Cerpen : Catatan Musim Buah oleh Yetti AKA

WAKTU itu, ya, katakanlah memang demikian kebenarannya, seekor ular kecil yang memiliki sayap mirip ranting di punggungnya telah melompat dari lubang pada plafon, lantas cepat sekali menyusup dalam kepalaku. Ular itu tentu saja si perayu yang ulung. Ia berbisik-bisik. Menyemburkan birahi lewat lidahnya yang tidak bisa diam. Dan entah bagaimana kejadiannya atau bagaimana bisa terjadi, … Baca Selengkapnya

Cerpen : Kantor oleh Ni Komang Ariani

APAKAH sebuah pekerjaan bisa membunuhmu? Kantor adalah tempat yang aku datangi setiap hari namun tempat itu seperti menelanku bulat-bulat. Menghancurkan aku pelan-pelan dan sekarang aku telah menjadi pecahan-pecahan kecil yang berhamburan. Ini bukan aku yang datang pertama kali ke kantor ini dengan wajah sumringah dan semangat yang menyala-nyala. Bertahun-tahun kemudian, aku merasa diriku yang sebenarnya … Baca Selengkapnya

Cerpen : Sebatang Pohon yang Tak Bahagia oleh Guntur Alam

DI belakang rumah kami, ada sebatang pohon sawo yang tak bahagia. Pohon sawo itu dibeli dan ditanam ibu jauh sebelum aku lahir. Buahnya kecil-kecil tapi manis dan aku suka. Sayangnya, sejak ibu mengatakan pohon sawo itu tak bahagia, aku mulai tak suka memakan buahnya. Dan sekarang benar-benar berhenti memakannya, jadi buah-buahnya yang masak gugur begitu … Baca Selengkapnya

Cerpen : Segara oleh Fandrik Ahmad

COBALAH kau berdiri di bibir pantai ketika muka langit merona jingga. Lemparkan kemampuan sejauh pandanganmu. Kau akan merasakan seberapa dalam perasaan mereka menggantungkan asa pada segara. Kata Epak menjelang keberangkatannya, suatu ketika. Cobalah kau berdiri di bibir pantai ketika muka langit merona jingga. Tataplah hamparan kerikil batu karang sepanjang pesisir pantai yang ditinggalkan surutnya segara. … Baca Selengkapnya

Cerpen :Maggiri Beraroma Merah oleh Adi Zamzam

SORE terakhir di bulan September firasat mengerling kepadaku. Sehelai daun luruh tepat di atas kepala. Warnanya telah menguning. “Lebih baik iko [1] tidak usah ikut maggiri [2],” ujar Puang Lolo [3] yang ternyata masih mengawasiku. Penciumannya benar-benar setajam asu [4]. Mungkin tersebab itulah ia menjadi tangan kanan Puang Matoa [5]. Insting dan kecerdasannya tak pernah … Baca Selengkapnya

Cerpen : Rumah di Desa oleh Aba Mardjani

WAJAH Catherine membinar ketika sore itu memperlihatkan sebaris kalimat singkat di layar ponsel kepada suaminya. ‘Iya. Mama dan Papa akan datang besok.’ “Betulan?” Ahlan tak mampu membendung rasa gembira yang menyesaki dadanya. Dilahapnya wajah istrinya. Ia mendapati air bening di sudut mata kanan istrinya siap menetes seperti sisa embun di pucuk-pucuk kamboja. “Kamu mau nangis?” … Baca Selengkapnya

Cerpen : Kabut Ibu (2) oleh Mashdar Zainal

SEMENJAK aku bisa merasakan sentuhan, perempuan yang pertama kali memenyentuhku adalah kabut. Kabut yang muncul dari balik pintu dan jendela kamarku. Kabut yang melata dari lubang angin dan bawah pintu, kabut yang sangat tebal, kabut yang ibu. Kabut ibu. Apa kau akan percaya jika kukatakan bahwa ibuku adalah kabut? Makhluk yang berwujud kesunyian dan teka-teki. … Baca Selengkapnya