Cerpen : Lintah oleh Guntur Alam

Saat dia berusia enam belas tahun, dia menyadari jika segerombol lintah telah beranak-pinak di dalam hati dan otaknya. Lintah-lintah itu hidup dengan menghisap darah dan memakan otaknya. Sialnya, tak ada yang bisa dia perbuat untuk membunuh lintah itu. Sebab dia tahu, jika mencincang mereka, sama saja dia mencacah hati dan otaknya sendiri. Lintah-lintah itu akan … Baca Selengkapnya

Cerpen : Gentayangan oleh Guntur Alam

Suci meninggal tujuh hari lalu. Sejak hari itu, setiap malam, orang-orang kampung kami ketakutan lantaran banyak yang melihat arwahnya gentayangan. Tak hanya meneror dengan wujud pocong berwajah pucat, arwah Suci kerap juga muncul dengan pakaian biasa dan rambut panjangnya tergerai sebatas pinggang. Saat disapa, dia akan menoleh dan memperlihatkan wajahnya yang kadang pucat, kadang pula … Baca Selengkapnya

Cerpen : Kemarau oleh Guntur Alam

Jarum jam menunjukkan pukul tiga dini hari, udara dingin menusuk tulang sumsum. Jari jemari Menot yang kurus terlihat gemetar saat mengancingkan baju Latas, putranya yang berusia sembilan tahun. Bocah laki-laki itu masih terkantuk-kantuk, tetapi dia berusaha untuk terjaga. “Apa sebaiknya abang mengambil air di Danau Lamban Libar saja?” tanya Menot, yang ketiga kalinya sejak Nalis … Baca Selengkapnya

Cerpen : Cerpen Mimpi Jurai oleh Guntur Alam

Aku akan memulai cerita ini dari mimpi yang tujuh malam berturut-turut menyambangi tidurku. Pada mimpi aneh bin ajaib itu, aku berdiri di atas batu cadas putih, Sungai Lematang hampir mengering, pasir memutih di pinggir-pinggir pantai sungai. Aku berdiri tegak di atas napal—sebutan orang-orang dusun kami akan batu cadas putih yang hanya muncul saat kemarau di … Baca Selengkapnya

Cerpen : Kasus Pertama J Van: Hilangnya Nyonya Djamira oleh Guntur Alam

J Van den Brand meremukan kepala cerutunya ke dalam asbak berwarna coklat tua yang terbuat dari potongan batang bambu itu, sisa asap masih mengepul di ruangan kerjanya, bergulung-gulung, membuat perempuan berkulit coklat dengan pupil mata hitam yang duduk di depannya terbatuk-batuk. Laki-laki berambut pirang itu mengibas-kibaskan tangannya, berusaha menghalau sisa asap cerutu. Lampu minyak yang … Baca Selengkapnya

Cerpen : Kamar Mayat oleh Guntur Alam

Di sinilah dirimu, di depan kamar mayat rumah sakit Kota P, kota tetangga yang berjarak sekitar 31 kilometer dari tempat tinggalmu. Kau sedikit ragu untuk melangkah, mengikuti petugas kamar mayat yang tadi menyambutmu tanpa senyum. Isi kepalamu berkecambuk. Kecemasan, rasa takut, keraguan juga kebingungan seperti kue beras dalam mangkuk yang terjatuh dan tumpah ruah, isinya … Baca Selengkapnya

Cerpen : Kasus Ketiga J Van: Matinya Seorang Anak Sapi oleh Guntur Alam

Seperti kau pertama kali melihatnya, J Van den Brand pun hanya sanggup memandang sosok yang tergantung di jendela barak itu tak lebih dari dua puluh detik. Dia gegas melengos, mengalihkan pandangan ke arah dipan yang berantakan dan hiasan dalam kamar yang terlihat berbeda dari kebanyakan tempat tinggal para jongos di perkebunan tembakau ini. Bedanya lagi, … Baca Selengkapnya

Cerpen : Suatu Malam, Sri Mengarang Cerita dari Dolly oleh Guntur Alam

Pikirannya langsung tertuju pada anak semata wayangnya, Wati. Juga emak, bapaknya yang kena katarak, dan kedua adiknya yang walau sudah besar tak bisa berbuat apa-apa karena lumpuh layu. Kena polio, kata orang-orang. ”Benaran ditutup,” ujar Sandra sambil memoles gincu merah menyala di bibirnya yang tebal. ”Dengar-dengar, kita dapat kompensasi lima juta seorang. Mana cukup duit … Baca Selengkapnya

Cerpen : Kue Itu Memakan Ayahku oleh Guntur Alam

”Pelan-pelan, aku akan mati karena dimakan sebuah kue.” Itu ayah ucapkan padaku tepat satu minggu setelah ia diangkat menjadi juru potong kue di kantornya. Awalnya aku bingung, kok bisa ayah menjadi juru potong kue, padahal kata ibu, ayah seorang akuntan yang hebat. ”Di kantor, kita bisa menjadi apa saja,” terang ayah saat aku mengemukakan kebingunganku. … Baca Selengkapnya

Cerpen : Sebatang Pohon yang Tak Bahagia oleh Guntur Alam

DI belakang rumah kami, ada sebatang pohon sawo yang tak bahagia. Pohon sawo itu dibeli dan ditanam ibu jauh sebelum aku lahir. Buahnya kecil-kecil tapi manis dan aku suka. Sayangnya, sejak ibu mengatakan pohon sawo itu tak bahagia, aku mulai tak suka memakan buahnya. Dan sekarang benar-benar berhenti memakannya, jadi buah-buahnya yang masak gugur begitu … Baca Selengkapnya