Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Makam oleh Herman RN

Posted on Ming, 17 Mei 2020

Berulang kali Abdul dan keluarga menolak pembebasan tanah di belakang rumahnya. Meskipun tanah itu tidak terlalu luas, dan dihargai dua kali lipat dari harga sebelumnya, Abdul tetap menolak.

”Ada makam Pak Teungku di sana,” alasan Abdul.

”Rumah dan kebun Pak Abdul ini memang sudah masuk dalam kawasan pengembangan kecamatan sejak dulu. Sudah dimasukkan dalam blueprint sejak camat periode lalu,” jelas kepala kampung kepada Abdul.

Abdul tahu dia dan keluarga hanya pendatang di Kampung Lampap. Belum sampai sepuluh tahun. Ia pindah dari kabupaten lain, lalu mendapatkan tanah di Kampung Lampap, Kecamatan Bubrang. Tanah dan rumah yang ditempati Abdul merupakan amanah seorang Teungku Meunasah.

”Tinggallah di sini, rawat dan jaga tanah beserta rumah ini. Kelola seperti milik sendiri,” begitu pesan Teungku Meunasah kepada Abdul.

Karena itulah, Abdul tidak mungkin menjual tanah dan rumah ini. Apa pun alasan dan berapa pun harganya, Abdul tetap tidak akan menjualnya.

Ia sudah menjelaskan semua perkara itu kepada kepala dusun, juga kepada kepala kampung. Namun, kepala kampung berdalih peta pengembangan kecamatan sudah dibuat sepuluh tahun lalu, sejak Tengku Meunasah masih hidup.

”Ini sudah masuk ke dalam RTRW pembangunan jangka menengah, Pak Abdul. Sudah dirumuskan sepuluh tahun lalu. Tanah Pak Teungku yang Pak Abdul tempati ini sudah dalam peta pengembangan kecamatan. Pak Abdul harus paham itu,” jelas kepala kampung ke sekian kali. Sebenarnya, tanpa diulang- ulang pun, Abdul sudah paham maksud kepala kampung.

”Saya paham, Pak. Saya mengerti. Namun, saya diamanahkan almarhum Pak Teungku, tanah ini boleh digunakan untuk pengembangan apa saja, perkebunan misalnya, asal tidak untuk dibongkar.”

”Pak Abdul ini bagaimana? Kawasan ini mau dibangun hotel tujuh lantai, lengkap dengan mall. Sudah pasti semua akan diratakan. Rumah ini juga kena, tapi saya sudah bicarakan dengan pihak investor. Rumah ini tidak dibongkar, tapi direnovasi agar layak berdiri berdampingan dengan hotel tujuh lantai.”

”Saya diamanahkan oleh almarhum Pak Teungku bukan hanya tinggal di rumah ini, tapi juga menjaga dan merawat semua yang ada di atas lahan Pak Teungku ini. Satu nasihat Pak Teungku yang saya ingat, beliau masih memiliki seorang anak laki-laki. Satu-satunya anak beliau. Saya harus menyerahkan rumah dan seluruh tanah ini kepada anak beliau itu. Begitu pesan Pak Teungku,” jelas Abdul panjang lebar.

Kepala Kampung Lampap kehabisan cara merayu Abdul. Di satu sisi, dia sudah menandatangani surat pembebasan lahan untuk Kampung Lampap. Salah satunya, kawasan tanah Pak Teungku, termasuk pula lapangan bola voli pemuda kampung yang letaknya sejajar dengan kebun Abdul.

Kepala kampung memang sempat mendapat perlawanan dari para pemuda yang menolak lapangan bola voli mereka dihancurkan. Namun, setelah negosiasi panjang, para pemuda Kampung Lampap akhirnya setuju. Sebagai gantinya, pihak pengembang memberikan lokasi baru untuk lapangan bola voli para pemuda Kampung Lempap. Lapangan baru itu terletak di pinggir sungai.

Bukan hanya itu, para pemuda Kampung Lempap diberikan dana untuk perlengkapan seragam voli, lengkap dengan bola, jaring voli, dan ditambah dana pembinaan.

Kepala kampung mengira perkara ganti rugi bagi warga ini telah selesai semua. Namun, ternyata ia tidak berhasil meyakinkan Abdul. Sebenarnya bisa saja kepala kampung main kekerasan dengan mengusir Abdul, karena Abdul hanya warga pendatang di Kampung Lampap. Namun, kepala kampung sangat menghormati Teungku Meunasah, pemilik rumah yang ditempati Abdul. Orang tua itu yang membawa Abdul ke Kampung Lampap.

Sepekan kemudian, Kepala Kampung Lampap kembali menemui pihak pengembang. Sebenarnya bukan niat langsung menemui bos investor pembangunan hotel tersebut. Namun, bos investor sendiri yang mengundang kepala kampung ke Jakarta.

