Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Kemarau oleh Guntur Alam

Posted on Jum, 03 Jun 2022

Jarum jam menunjukkan pukul tiga dini hari, udara dingin menusuk tulang sumsum. Jari jemari Menot yang kurus terlihat gemetar saat mengancingkan baju Latas, putranya yang berusia sembilan tahun. Bocah laki-laki itu masih terkantuk-kantuk, tetapi dia berusaha untuk terjaga.

“Apa sebaiknya abang mengambil air di Danau Lamban Libar saja?” tanya Menot, yang ketiga kalinya sejak Nalis bersiap setengah jam lalu. Nalis berdehem. Menot mengatup rapat mulutnya. Laki-laki berumur tiga puluh lima tahun itu mencuri pandang bininya lewat ekor mata.

“Kau tahu sendiri, air danau itu sudah macam kubangan kerbau. Kau mau anak-anakmu minum air bercampur tanah?” tanya laki-laki dengan otot biseps dan triseps yang mengeras saat dia mengikatkan tali begitu kencang pada pikulan jeriken airnya.

Menot masih terdiam. Sejatinya, banyak sekali kalimat yang terpendam dalam tempurung kepalanya. Kata-kata yang mendesak-desak hendak keluar dari sumur cemas yang meluap-luap di dadanya. Namun dia tahu betul sifat lakinya itu; keras kepala dan teguh pendirian.

“Kenapa?” Nalis memecah lamunan Menot, “Kau takut terjadi hal buruk padaku dan Latas?” tanyanya, lebih gamblang.

Jemari kurus Menot mengusap-usap rambut putra pertamanya itu. Sesekali, Latas melirik ke arah pintu rumah yang terbuka lebar, menatap Pebot, adik laki-lakinya yang berumur lima tahun yang masih meringkuk lelap dalam balutan kain sarungnya di tengah rumah. Mungkin sebiji rasa iri telah berkecambah di dada mungilnya. Lalu rasa iri itu tumbuh subur dan merimbun, dipupuk oleh udara dingin yang menggigilkan tubuh. Latas ingin melanjutkan mimpinya yang hangat di bawah kain sarung, tetapi tangan kapalan bapaknya telah mengguncang-guncang tubuhnya beberapa puluh menit silam, memaksanya untuk membuka mata dan berdiri tegak di teras rumah.

“Abang tahu sendiri,” suara Menot lirih, “Kalau di hutan adat itu tempat tinggal puyang. Di musim kemarau seperti ini, pasti harimau belang itu akan berada di sekitar Danau Piabong dalam hutan. Tak ada seorang pun yang berani mengambil air di sana.”

“Tak usah risau,” Nalis mengibaskan tangannya, “Kalau kita tidak mengganggu puyang, dia tidak akan mengganggu juga.” Nalis mengikatkan golok di pinggangnya. Senjata tajam itu tersimpan rapi dalam sarung dari kayu.

“Tapi, Bang,” Menot membasahi bibirnya yang mengering, “Puyang tetaplah binatang buas. Harimau belang itu bisa jadi terganggu kalau abang dan Latas tiba-tiba muncul. Bagaimana jika dia menyerang abang dan Latas?”

“Aku tetap percaya dengan ucapan orang-orang tua kita,” sahut Nalis, “Puyang tidak akan mengganggu selama kita tidak mengganggunya. Puyang tahu, kita anak keturuannya yang telah ikut menjaga hutan di sini.”

Menot memilih untuk tak membantah lagi. Perempuan berumur tiga puluh tiga tahun itu mahfum, dia tidak akan bisa membelokkan niat lakinya. Pria batu itu bergeming, apa pun yang akan Menot utarakan, dia tidak akan berubah pikiran. Perempuan itu telah mengenal lakinya lebih dari sepuluh tahun, sejak mereka menikah dulu. Jadi yang dapat dia lakukan sekarang hanyalah satu saja; berdoa, tak terjadi hal buruk pada laki dan anaknya. **

Menot mengantar kepergian Nalis dan Latas dari teras rumah, pandangannya terus mengiringi cahaya obor yang digenggam Latas. Perlahan cahaya itu semakin menjauh, berubah menjadi titik kemerahan, orange, lalu menghilang dalam dekapan pekat malam dan pepohonan. Perempuan itu mundur ke arah pintu rumah yang terbuka lebar. Saat tubuhnya sudah di dalam rumah, dia menutup pintu dan memasang palang kayunya.

Menot membawa rasa gundah dan cemasnya berbaring di samping Pebot. Bocah laki-laki itu menyuruk ke dalam dekapan ibunya ketika hidungnya mendengus bau khas tubuh Menot. Naluri kanak-kanaknya mencari kedamaian dalam pelukan ibunya. Sementara mata Menot tetap nyalang, menerawang dan menatap langit-langit rumah.

