Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Kue Itu Memakan Ayahku oleh Guntur Alam

Posted on Ming, 04 Mar 2018

”Pelan-pelan, aku akan mati karena dimakan sebuah kue.”

Itu ayah ucapkan padaku tepat satu minggu setelah ia diangkat menjadi juru potong kue di kantornya. Awalnya aku bingung, kok bisa ayah menjadi juru potong kue, padahal kata ibu, ayah seorang akuntan yang hebat.

”Di kantor, kita bisa menjadi apa saja,” terang ayah saat aku mengemukakan kebingunganku. ”Kadang-kadang, seorang sarjana ekonomi bisa menjadi tukang ketik surat. Sarjana teknik sipil bisa jadi tukang fotocopy.” Aku ingat persis, ayah tersenyum lebar saat mengucapkan kalimat itu padaku.

Aku melipat kening, ”Kok, bisa?”

Ayah terkekeh. ”Lah, namanya saja bekerja, ya tergantung bos butuh tenaga kita sebagai apa.”

”Jadi, bos ayah butuh tukang potong kue?”

Ayah mengangguk. Aku bergidik. Dalam benakku, bos ayah pasti seseorang bertubuh tambun, mempunyai pipi chubby, bibir tebal, mulut lebar yang tak berhenti mengunyah dan jari-jari tangan pendek nan gemuk. Namun, seminggu setelah itu, khayalanku tentang bos ayah buyar, saat kami secara tak sengaja bertemu dengannya di pusat perbelanjaan. Dia laki-laki kurus dengan kulit kisut, rambut beruban dengan gaya jabrik—yang kupikir tidak cocok dengan umurnya, dan selalu tertatih-tatih mengikuti istrinya yang sibuk memasuki toko demi toko, seolah di sepasang kaki perempuan itu sudah tertanam baterai dengan daya listrik full.

”Itu istri ketiganya,” bisik ayah. Dan aku hanya melongo mendengarnya. Kuharap, ibu tak pernah mendengar ucapan itu.

?

”Mula-mula, kue itu memakan otak ayah. Kemudian mata, lidah dan mulut.” Ucapan itu ayah utarakan saat kami duduk berdua di teras belakang, selepas hujan jelang magrib dan ayah baru saja menerima telepon dari bosnya. Tepat sebulan setelah ucapan pertama ayah.

”Ayah pikir, setelah itu, dia akan memakan hati dan jantung ayah.”

Aku gemetar mendengarnya, ”kalau semua dimakan, ayah bisa mati,” mataku berkaca-kaca. Lututku gemetar di bawah meja.

Ayah tergesa menoleh, menautkan pandangan di wajahku yang pasi. Dia berusaha tersenyum, tapi aku mengenali senyum ayah. Ulasan di bibirnya petang itu terlihat penuh beban, sangat dipaksakan, sepertinya kue itu telah memakan bibir ayah secara perlahan, membuat ayah tak bisa tersenyum semanis yang kukenal.

”Ayah harap tidak,” suaranya serak, ”bila ayah mati dimakan kue itu, bagaimana kau dan ibu? Ayah tentu tak akan pernah meninggalkan kalian.”

Aku hampir saja menangis mendengar ucapan ayah itu, tapi tergesa tersenyum lantaran ayah tersenyum demikian manis. Lalu ayah bangkit dari kursinya dan berlutut di depanku. Tiba-tiba saja ayah memelukku. Aku dapat mendengar debar jantungnya. Pelukan ayah begitu erat dan perlahan aku mendengar isak lirih di telingaku, pundak ayah terguncang.

?

”Apa kau tahu kalau ibu dan ayah berkencan pertama kali di kafe yang terkenal dengan

kuenya?”

Ibu menceritakan ini padaku saat kami sibuk di dapur, memasak bolu nanas favorit ayah. Aku tergesa menggeleng dan berkata, ”ayah belum pernah bercerita.”

Ibu melirik padaku dan tersenyum simpul.

”Dia mungkin lupa,” tangan ibu kembali mengaduk adonan kue. Aku meratakan selai nanas di atas plastik yang nanti akan dipasang pada setiap lapis kue bolu ini. ”Kau tahu kan, kalau ayah suka sekali dengan kue?”

Aku mengangguk. Kami semua tahu itu, ayah menyukai kue. Dulu, nenek, almarhum ibu dari ayah, seorang pembuat kue. Ayah kerap bercerita padaku bagaimana mahirnya nenek membuat berbagai kue yang akan dijual di teras rumah setiap pagi. Dan kue favorit ayah adalah kue bolu nanas. Cara membuatnya mirip dengan kue lapis, tapi bedanya di kue bolu nanas, setiap akan dituang adonan baru, akan dipasang terlebih dahulu selai nanas.

