Sudah berhari-hari dari rumah pertama terdengar bunyi hantaman benda keras yang bertubi-tubi. Terdengar pula suara-suara melengking yang menyakitkan telinga. Orang-orang yang tinggal di sana sedang membangun atap untuk sebuah toko yang menghadap…
Tag: Iin Farliani
Cerpen : Kesaksian Seorang Penulis pada Hari Liburnya oleh Iin Farliani
AKU tidak membawa kacamataku, jadi aku tidak bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi di hadapanku. Ada jarak kira-kira lima puluh meter dari tempat aku duduk dengan tempat si dosen dan kekasihnya…
Cerpen : Guru Besar oleh Iin Farliani
AKU bangkit dari bak berisi cairan formalin. Seluruh tubuhku menguarkan bau yang sangat menyengat. Bau yang akan mengikuti mahasiswa kedokteran ke mana pun mereka pergi sehabis mereka menyelesaikan praktikum anatomi di ruangan…
Cerpen : Mawar Itu Merah, Es Itu Dingin oleh Iin Farliani
Kesunyian menyelimuti toko buku yang akan tutup. Tak ada lagi yang perlu dibereskan selain cepat-cepat berkemas. Sebelum benar-benar menutup pintu, seorang lelaki bernama Ash berpikir apakah ia perlu menurunkan foto berbingkai cokelat…
Cerpen : Presiden Dapur oleh Iin Farliani
SATU-satunya yang begitu menarik perhatianku ketika berhasil meloloskan diri dari kerumunan untuk masuk ke rumah Runn ialah tiga sstoples kaca berisi kimci yang terletak dalam kulkas yang pintunya telah terbuka. Bukan berarti…
Cerpen : Dia Ingin Segera Menghambur ke Pelukan Ibu oleh Iin Farliani
LEA bertanya-tanya mengapa dahulu saat dia masih kecil, ibunya tidak pernah membuat kue Lebaran. Mengapa ibunya tidak belajar memasak kue-kue lezat yang kini terhidang di ruang tamu Lea? Dahulu dia, ibu, dan…
Cerpen : Mei Salon oleh Iin Farliani
Sebuah plang bertulisan ”Mei Salon” tergantung di tembok salah satu rumah bercat merah muda yang berada di lingkungan wisma para pegawai dari luar daerah itu. Tidak ada keterangan lain yang menunjukkan bahwa…
Cerpen : Yang Selalu Memotong Rambutnya oleh Iin Farliani
“AKHIR-AKHIR ini, laki-laki itu cukup sering memotong rambutnya. Tumbuh, potong lagi. Tumbuh, potong lagi. Hubungan kami tidak dekat tapi aku mengenalnya sebagai rekan kerja,” ucap Sentot sambil menunjuk ke arah laki-laki muda…
Cerpen : Cemara oleh Iin Farliani
Malam itu mereka menghabiskan waktu di beranda rumah. Si wanita, karena merasa suasana begitu sepi, mulai memutar kenop radio dan mengalunlah lagu-lagu sendu. Laki-laki yang duduk di sampingnya tidak suka mendengarkan lagu-lagu…