Udara dingin akhir bulan Juli bertiup, menerobos sela-sela dinding papan rumah. Menyentuh rambut dan kulit kaki Menot yang telanjang. Namun ,dia tak memedulikan rasa dingin itu, pikirannya mengembara pada Nalis dan Latas, juga pada kemarau yang baru berjalan sebulan tetapi telah menyulitkan seluruh kampung.

Sudah beberapa tahun belakangan ini, setiap musim kemarau, kampung mereka kesulitan air bersih. Sumur-sumur surut dengan cepat, danau-danau mengering seolah diisap dan sungai-sungai kecil seperti kulit-kulit ular yang ditinggalkan begitu saja. Kerontang. Padahal, dulu, semasa dia kanak-kanak dan remaja, air melimpah ruah di kampung mereka.

“Ini karena hutan di hulu sudah dibabat habis,” ucap Nalis, ketika Menot mengeluhkan susahnya mencari air untuk memasak.

“Apa hubungannya dengan hutan di hulu, Bang?” tanyanya, tak paham.

Perempuan yang hanya mengenyam pendidikan Sekolah Dasar itu tak mengerti arah pembicaraan lakinya itu. Nalis yang acapkali duduk ngopi di warung Bi Jumar, memang sering membawa berita dan cerita yang sukar Menot pahami. Mungkin karena lakinya itu punya kesenangan menonton berita di tivi warung kopi Bi Jumar itu, terkanya.

“Lah, hutan itu sumber air,” tukas Nalis, cepat, “Akar-akar pohon itu menyimpan air untuk dialirkan ke sungai, ke danau, ke dalam sumur. Kalau tak ada pohon bagaimana?”

Menot menggidikan bahunya, tak paham.

“Halah,” Nalis mendengus, “Ngomong dengan perempuan ini selalu bikin repot.”

Menot manyun, dongkol. Dia ingin sekali membalas, “Kau paham cerita-cerita asing ini karena punya banyak waktu untuk memandang tivi di warung Bi Jumar. Sementara aku harus bergelut dengan urusan dapur, cucian baju, anak-anak, bahkan urusan menyadap karet. Padahal seharusnya menyadap karet itu tanggung jawabmu sebagai laki-laki. Bukankah kepala keluarga yang harus mencari nafkah? Tapi aku berbaik hati membantumu. Sementara kau? Apa yang kau bantu? Mencuci piring tidak, mencuci baju tidak, bahkan mengangkut air dari sumur pun tidak.”

Namun, kata-kata itu hanya Menot telan saja. Dia cuma mendengus, membuang rasa kesal dalam kepala dan dadanya.

“Hutan di hulu itu mengandung batu bara,” Nalis melanjutkan ceritanya, “Jadi sekarang pohonnya digunduli, lalu tanahnya dibongkar dan batu baranya dikeruk untuk diangkut entah ke mana.”

“Batu bara itu jenis batu apa, Bang?”

“Ya zaman,” Nalis menggeleng-gelengkan kepalanya, “Alangkah buyan kau ini.”

Menot melengos, membuang mukanya. Kesal.

“Batu bara itu katanya digunakan untuk buat listrik,” tetapi Nalis tetap saja menerangkan, “Jangan kau tanya bagaimana cara membuatnya, aku pun tak paham.”

Menot hampir saja terbahak, tetapi dia menelan tawanya.

“Sementara di hilir sana,” tambah Nalis lagi, “Ada pabrik bubur kertas. Pabrik itu juga menggunduli hutan. Pabriknya makan kayu untuk buat kertas.”

“Jadi karena orang gali batu bara dan buat pabrik bubur kertas, sumur dan sungai cepat mengering, Bang?” Menot mencoba menarik benang merah cerita dari lakinya itu.

“Ya, begitu,” Nalis menyetujuinya, “Cuma aku tak paham, betul atau tidak. Tapi cobalah kau ingat-ingat. Zaman kita masih kanak-kanak dan remaja, tidak seperti ini. Waktu Latas masih kecil pun juga tak begini. Air sukar sejak beberapa tahun ini saja. Sejak pohon dibabat untuk mengeruk batu bara.”

Menot mengangguk-angguk, antara paham dan bingung. Namun bukan perkara pohon yang dibabat ini yang membuat Menot tak dapat memejamkan matanya lagi. Namun, keputusan Nalis tadi petang. Lakinya itu tiba-tiba melontarkan ide untuk mengambil air di Danau Piabong. Danau yang ada di hutan keramat. Tak ada penduduk kampung mereka yang berani menjejakkan kaki di sana. Sejak dulu, sejak mereka kanak-kanak, mereka sudah dilarang untuk mendekati hutan itu.

