Cerpen : Tidak Ada Perayaan Hari Ini oleh Rara Yangsen

WAJAHKU bersih dan terang. Aku belum berias. Hari ini umurku tepat mencapai tiga puluh tujuh tahun. Dan kabarnya, mereka akan merayakan peringatan usiaku di sebuah hotel. Mereka, bukan aku. Aku tak pernah peduli dan berniat merayakan hari ulang tahun, apalagi secara mewah seperti itu. Sore ini, aku masih menunggumu di tempat yang sama. Sebelum berangkat … Baca Selengkapnya

Cerpen : Yang Selalu Memotong Rambutnya oleh Iin Farliani

“AKHIR-AKHIR ini, laki-laki itu cukup sering memotong rambutnya. Tumbuh, potong lagi. Tumbuh, potong lagi. Hubungan kami tidak dekat tapi aku mengenalnya sebagai rekan kerja,” ucap Sentot sambil menunjuk ke arah laki-laki muda yang sedang duduk sendirian di kursi paling pinggir dari barisan depan. Win melihat ke arah laki-laki itu. Di panggung, seorang perempuan muda sedang … Baca Selengkapnya

Cerpen : Datang dan Perginya Anung oleh Hasan Aspahani

“MAMA Imam, ikannya kutarok di depan pintu, ya!” Suara jelek itu suara Anung. Semua ibu di kampung kami dia panggil mama. Juga ibuku. Tiap hari, Anung memancing di muara, mencari kepiting, atau menganyam daun kelapa. Anung memancing dengan joran pendek pelepah rumbia dan umpan kelomang. Dia jago sekali mancing. Mungkin karena dia memancing pada saat … Baca Selengkapnya

Cerpen : Kelereng dan Pagar Tinggi Rumah Tetangga oleh Junila WR

MASIH ingatkah kau suasana kampung kita, Yul? Pulau Sumatra yang indah dengan masyarakat bersahaja. Bukit, tanah, sungai, dan segala macam di dalamnya, begitu bersahabat pada bocah-bocah petualang seperti kita. Aku masih di sini, Yul. Di tempat kita pernah menghabiskan hari-hari bersama. Di mana aku, kau, dan kawan-kawan, bisa saling mengunjungi tanpa harus dihubungi lebih dulu. … Baca Selengkapnya

Cerpen : Indo’ oleh Chaery Ma

INDO’ melakukan hal yang tak biasanya pagi ini. Kebiasaan pagi indo’ mengaji sampai matahari muncul. Sampai bibirnya menjadi lemas untuk terbuka. Sampai huruf-huruf Alquran yang terdengar hanyalah satu, berentetan, sehingga yang ada malah lebih terdengar mengigau dibanding mengaji. Kebiasaan lainnya, ia suka berkeliling sekitar rumah tanpa alas kaki. Singgah di rumah-rumah tetangga, bercengkerama sampai petang, … Baca Selengkapnya

Cerpen : Dokumen Jibril oleh Ucu Agustin

AKU terperangah, tengah malam ini Ayah mendatangiku sambil menyanggah. “Saat kamu tak tahu, melesaplah bersama kawah hanya berbekal ini saja,” begitu ucapnya. Sesaat kemudian dia membuka tangannya. Kamu percaya? Sebuah pesan rahasia memancar dari sana. Malam masih pucat dan hujan deras baru saja berhenti bergulat saat kutemukan selembar daun mahoni tergeletak gemetar sendirian di ujung … Baca Selengkapnya

Cerpen : Impian di Tengah Musim oleh Bakdi Soemanto

TIBA-TIBA pintu kamar dibuka dari luar dengan mendadak. Seorang perempuan, sepertinya istrinya, masuk dan langsung menjatuhkan di lantai sebuah bungkusan besar dan taplak meja. Buzz ingat, di dalamnya setumpuk kain batik. Lalu, perempuan itu, mungkin istrinya, duduk di sebelahnya, di pinggiran tempat tidur. Ia mengatakan turis-turis itu tiba-tiba pulang. Kerusuhan di kota membuat mereka takut. … Baca Selengkapnya

Cerpen : Tak Ada Mawar di Jalan Raya oleh Agus Noor

DIHANTAR malam, kamu datang dengan bibir gemetar. Tubuhmu tertelan kaos warna biru, bergambar bunga mawar. Membuatku berpikir betapa kamu memang telah menjadi bidadari seperti yang selama ini sering aku bayangkan: dengan sepasang sayap terjuntai di punggung, lembut dan bersih. Di langit, segarit jerit, bagai bayang usungan mayit. Sedangkan lenganmu, penuh pecahan kaca, luka yang lama … Baca Selengkapnya

Cerpen : Percintaan Bulbul oleh Abidah El Khalieqy

“PADA suatu masa, saya melihat laki-laki kulit putih itu seperti sebongkah salju, putih dan dingin, beku. Ia lebih tinggi dan saya, sehingga ketika berbicara di hadapan saya, ia membungkuk seperti berhadapan dengan anak kecil.” Jeff tertawa. Tapi aku tidak memiliki alasan untuk menyertainya tertawa. “Dan, kini saya berhadapan dengan Anda, Jeff.” “Dan, aku seperti potongan … Baca Selengkapnya

Cerpen : Jenazah oleh Achmad Munif

MALAM larut dan suasana sepi sekali. Tidak ada suara gemerisik daun-daun. Bahkan angin pun bagaikan berhenti bertiup. Mata saya tidak mau saya pejamkan, padahal seisi rumah sudah tidur pulas. Tiba-tiba di tengah-tengah kesunyian itu terdengar suara bence—sejenis burung malam—menjerit-jerit. Menurut kepercayaan di desa saya, burung bence jarang mengeluarkan suara. Dan kalau pada malam hari burung … Baca Selengkapnya