INDO’ melakukan hal yang tak biasanya pagi ini. Kebiasaan pagi indo’ mengaji sampai matahari muncul. Sampai bibirnya menjadi lemas untuk terbuka. Sampai huruf-huruf Alquran yang terdengar hanyalah satu, berentetan, sehingga yang ada malah lebih terdengar mengigau dibanding mengaji.

Kebiasaan lainnya, ia suka berkeliling sekitar rumah tanpa alas kaki. Singgah di rumah-rumah tetangga, bercengkerama sampai petang, dengan sarung sutra balo tettong yang tak pernah lepas dari tubuhnya, dengan warna yang sudah sedemikian tenggelamnya. Seolah, di rumah hanya punya satu sarung, padahal banyak. Padahal yang lebih bagus ada. Ia memang sudah amat mencintai sarung itu.

Pernah suatu hari, Daeng Tahang, kakakku, membawa pergi sarung itu, entah disembunyikan di mana. Dia dengan keyakinannya yang barangkali sama dengan keyakinan bumi bulatnya Galileo Galilei, sarung sutra itu tak akan pernah muncul lagi di rumah ini. Namun, begitulah mungkin suatu ikatan cinta bekerja, sarung itu lebih tahu jalan pulang ke pangkuan tuannya.

Ada saja orang yang menjadikan sarung itu sebagai penutup panci berisi gambang dengan niatan akan ada wajah semringah indo’ mendapatkan penganan kesukaannya. Yang ada, indo’ murka dengan sumpah serapahnya yang membuat seisi kampung berkumpul, seolah takut kalau-kalau ada nyawa yang akan terlepas, entah indo’, entah Daeng Tahang. Dan sejak saat itu, tidak ada lagi yang berani menyentuh sarung itu.

Indo’ melakukan hal yang tak biasanya pagi ini. Pukul 9 pagi, ia masih bergelung dengan selimutnya. Sempat bangun shalat Subuh, kemudian tidur kembali, entah tidur, entah cuma berbaring. Hanya tak bergerak. Daeng Tahang yang setiap pagi mengunjungi indo’ sebelum ke kantor kelurahan, bolak-balik mengecek kamar indo’. Kadang mematung lama di samping indo’, kemudian keluar lagi, masuk lagi.

Sesungguhnya, itu adalah perbuatanku sebelumnya. Memperhatikan apakah selimut yang dipakainya masih naik turun atau tidak, untuk memastikan indo’ baik-baik saja.

Baru kemarin kabar menggegerkan itu sampai pada orang kampung sini. Tentang lelaki tua yang setiap sorenya sering lewat di depan rumah ditemukan sudah tidak bernyawa lagi saat dibangunkan untuk shalat Subuh. Aku sering mendengar kabar kepergian orang-orang, dengan rupa-rupa bentuknya, menciptakan ketakutan-ketakutan. Padahal, ke mana lagi tujuan akhir selain ke sana dan semua yang hidup akan melewatinya.

“Masih bernapas.” Daeng Tahang keluar kamar dengan raut lega. Tanganku masih sempat menepuk pundaknya dengan gemas, menutupi kegelisahanku sendiri sebenarnya. Membayangkan ketakutan kalau-kalau indo’ harus pergi dengan cara seperti itu.

***

Aku seperti seorang ibu baru, seolah punya bayi yang harus kupantau terus perkembangannya. Bedanya, mungkin hanya pada perasaan. Seorang ibu baru tentu akan menyambut antusias jika tiba-tiba bayinya sudah bisa merangkak dan aku tentu dipenuhi kekhawatiran seluruhnya.

Tentang indo’, barangkali ia memang benar-benar sakit. Namun, ketika ditanya, ia diam seribu bahasa. Seolah mulut itu tak menemukan kunci yang pas untuk membukanya. Rasanya, jauh lebih baik kalau indo’ ikut bercengkerama saja bersama tetangga kemudian pulang petang. Bahkan, kali ini, tidak apa-apa lebih larut daripada melihat indo’ seperti kucing kedinginan. Bangun sebentar untuk shalat Zhuhur dan Ashar atau mungkin dijamaknya shalatnya, kemudian menarik selimut kembali, bangun menjelang petang.

Pun makanan yang kusimpan di dekatnya, lebih sering utuh tak tersentuh. Pernah tergubris sedikit dengan satu sendok, mungkin juga dua, namun kembali ditemukan dingin dengan kucing-kucing kelaparan yang sudah menyambut gembira di kolong rumah sana.