”Saat itu ibu memesan brownies kukus,” lanjut ibu.

”Kenapa?”

Ibu tergesa menoleh padaku. ”Kenapa apanya?”

”Kenapa brownies kukus?”

”Oh,” ibu tersenyum, lucu sekali. ”Karena kafe itu terkenal dengan brownies kukusnya yang enak. Jadi ibu dan ayah ingin membuktikannya. Apa kau ingin tahu komentar ayahmu saat pertama kali menggigit kue itu?”

Mata ibu berubah jenaka. Aku menegakkan punggung, ”apa? Apa?”

Ibu tertawa kecil, ”kata ayah, nggak enak banget. Lebih enak buatan ibuku.”

Aku sudah menduganya. ”Ibu percaya begitu saja?”

”Oh, tidak,” ibu tergesa menggeleng.

”Lalu?”

”Ibu meminta ayahmu membuktikannya?”

”Caranya?”

”Tentu saja membawa ibu ke rumahnya dan mengenalkan ibu pada nenekmu.”

”Aahh!” aku menjentikkan jemari sembari mengedipkan mata. ”Ibu nakal sekali. Dengan begitu, ayah langsung mengenalkan ibu sebagai belahan jiwa pada nenek.”

Wajah ibu memerah dan dia tergesa membuang muka, tangannya pura-pura sibuk mengaduk adonan kue. Aku tergelak.

?

”Tolong, singkirkan itu dari meja,” ayah menunjuk piring kecil berisi kue bolu nanas yang dihidangkan ibu bersama secangkir teh.

Tanganku yang hendak terangkat menjangkau kue itu seketika turun kembali. Kutatap ibu, yang ternyata memandangku.

”Ini kue kesukaan ayah,” suaraku lirih.

”Ayah sedang tak ingin makan kue,” ayah membuang muka.

”Kenapa?”

Ayah bergeming. Dia memandang jauh, menyeberang halaman belakang dan melewati rumput, seolah dia tenggelam di sana. Dan aku serta ibu ada di dunia lain, yang terpisah oleh jarak dan waktu.

Itu kejadian pertama ayah menolak kue yang biasanya menemaninya menghabiskan petang usai penat di kantor. Mula-mula, aku dan ibu menduga, ayah hanya bosan. Dia sedang tak ingin makan kue. Namun dugaan kami itu sirna. Ayah bukan hanya tak ingin makan kue lagi, tapi dia terlihat takut melihat kue.

Pernah ayah terlonjak kaget, dia langsung berdiri dari kursi ketika ibu menghidangkan kue brownies untuk ayah. Kata ibu, ”mungkin saja ayah suka. Kan kami punya kenangan manis dengan brownies,” sembari mengedipkan mata nakal padaku. Dan aku terkekeh geli melihatnya.

Namun sayang, dugaan ibu meleset jauh. Ayah histeris dan refleks mendorong piring kue itu hingga jatuh berkeping-keping di lantai dapur rumah kami.

Aku dan ibu tertegun. Syok melihat reaksi ayah yang menurutku sangat berlebihan.

”Sori,” ayah mendesis dengan tangan gemetar ketika melihat aku dan ibu ketakutan. Ibu bahkan tergesa menarikku untuk berlindung dalam pelukannya.

”Sori,” ayah berdiri dari duduknya, langkahnya gemetar, juga tangannya. Dia merentangkan kedua tangan, memeluk kami yang terdiam. Tak ada yang bicara. Namun kesunyian telah menerangkan kepadaku dengan sangat benderang; ayahku telah berubah. Dia bukan berubah menjadi power rangers atau superman seperti serial kartun yang sering kutonton saban hari Minggu. Bukan. Ayah berubah dalam arti lain. Sesuatu yang tidak pernah bisa kupahami. Aku hanya tahu satu saja; ayahku tidak lagi menyukai kue, dia justru membencinya sekarang. Dan aku tak tahu alasannya.

?

”Ayah pikir, ayah akan segera mati dimakan kue-kue ini.”

”Kenapa bisa begitu?” aku menatap ke dalam bola mata ayah yang beriak. ”Apa sebuah kue bisa membunuh?”

”Bisa,” desisnya. ”Bahkan kue yang ayah potong-potong di kantor itu telah membunuh banyak orang.”

Aku terdiam. Kutatap ayah dengan saksama. Wajahnya keruh. Seperti ada sesuatu yang menghimpit jantungnya.

”Kau tahu rumah sekolah yang atapnya ambruk kemarin itu?” tanya ayah, tiba-tiba.

Aku berpikir, mengingat-ingat. ”Oh ya,” aku menjentikkan jemari. ”Itu sekolah Ridwan. Untungnya Ridwan terkena campak, jadi dia nggak masuk sekolah. Padahal kelasnya yang roboh.”

Aku ingat. Ibu membahas cerita heboh itu saat makan malam. Mulanya ayah tak bereaksi apa pun, dia makan seperti biasa. Tapi ketika ibu menyebutkan kata-kata, ”kok bisa ya, padahal baru dibangun setengah tahun lalu.” Tiba-tiba saja ayah menggebrak meja makan, isi mangkuk kuah terciprat, membasahi taplak meja. Aku kaget, pun ibu.

”Jangan banyak bicara saat makan!” suara ayah menggeram. Aku mengkeret di kursiku.

Padahal dulu, di meja makan, kami bebas menceritakan apa pun. Ibu mengisahkan kegiatan hariannya di rumah, bersama ibu-ibu tetangga bahkan gosip-gosip dengan tukang sayur yang kerap menyajikan rumor-rumor miring penghuni komplek. Aku juga sering bercerita tentang sekolahku. PR dari guru. Bahkan tentang teman sekelas yang diam-diam kusukai. Ayah pun selalu membagikan cerita di kantornya. Tentang teman-teman kantornya, bahkan tentang gosip para lajang di departemennya yang acapkali membuat ibu tertawa cekikikan. Entah apa yang lucu. Kadang-kadang aku bingung sendiri.

”Kenapa dengan sekolah itu?” aku tak tahu hubungannya dengan kue yang dipotong-potong ayah di kantornya. Apa hubungan kue dan atap sekolah yang ambruk?

”Itu karena kue yang ayah potong-potong.”

”Apa ayah yang memotong kue tart saat peresmiannya?”

Ayah menghela napas. Dia menggeleng.

”Lalu?”

Sekali lagi, dia mengembuskan napas.

”Kelak, kalau kau sudah besar, kau akan paham.”

Dan petang itu, cerita ayah tentang kue-kue yang perlahan menggerogotinya, menjadi cerita misteri yang akhir kisahnya ditulis secara menggantung, membuatku penasaran dan malamnya pikiran kanak-kanakku berkelana, mencari-cari akhir cerita itu sendiri. Aku juga membayangkan bentuk kue itu. Apa dia sebuah kue yang menyeramkan? Mungkin dia punya mulut dengan gigi taring yang tajam, sehingga dia bisa membunuh banyak orang, termasuk ayahku–kelak.

?

Pagi ini, aku terbangun karena mendengar jeritan histeris ibu. Tergesa aku melompat dari tempat tidur dan menemukan ibu yang gemetar di dapur rumah kami. Di lantai, aku melihat ayah tergeletak kaku. Diam. Mulutnya berbusa. Di tangan kanannya masih ada sepotong kue brownies buatan ibu. Di ujung kakinya, aku melihat botol pembasmi nyamuk.

Ibu luruh di lantai, menangis. Aku perlahan mendekat. Kulihat wajah ayah, bola matanya telah hilang. Kepalanya terbelah, otaknya kosong. Kulihat juga dadanya. Ada bolong besar di sana. Jantung dan hatinya juga telah raib. Aku jadi ingat ucapan ayah seminggu setelah dia diangkat bosnya menjadi juru potong kue di kantornya, ”pelan-pelan, aku akan mati karena dimakan sebuah kue.”

Dan pagi ini, ucapan ayah terbukti.

Guntur Alam : buku kumpulan cerpen gotiknya, Magi Perempuan dan Malam Kunang-kunang, Gramedia Pustaka Utama, 2015. Saat ini sedang menulis novel series tema urban legend bersama temannya dan diterbitkan Elex Media Komputindo, yang sudah terbit Arwah dan Tumbal (2018).

Amrizal Salayan : lahir di Bukittinggi tahun 1958. Menempuh studi seni rupa di FKSS IKIP Padang, lalu FSRD ITB Bandung, sampai ke jenjang pascasarjana. Amrizal dikenal sebagai pematung yang karya-karyanya terpasang di Maluku, Jambi, Bandung, Jakarta, Kalimantan Timur, dan Lampung. Bahkan, karyanya ditempatkan pula di Papua Niugini.

sumber : harian Kompas edisi 04 Maret 2018 di halaman 26 dengan judul “Kue Itu Memakan Ayahku”.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme