Cerpen : Mudik ke Kuburan oleh Agus Noor

Di ruang tunggu Rumah Sakit kami sama duduk, sesekali berseling batuk, memandangi orang-orang yang terkantuk: bosan antre menunggu giliran masuk ruang pemeriksaan. Rasanya, kami juga sama melihat Maut yang sembunyi di sudut gelap, mengenakan mantel kusam, seperti pencuri yang pintar menyamar. Tapi, mungkin itu hanya ilusi kami saja. Jam di dinding seakan telah begitu lelah … Baca Selengkapnya

Cerpen : Kisah Cinta Perempuan Perias Mayat oleh Agus Noor

Enam laki-laki yang menyatakan cinta seketika menjauhinya begitu tahu ia perias mayat. Sepertinya kematian dan cinta bukan jodoh yang baik. Ada yang seketika pergi, dengan raut pucat, seakan melihat mayat. Ada yang dengan sesopan mungkin menghindar, selalu beralasan sedang sibuk bila ia menghubungi mengajak ketemu atau sekadar menyapa kabar, kemudian memblokir kontaknya. Pernah ia berhubungan … Baca Selengkapnya

Cerpen : Pelahap Kenangan oleh Agus Noor

Kau bisa dengan mudah mengenali orang-orang yang hidup dalam kenangan. Mereka selalu terlihat murung. Tahukah kau, karena dalam kepala mereka ada belatung yang perlahan-lahan menggerogoti kenangan mereka. Tapi mereka tak pernah menyadarinya. Kenangan memang seperti peta buta, yang bisa membuat kita tersesat di dalamnya. Aku pernah melihat orang yang terperosok dalam kenangannya yang mengerikan. Orang-orang … Baca Selengkapnya

Cerpen : Enam Cerita oleh Agus Noor

SENJA DI MATA YANG BUTA BILA ada yang menceritakan padamu senja terindah yang pernah dilihatnya, dengan langit yang selalu kemerahan, dia pasti belum datang ke tempat kami. Senja terindah hanya ada di sini. Senja yang kuning keemasan, seolah madu lembut dan bening yang ditumpahkan ke langit hingga segala yang mengapung di permukaan air menjadi tampak kuning … Baca Selengkapnya

Cerpen : Requiem Kunang-Kunang oleh Agus Noor

  Barangkali aku akan menjadi kunang-kunang terakhir di kota ini. Segalanya terasa sebagai kesenduan di kota ini. Gedung-gedung tua dan kelabu, jalanan yang nyaris lengang seharian, deretan warung kelontong dan kafe-kafe sunyi dengan cahaya matahari muram yang mirip kesedihan yang ditumpahkan. Kota ini seperti dosa yang pelan-pelan ingin dihapuskan. Bila suatu kali kau berkunjung ke … Baca Selengkapnya

Cerpen : Kunang-kunang di Langit Jakarta oleh Agus Noor

  Ia kembali ke kota ini karena kunang-kunang dan kenangan. Padahal, ia berharap menghabiskan liburan musim panas di Pulau Galapagos—meski ia tahu, kekasihnya selalu mengunjungi pulau itu bukan karena alasan romantis, tapi karena kura-kura. Kura-kura itu bernama George. Mata Peter akan berbinar setiap menceritakannya. Ia termasuk keturunan langsung spesies kura-kura yang diamati Charles Darwin ketika … Baca Selengkapnya

Cerpen : Kunang-kunang dalam Bir oleh Agus Noor, Djenar Maesa Ayu

Di kafe itu, ia meneguk kenangan. Ini gelas bir ketiga, desahnya, seakan itu kenangan terakhir yang bakal direguknya. Hidup, barangkali, memang seperti segelas bir dan kenangan. Sebelum sesap buih terakhir, dan segalanya menjadi getir. Tapi, benarkah ini memang gelas terakhir, jika ia sebenarnya tahu masih bisa ada gelas keempat dan kelima. Itulah yang menggelisahkannya, karena … Baca Selengkapnya

Cerpen : Ada yang Menangis Sepanjang Hari… oleh Agus Noor

  Tangisan itu seperti kesedihan yang mengapung di udara. Menyelesup ke rumah-rumah kampung pinggir kota itu. Karena hampir setiap hari mendengar orang menangis, maka para warga pun tak terlalu peduli. Tapi ketika sampai malam tangis itu terus terdengar, sebagian warga pun menjadi mulai terganggu. Tiba-tiba saja tangis itu seperti mengingatkan pada banyak kesedihan yang diam-diam … Baca Selengkapnya

Cerpen : Pemetik Air Mata oleh Agus Noor

  Mereka hanya muncul malam hari. Peri-peri pemetik air mata. Selalu datang berombongan— kadang lebih dari dua puluh—seperti arak-arakan capung, menjinjing cawan mungil keemasan, yang melekuk dan mengulin di bagian ujungnya. Ke dalam cawan mungil itulah mereka tampung air mata yang mereka petik. Cawan itu tak lebih besar dari biji kenari, tapi bisa untuk menampung … Baca Selengkapnya

Cerpen : Mawar di Tiang Gantungan oleh Agus Noor

Kuceritakan apa yang kulihat. Tapi kalian mengatakan aku dusta, karena aku buta. Aku memang tak punya mata. Namun berapa kali mesti kukatakan pada kalian, betapa aku bisa melihat langit yang hijau lembut dan halus seperti permukaan agar-agar. Aku bisa melihat pepohonan yang ungu, daun-daunnya yang kemerahan, butiran hujan yang bening keemasan hingga segalanya jadi tampak … Baca Selengkapnya