“Barangkali ini fase seseorang yang akan memasuki masa pikun, tapi indo’ masih terbilang muda, usianya baru melewati enam puluhan.”

Aku banyak mengeluh kepada Daeng Tahang. Sejak dia menikah kemudian memutuskan untuk punya rumah sendiri, sesungguhnya dia tidak akan pernah jauh dari rumah asalnya. Sejak ambo’ pergi meninggalkan indo’ saat kami masih kecil dan tak pernah kembali lagi, Daeng Tahang menjadi tumpuan segala sesuatunya.

Sering aku mengkhawatirkan berbagai hal kepadanya, tentang berita-berita yang disuguhkan media yang lebih sering menjadi asal muasal segala kekhawatiranku. Kabar duka yang sudah seperti panggung pertunjukan dan korona yang masih saja menjadi tumbal kenapa bisa ini, kenapa bisa itu. Aku menjauh dari televisi dan ponsel pintar saat ini.

Tapi, berita-berita yang asalnya dari tetangga ternyata jauh lebih cepat sampainya. Jika sudah ada dua orang ibu di teras rumah Puang Bollo, yang satu menggaruk kepala, satunya lagi gemas seolah kepala itu akan menjadi target jari-jarinya memangsa kutu, maka akan muncullah satu cerita utuh yang dibuatnya sendiri. Dan ibu-ibu lainnya akan datang berbondong-bondong, juga indo’ waktu dia belum menjadi aneh. Kemudian, suara-suara mereka terdengar sampai dalam kamar.

“Peramal itu meninggal, kena korona.”

“Artis sinetron itu juga meninggal, korona juga.”

“Kasihan sekali, padahal mereka sudah divaksin bukan?”

“Saya tidak mau divaksin, kemarin di televisi ada yang meninggal setelah divaksin.”

“Kampung kita dapat giliran vaksin minggu depan.”

Tentang vaksin-memvaksin itu, Daeng Tahang sebenarnya sudah jauh-jauh hari mengumumkan kepada warga. Bahwa semua akan divaksin kecuali yang tidak memenuhi syarat. Bahwa vaksin akan membuat mereka baik-baik saja. Bahwa kekhawatiran-kekhawatiran mereka tidak seperti itu kenyataannya.

Sebagai aparat kelurahan, Daeng Tahang lebih sering menjadi sasaran murka warga. Ia dianggap sudah bersekongkol dengan pejabat tertentu yang uangnya dinikmati Daeng Tahang sendiri, sehingga bisa punya rumah, sehingga rumahnya bagus, sehingga ada mobil yang sering parkir di depan rumahnya.

Jika sudah seperti itu, aku akan membela Daeng Tahang mati-matian. Ikut penyuluhan dari satu RT ke RT lainnya dengan mengandalkan ijazah Jurusan Kesehatan Masyarakat dari kampus yang cukup ternama di ibu kota provinsi, meskipun aku masih pengangguran, meskipun orang-orang juga tidak sepenuhnya percaya.

Namun, ternyata pekerjaan baruku yang sebenarnya adalah meyakinkan indo’ agar mau vaksin. Ternyata dari sinilah asal-muasal indo’ menjadi tidak seperti biasanya beberapa hari belakangan ini.

“Indo’ tidak mau divaksin, tapi dia tidak frontal karena menjaga nama baik Daeng Tahang sebagai aparat kelurahan.”

“Indo’ tidak sakit, dia baik-baik saja sebenarnya, dia hanya tidak mau divaksin.”

“Indo’ takut divaksin.”

Seperti setrika, bolak-balik kusampaikan hal itu kepada Daeng Tahang. Disambut dengan tepuk jidat dan senyum mirisnya yang entah sedih, entah kecewa. Indo’ memang tidak meresahkan sebagai warga, tapi dia meresahkan sebagai ibu. Padahal, ia bisa saja bercerita sejak awal, kekhawatiran-kekhawatirannya yang ia tampung sendiri. Begitu selalu. Bahkan, lebih sering kutemui menangis diam-diam sejak ambo’ pergi dan menikah dengan perempuan lain. Ia bebas merutuki dirinya sendiri, tentang dirinya yang kenapa menjadi sesial ini.

Tapi, tentu saja, bagaimanapun meresahkan, ia tidak pernah menjadi ibu yang sial bagi kami. Indo’ yang pada akhirnya mau divaksin, meyakinkan ibu-ibu lainnya. Tawa merekah Daeng Tahang, berkurang satu bebannya.