“Di dalam sana ada puyang,” ucap emaknya dulu, saat Menot bertanya, kenapa mereka tak boleh mendekati hutan adat, “Puyang berkaki empat, bertaring tajam, kuku kuat dan bulu belang. Saat leluhur kita membentuk kampung ini, mereka telah membuat kesepakatan dengan puyang. Berbagi wilayah. Tak boleh saling mengusik. Puyang tak mengganggu selama kita tak mengusik. Jadi jangan pernah melanggar kesepakatan.”

“Kau ingin anak-anak kita minum air bercampur lumpur itu?” pertanyaan Nalis itu menggerogoti kepala Menot. Air di Danau Lamban Libar, satu-satunya tempat penduduk kampungnya menggantungkan harapan sejak kemarau beberapa tahun terakhir, pada tahun ini tak mampu mengabulkan harapan mereka lagi, karena danau itu perlahan mengering, menyisakan kubangan-kubangan air di beberapa tempat.

Menot sudah dua hari tidak mandi, juga Nalis dan anak-anaknya. Sepertinya laki-laki itu tidak tahan lagi, terlebih saat petang tadi Menot mengatakan, air bersih mereka tinggal seember. Hanya cukup digunakan untuk masak esok pagi.

“Aku cuma meminta air ke sana,” ucap Nalis semalam, sebelum mereka berusaha memejamkan mata, “Bukan berniat mengganggu puyang. Kau tenang saja. Tak akan terjadi apa-apa.”

Sayangnya, Menot tak bisa tenang, dia terus memikirkan Nalis dan Latas.

**

Udara jelang subuh semakin dingin, Latas yang membawa obor di belakang Nalis terseok-seok. Kaki bocah sembilan tahun itu beberapa kali terjerat akar pohon, tetapi dia cukup sigap untuk melompat sehingga tak sampai jatuh terjerembap. Betisnya sudah mengkeret, karena mereka sudah berjalan satu jam lebih. Hutan terlarang sudah mereka masuki. Semakin ke dalam, hutan semakin pekat dan jalan semakin susah.

Nalis belum pernah ke hutan ini, dia mencari danau sumber air itu dengan mengandalkan naluri dan cerita dari kakeknya dulu. Katanya danau itu ada di tengah hutan, danaunya luas dan airnya jernih. Nalis yakin mereka akan menemukan danau itu. Jadi ketika cahaya obor yang dibawa Latas berpendar pada permukaan air dan tanah yang dia injak semakin lembap, senyum Nalis merekah sempurna.

Laki-laki itu menurunkan pikulan kayu dan dua jerigen besarnya. Dia mengambil obor di tangan Latas, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi, permukaan air danau berkilau tertimpa cahaya obor. Senyum Nalis kian merekah. Namun hanya sesaat… di kanannya, hanya berjarak kurang dari sepuluh hasta, Nalis melihat pantulan mata kucing yang tertimpa nyala obor. Nalis mengeratkan pegangan pada obor, dia mundur perlahan, menarik Latas untuk bersembunyi di balik punggungnya.

Sepasang harimau belang keluar dari balik rimbun semak, sepasang mata mereka menatap awas. Nalis segera berlutut, diikuti Latas yang menggigil.

“Maaf, Puyang,” suara Nalis serak, “Aku tak ingin mengganggu. Aku hanya ingin meminta air untuk anak biniku.” Nalis menancapkan obor di tanah, lalu merendahkan tubuhnya hampir sujud seperti sembahyang, membuat Latas yang berlutut di belakang Nalis terlihat dengan jelas.

Seekor harimau belang mengeram, Latas merasa celananya mendadak hangat. Bibirnya membeku ketika seekor anak harimau muncul di belakang sepasang puyang itu. Kedua bola mata mereka saling pandang. Sementara udara dingin bertiup di atas permukaan danau dengan tenang, seolah tak terjadi apa-apa. []

Pali, 2021 Guntur Alam, buku kumpulan cerita pendeknya yang sudah terbit; Mata Sayu Itu Bercerita (Sheila – Penerbit Andi, 2014) dan Magi Perempuan dan Malam Kunang-kunang (Gramedia Pustaka Utama, 2015). Seri novel horornya; Arwah, Tumbal, Ritual dan Teman yang terbit di Elex Media Komputindo cetak ulang pada bulan April dan Mei 2022. Ia bekerja sebagai pegawai negeri sipil dan menetap di Penukal Abab Lematang Ilir, Sumatera Selatan. Untuk mengobrol dengannya silakan hubungi @AlamGuntur di Twitter atau @gunturalam_ di Instagram.

sumber : kompas.id, 03 Jun 2022.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme