Cerpen : Aku Telah Haji oleh Sahari Nor Wakhid

HARI pertama setelah kepulanganku, aku berjalan di pasar desa dengan kepala tegak. Warga desa menyambutku dengan hormat, menyebutku Pak Haji Hamid. Namun, mereka yang mengenalku dengan baik merasa ada yang aneh. Meskipun aku telah pulang dengan gelar haji, tabiatku tetap sama. Aku masih sering marah-marah, bahkan lebih sering memamerkan gelarku. Aku duduk di sebuah warung … Baca Selengkapnya

Cerpen : Selebrasi oleh Sahari Nor Wakhid

“JADI, Bu Darti, apa Ibu merasa dihargai saat perayaan Hari Guru Nasional kemarin?” tanya Fikri tiba-tiba. Fikri adalah seorang guru muda yang baru dua tahun diterima sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Saat jam istirahat, ia berbicara dengan Bu Darti di ruang guru. “Menghargai guru tidak sekadar memberikan bunga atau berdiri saat upacara, Pak … Baca Selengkapnya

Cerpen : Percakapan di Pemakaman oleh Sahari Nor Wakhid

DI tengah bayangan pohon kamboja yang menghitam oleh sinar bulan, dua orang penggali kubur, Tio dan Bagas, duduk di atas tanah lembap yang baru saja mereka gali. Ini bukan kali pertama mereka harus bekerja saat malam. Mereka selalu siaga kapan saja ada panggilan menggali tanah pemakaman. Mereka juga tetap bekerja di antara anggapan paradoksal. Di … Baca Selengkapnya

Cerpen : Gila Status oleh Sahari Nor Wakhid

KALAU saja aku tak memedulikan status, mungkin hidupku akan lebih tenang. Keluargaku akan hidup berkecukupan. Tak banyak mengikuti tren. Tak haus pujian, sanjungan, atau keinginan selalu bisa dielu-elukan. Sayangnya, status itu menjadi penting. Harga yang tak bisa ditawar. Bahkan, aku rela mengorbankan segalanya demi meraihnya. Gila. Aku ingin dianggap sebagai penolong di mata keluarga. Sebagai … Baca Selengkapnya