorema seorang filsuf yang bisa diterima sebagai kebenaran, bapak pernah berujar, “Di dunia ini yang perlu kita siapkan adalah memikirkan bagaimana nanti kita akan dikenang oleh semua orang ketika kita sudah…
Cerpen : Perkutut oleh Dody Widianto
DUA hari yang lalu, burung perkutut milik Rhien tiba-tiba mati. Tanpa memberitahu tanda-tanda burung itu sakit atau apa. Ibu Rhien ingat betul pesan dari bapaknya dulu, burung perkutut selalu membawa pesan dari…
Cerpen : Di Rahim Kenangan, di Ujung Perpisahan oleh Dody Widianto
DULU, sebelum aku pergi, kau pernah menyelipkan selembar senyum dalam dompetku. Menuangkan minyak rindu ke dalam maskerku. Kau cantik, juga licik. Berharap rindumu selalu beresonansi. Dalam denyut panca indra. Dalam getar di…
Cerpen : Kabut Akhirat oleh Dody Widianto
SEPERTI kupu-kupu, Tuhan menakdirkanku hanya hidup dalam seminggu. Bukan tanpa sebab malaikat-malaikat itu menjemputku lebih awal. Tuhan punya alasan lain yang lebih Dia tahu. Atas nama kemanusiaan juga rasa iba aku dijemput…