Cerpen : Aku Telah Haji oleh Sahari Nor Wakhid

HARI pertama setelah kepulanganku, aku berjalan di pasar desa dengan kepala tegak. Warga desa menyambutku dengan hormat, menyebutku Pak Haji Hamid. Namun, mereka yang mengenalku dengan baik merasa ada yang aneh. Meskipun aku telah pulang dengan gelar haji, tabiatku tetap sama. Aku masih sering marah-marah, bahkan lebih sering memamerkan gelarku. Aku duduk di sebuah warung … Baca Selengkapnya

Cerpen : Membungkam Anarki oleh Ahmad Amroe

SIANG itu sang surya menyinari bumi begitu teriknya. Menghiasi hari dengan cahaya keemasan yang begitu menyengat apa saja yang diterpanya. Di balik itu, sang bayu bertiup semilir menyusupi, mengembuskan tipis-tipis sedikit kesejukan. Menyentuh lembut pori-pori kulit untuk sekadar membantu menepiskan kegerahan. Namun damainya suasana hati menikmati hari kini mulai berangsur pergi. Ada momen tak menyenangkan … Baca Selengkapnya

Cerpen : Di Balik Lamin oleh Ratna Puja Ningrum

RAYA tidak pernah menyangka dirinya akan dikirim sejauh ini. Awalnya, ia hanya seorang arsitek muda yang bekerja di sebuah perusahaan restorasi bangunan bersejarah di Jakarta. Namun, ketika perusahaan mendapat proyek untuk merestorasi lamin tua di Kutai Barat, namanya tiba-tiba dimasukkan dalam daftar tim. Ia menerima tugas itu tanpa ragu, meskipun tidak tahu bahwa di tempat … Baca Selengkapnya

Cerpen : Selebrasi oleh Sahari Nor Wakhid

“JADI, Bu Darti, apa Ibu merasa dihargai saat perayaan Hari Guru Nasional kemarin?” tanya Fikri tiba-tiba. Fikri adalah seorang guru muda yang baru dua tahun diterima sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Saat jam istirahat, ia berbicara dengan Bu Darti di ruang guru. “Menghargai guru tidak sekadar memberikan bunga atau berdiri saat upacara, Pak … Baca Selengkapnya

Cerpen : Percakapan di Pemakaman oleh Sahari Nor Wakhid

DI tengah bayangan pohon kamboja yang menghitam oleh sinar bulan, dua orang penggali kubur, Tio dan Bagas, duduk di atas tanah lembap yang baru saja mereka gali. Ini bukan kali pertama mereka harus bekerja saat malam. Mereka selalu siaga kapan saja ada panggilan menggali tanah pemakaman. Mereka juga tetap bekerja di antara anggapan paradoksal. Di … Baca Selengkapnya

Cerpen : Kabar dari Pulau Liberty oleh Fajar Djafri

KADANG sulit memahami mengapa kita melakukan hubungan jarak jauh. Tetapi ketika membaca pesanmu, seolah aku berada dekat dan merasakan kelucuan yang engkau hadirkan. Kamu menambahkan banyak kegembiraan dan menebarkan hal positif. By JS “Lucu?! Aku bukan badut,” responsku menerima pesan singkat mengawali pagi. Baru kubuka ponsel yang semalam kehilangan daya mengejar batas akhir penyetoran liputan … Baca Selengkapnya

Cerpen : Duka Anggrelia oleh Arwin Andrew

ANAK perempuan itu berlari menyusuri taman sembari menyunggingkan senyum. Balon hijau dalam genggamannya melambai mengikuti kaki yang melangkah ke arah tempat perosotan. Matanya tertuju ke arahku, memancarkan rona wajah memerah. Tak lama, seorang perempuan datang menghampirinya. “Ia sangat mirip denganmu,” kataku mencoba menyapa. Perempuan itu tak banyak berubah sejak terakhir kali aku bersua dengannya beberapa … Baca Selengkapnya

Cerpen : Suara dari Ruang Jemala oleh May Wagiman

“DIAM! diam!” Ivy berkata sambil menutup kedua telinganya. Ia berjalan bolak-balik di dalam kamar. Dahi mengernyit. Kedua pelipis berdenyut. Dada penuh kepedihan. Seperti Ivy, gemawan hitam di luar sana terlihat berat membawa beban. Berusaha keras membendung sesuatu yang mendesak keluar. Kamar berdinding putih diam mengamati. Menjadi saksi bisu pertarungan Ivy melawan suara-suara menakutkan yang kerap … Baca Selengkapnya

Cerpen : Kapitalisme di Bawah Selimutku oleh Esty Pratiwi Lubarman

“AKU selalu ingin melihat langit sore ketika revolusi,” katamu. Kita pernah melihat beberapa malam yang jatuh dalam percakapan. Seperti bekas ciumanmu yang selalu tanggal di sudut tubuhku. Aku hanya perempuan yang percaya dengan kaki kecilnya sendiri. Apakah hari itu sudah tiba? Seperti suara yang selalu mengusikmu ketika pagi perlahan begitu dingin. Kemudian mengerak dan menjadi … Baca Selengkapnya

Cerpen : Kafe Bukan Tempat Kencan yang Baik oleh Rafly Akbar

DEWI menatap lekat pintu itu tanpa berkedip sedikit pun. Matanya memindai pintu kaca kafe yang kabur tersebut. Ia berharap bunyi lonceng di atasnya membawa seorang pria yang ditunggunya. Satu menit tak berkedip memandang pintu, tetapi yang ditunggu belum juga muncul-muncul. Untuk kesekian kalinya, ia mengecek ponselnya, waktu menunjukkan pukul 03:47. Sudah 47 menit ia menunggu … Baca Selengkapnya