Kurang dari satu jam setelah kamu dinyatakan tiada, adik perempuan satu-satunya itu lantas memutuskan bahwa kematianmu tidak akan diberitahukan kepada ibumu. Para kerabat dekatmu, yang terdiri dari paman dan beberapa sepupumu, tentu…
Bulan: Mei 2020
Cerpen : Paket oleh Siti Siamah
Menjelang siang, Pak Pos datang menyerahkan sebuah paket kepadaku. Nama dan alamatku sangat jelas tertulis sebagai si penerima paket itu. Lalu segera kuparaf tanda terima yang disodorkan kepadaku, meski aku tidak mengenal…
Cerpen : Tentang Seloki Pustaka dan Mimpi Tiga Pengarang Muda oleh Hari Niskala
Saya menulis cerita ini berdasarkan pengalaman yang saya alami sendiri, berdasarkan kegugupan menjalani hidup, berdasarkan naluri dasar saya, dan tentu saja berdasarkan obsesi umat manusia yang tak kunjung reda. Saya ingin menulis…
Cerpen : Perempuan Pemuja Hujan oleh Rosida
Perempuan itu memandang langit yang mendung. Mengukir kecewa yang teramat sangat. Di ceruk gumpalan menghitam ia letakkan gusar yang bergumpal dukanya. Mendung semakin menghitam menggelayut. Setelah itu hujan turun. Pada deras hujan…
Cerpen : Suatu Malam Aku Melayang oleh Emerald Magma Audha
Aku suka hari libur. Aku juga suka saat Bapak mengangkatku tinggi-tinggi. Dengan dua tangannya yang besar Bapak melingkari pinggulku dan menaikkanku. Aku seperti melayang di udara sambil tertawa. Aku bertanya apakah aku…
Cerpen : Makam oleh Herman RN
Berulang kali Abdul dan keluarga menolak pembebasan tanah di belakang rumahnya. Meskipun tanah itu tidak terlalu luas, dan dihargai dua kali lipat dari harga sebelumnya, Abdul tetap menolak. ”Ada makam Pak Teungku…
Cerpen : Roh Cinta Ibu oleh Gansar Dewantara
Pertunjukan tunggal setiap pagi yang dilakonkan perempuan itu sanggup mengusir pementasan burung-burung yang lincah dan merdu. Perempuan itu selalu mendekap selembar kain batik mahakaryanya, ia membiarkan rambut ikal hitam sebahu miliknya berserakkan,…
Cerpen : Hamil Tua oleh Rita Musiro
Sinar petromaks berangsur redup, desisnya melirih ditingkah hujan yang memukul-mukul genteng rumah keluarga Pratiwi. Bapak Pendeta sudah siap memberikan pemberkatan perkawinan, tapi calon suami Pratiwi belum menunjukkan batang hidungnya. Bila Mayar—calon suami…
Cerpen : Untuk Arga dan Segara oleh Kurnia Effendi
Hal yang sangat tidak menyenangkan bagiku adalah terbangun oleh dering telepon. Aku terjaga dan merasa bodoh melihat kaca jendela kamarku belum menampakkan langit terang. Tanganku meraih telepon genggam yang memang tak pernah…
Cerpen : Pasar Janji oleh Windi Meilita
Jika biasanya pedagang menjual segala benda yang dibutuhkan dan menguntungkan, dia tidak. Jika pedagang bangun subuh, pulang malam, dan tidur larut, dia tidak. Hanya satu hal yang membuat dia terlihat sama seperti…