Selama ini, bos investor hanya mendengar cerita dari anak buahnya di lapangan bahwa ada seorang warga bernama Abdul yang tidak mau menerima pembebasan lahan. Padahal, kawasan lahan Abdul merupakan kawasan inti dari pembangunan hotel dan mall yang akan dikerjakan.

”Pak Kepala Kampung tahu, semua dokumen pendirian hotel dan mall itu sudah disetujui pada tingkat kabupaten, bukan hanya kecamatan. Bahkan, kami sudah mendapatkan rekomendasi dari Pak Menteri. Tapi, saya dengar ada warga kampung Bapak yang tidak mau menerima pembebasan lahannya. Bisa Bapak ceritakan kenapa?” tanya bos investor.

Kepala kampung sempat terdiam. Bukan takut, tapi ia melihat betapa berwibawa bos investor ini. Nada suaranya tegas. Dalam hati kepala kampung, bos investor ini pasti orang terdidik. Sekolahnya pasti di luar negeri.

”Bapak… Bapak, apakah saya salah bicara?” tanya bos investor pelan.

”Ups… Tidak. Ma… af, Pak, saya… saya,” suara kepala kampung terdengar gelagapan. Ia membetulkan sandaran kursinya.

”Minum dulu, Pak,” sahut bos investor pula.

”Sebelumnya, atas nama kepala kampung dan semua perangkat kampung, saya minta maaf. Saya juga tidak mengira urusan administrasi dengan warga bisa serumit ini.”

”Bapak tahu tidak apa alasan kuat saya ingin mendirikan hotel dan mall di Kampung Lampap? Sebenarnya saya bisa saja menerima tawaran dari Kepala Kampung Lamkreh. Mereka sudah beberapa kali menjumpai orang saya, minta agar hotel dan mall itu didirikan di kampung mereka.”

Lama kepala kampung memandang bos investor. Ia tidak sabar ingin mendengar alasan bos investor itu memilih Kampung Lampap sebagai kawasan pengembangan kecamatan.

”Saya ini sebenarnya masih ada hubungan dengan Kampung Lampap,” ucap bos investor sambil menarik napas. Suaranya bergetar. ”Orangtua saya berasal dari Kampung Lampap. Saya masih keturunan Lampap. Karena suatu musibah, saya terpisah dari orangtua saya. Hingga beliau menutup usia, saya tidak pernah berjumpa dengan beliau. Tujuan saya memilih Kampung Lampap sebagai kawasan pengembangan industri karena saya ingin berbakti kepada orangtua saya. Saya ingin memajukan kampung halaman saya. Bapak kembalilah ke kampung. Sampaikan kepada….”

”Abdul.”

”Ya, Pak Abdul. Saya akan ganti semua, berapa pun yang dia minta. Saya akan rehab rumah yang ia tempati itu. Saya akan berikan ganti rugi tiga kali lipat kalau perlu. Tolong sampaikan juga, tiga hari lagi pengerjaan awal harus dilakukan. Saya akan ke lokasi.”

TANPA menunggu hari berganti, begitu sampai di kampungnya, kepala kampung langsung menemui Abdul. Ia ceritakan semuanya kepada Abdul, termasuk keinginan keras bos investor membangun hotel itu bukan karena proyek, tetapi pengabdian kepada orangtua dan kampung halaman.

Abdul diam sejenak. ”Saya tidak minta harga berapa pun, Pak,” ujarnya lembut. Nyaris tidak terdengar.

”Kenapa Pak Abdul terlalu keras kepala?!” suara kepala kampung meninggi.

”Saya tidak akan minta harga berapa pun, Pak. Bukan berarti saya tidak mengizinkan rumah dan tanah ini Bapak berikan kepada pihak investor. Saya sudah musyawarah dengan keluarga, kami akan pergi dari kampung ini. Rumah beserta semua isinya kami tinggalkan, termasuk seluruh tanah Pak Teungku.”

Giliran kepala kampung terdiam.

”Saya dan keluarga sudah sepakat menyerahkan semua milik Pak Teungku kepada perangkat kampung. Nanti terserah pihak kampung mau bawa ke mana rumah dan tanah Pak Teungku. Kami tidak berhak atas rumah dan tanah ini. Kami hanya diamanahi. Saya sadar, saya tidak mampu menjaga amanah ini. Makanya saya kembalikan kepada Bapak dan orang Kampung Lampap. Saya dan keluarga akan keluar dari rumah ini, dari kampung ini tanpa membawa apa-apa, sama seperti saat kami datang dulu.”

Kepala kampung tercengang mendengar semuaitu. Belum sempat ia menyela, Abdul sudah melanjutkan, ”Kami hanya minta kepada Bapak, tolong berikan kami waktu beberapa hari mempersiapkan barang-barang kami. Setelah itu, semua akan kami serahkan kepada Bapak selaku pejabat kampung.”