Impian terbesar indo’ sejak dulu, pergi ke Makkah. Ketika tiba gilirannya ke Makkah tahun ini, ia kemudian menjadi orang yang paling sibuk di dunia. Indo’ menyiapkan segala sesuatunya sendiri. Mulai dari pakaian yang nantinya akan dipakai ihram, juga benda-benda lain yang menurutku terlalu cepat untuk disiapkan. Tak pernah kulihat indo’ sebahagia itu sebelumnya, dan sedikit pun tak akan kuusik kebahagiaan itu, aku berjanji. Senjata inilah yang dijadikan Daeng Tahang yang membuat indo’ memutuskan mau ikut divaksin.

“Saat ini syarat ke Makkah harus sudah divaksin.”

Tentu indo’ tidak akan sepercaya itu sebelumnya jika dia belum mengorek informasi dari paguyubannya yang seperti punya sekretariat tetap di rumah Puang Bollo. Suara-suara dari sana kembali terdengar sampai di kamar.

“Iya, memang harus divaksin.”

“Kalau tidak ada kartu vaksin, batal ke Makkahnya.”

“Seluruh dunia juga diberlakukan seperti itu.”

Berakhirlah indo’ di ruang vaksin, dengan tawanya yang melebar. Tak sedikit pun ada kekhawatiran di wajah itu begitu jarum suntik bersatu dengan dagingnya. Ia seperti bukan indo’ yang kukenal beberapa hari yang lalu. Sungguh, begitu mudahnya orang-orang berubah seketika itu juga.

***

Media sosial yang tidak pernah ada jedanya mengabarkan kesedihan-kesedihan beberapa waktu belakangan ini. Tentang nyawa-nyawa manusia yang seolah begitu mudahnya pergi satu satu, juga tentang batalnya keberangkatan haji tahun ini.

“Indo’ pasti kecewa sekali.” Sesenggukan kusampaikan berita itu kepada Daeng Tahang lewat telepon, dengan suara sekecil mungkin, takut kalau-kalau indo’ mendengar, meski biasanya ia sudah tertidur pada jam seperti ini. Padahal indo’ sudah mempersiapkan banyak untuk keberangkatannya kali ini. Padahal, ia sudah memutuskan ikut divaksin, melawan ketakutannya sendiri dan bahkan ikut meyakinkan ibu-ibu lainnya.

“Besok pagi-pagi sekali, saya ke situ, tak ada yang boleh menyampaikan berita ini kepada indo’ sebelum kita, jangan sampai Indo’ menonton televisi atau ke rumah Puang Bollo, tunggu sampai saya datang.” Suara Daeng Tahang terdengar getir. Ada nelangsa yang sama di sana.

Kemudian, tak ada suara lagi. Hanya sesenggukanku dan suara-suara jangkrik yang berlomba dibawa angin malam paling kelabu saat itu. Anjing melolong di kolong rumah. Aku yang tak pernah tidur, entah air mataku yang tak juga berhenti, atau kegelisahanku yang semakin menjadi-jadi. Kekhawatiran terhadap segala sesuatu dan bayang-bayang indo’ jika ia tahu semua ini. Semoga, malam lebih panjang kali ini. Atau dunia kiamat saja sekalian.

Dan Tuhan yang diam-diam mendengar pintaku. Karena besoknya, Daeng Tahang tak akan pernah sampai ke rumah ini. Dia kecelakaan dalam perjalanannya menuju rumah, meninggal di tempat. Seolah tak ada lagi hal yang perlu dia jelaskan kepada indo’ karena pada hari itu juga indo’ tak pernah bangun dari tidurnya, selamanya. Atau, barangkali Daeng Tahang dan indo’ sudah sama-sama punya janji untuk saling menjelaskan di tempat yang berbeda? ***

 

 

Catatan:

– indo’ (bahasa Bugis) = ibu

– ambo’ (bahasa Bugis) = bapak

– daeng (bahasa Bugis) = kakak

– gambang (bahasa Bugis) = tapai (penganan dari beras ketan)

– balo tettong (bahasa Bugis) = corak sarung yang hanya berbentuk garis tegak lurus vertical

– puang = gelar bangsawan Bugis

 

 

Chaery Ma tinggal di Tolitoli, Sulawesi Tengah, merupakan emerging writer di Makassar International Writers Festival 2021. Pada 2016, cerpennya, “Rumah Hujan”, menjadi salah satu cerita anak terbaik tema kearifan lokal Badan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.