Kepala kampung tak kuasa berkata-kata. Ia minum air yang dihidangkan istri Abdul seteguk, lalu pamit pulang.

TIGA hari kemudian, bos investor datang ke Kampung Lampap. Saat itu, bagian belakang rumah Abdul sedang dibersihkan dengan alat berat. Pohon mangga dan jambu sudah ditumbangkan. Rencana berikutnya membongkar makam Pak Teungku dan memindahkan ke lokasi pemakaman umum.

Bos investor tidak mau dianggap kasar oleh Abdul. Ia sengaja datang menemui Abdul. Maksud bos investor untuk anjangsana sekaligus minta maaf jika anak buahnya bersikap kasar dalam negosiasi.

”Tidak ada yang perlu dipersoalkan lagi, Pak. Saya sudah mendengar semua penjelasan kepala kampung. Saya juga sudah berjanji akan meninggalkan kampung ini secepatnya. Saya hanya minta diberi waktu beberapa hari untuk kemas-kemas,” ujar Abdul tenang.

”Bapak mau pindah ke mana? Saya akan bantu,” ucap bos investor tak kalah tenang.

”Saya tidak minta apa-apa. Saya hanya minta satu hal, tolong hargai pemilik rumah dan tanah ini. Tolong jangan hancurkan makam beliau,” lirih Abdul.

”Baik. Saya akan penuhi permintaan Bapak. Jika diperkenankan, boleh saya melihat lokasi makam beliau?”

Abdul mengajak bos investor ke belakang rumah. Mereka melintasi ruang tengah. Di ruang keluarga, bos investor menghentikan langkahnya.

”Ini siapa?” tanya bos investor sambil menunjuk sebuah foto tua dalam bingkai kayu.

”Itulah Pak Teungku, pemilik rumah ini,” sahut Abdul pelan.

”Yang ini?” tanya bos investor lagi sambil menunjuk foto di sebelahnya.

”Bapaknya Pak Teungku.”

”Ini?” bos investor kembali bertanya sambil meraba sesosok wajah anak kecil dalam bingkai foto ukuran kartu pos.

”Anaknya Pak Teungku. Itulah ahli waris satu-satunya yang sah atas rumah dan tanah ini. Namun, Pak Teungku tidak tahu di mana keberadaan anak itu.”

Bos investor mendadak pucat. ”Apa yang pernah dikatakan Pak Teungku tentang anak ini?” suara bos investor bergetar.

”Pak Teungku tidak bercerita banyak. Ia hanya sampaikan itu anak satu-satunya. Istri Pak Teungku meninggal dalam sebuah operasi saat melahirkan anak itu. Istri Pak Teungku lebih memilih kehilangan nyawanya demi menyelamatkan anaknya. Namun, Pak Teungku juga tidak bisa merawat anaknya lama-lama. Ketika umur anak itu menjelang lima tahun, keadaan kampung ini masih dalam suasana darurat. Pak Teungku dan anaknya ditangkap kelompok bersenjata, lalu mereka dipisahkan. Pak Teungku tidak tahu lagi bagaimana kabar anaknya. Ia hanya menyimpan foto itu, satu-satunya foto sang anak saat masih berumur 4 tahun….”

Belum selesai Abdul bertutur, bos investor menyela. ”Dan sang anak mengira gerombolan bersenjata telah merenggut nyawa ayahnya sehingga anak itu tidak tahu lagi jalan pulang. Ia diasuh oleh orangtua angkatnya di Turki.”

Abdul menatap bos investor itu. Hatinya bertanya-tanya, bagaimana bos investor ini tahu tentang anak Pak Teungku.

”Setelah dewasa, anak ini ingin berbakti kepada orangtua dan kampung halamannya, tapi ia tidak tahu caranya. Si anak ingin membuat kampungnya menjadi lebih maju, ada hotel megah agar layak seperti kota-kota besar,” sambung bos investor.

”Bapak…,” mulut Abdul ternganga.

”Ya. Saya anak itu, anak yang tidak tahu jalan pulang,” ucap bos investor sambil menangis. Tangannya meraba wajah Pak Teungku dalam bingkai.

Sudut Indonesia, Desember 2019

Herman RN : lahir April 1983. Menulis cerpen, puisi, esai, dan resensi. Meraih penghargaan sastra dari Balai Bahasa Aceh (2009).

Rahardi Handining : lahir di Semarang, 27 Februari. Menyelesaikan Pendidikan Sarjana Arsitektur Universitas Pandanaran, Semarang. Sejak 1997 mengisi kolom kartun di beberapa media di Indonesia. Pada 2004-2018, bekerja sebagai desainer grafis dan ilustrator di harian Kompas. Meraih beberapa penghargaan dari dalam dan luar negeri.

sumber : harian Kompas edisi 17 Mei 2020 di halaman 11 dengan judul “Makam”.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme