Saat dia berusia enam belas tahun, dia menyadari jika segerombol lintah telah beranak-pinak di dalam hati dan otaknya. Lintah-lintah itu hidup dengan menghisap darah dan memakan otaknya. Sialnya, tak ada yang bisa dia perbuat untuk membunuh lintah itu. Sebab dia tahu, jika mencincang mereka, sama saja dia mencacah hati dan otaknya sendiri. Lintah-lintah itu akan mati, bila dia mati.
Dia ingat persis kapan dia menyadari hati dan otaknya berlintah, kejadiannya tepat saat teman sekelasnya di SMA mengatakan jika ibunya wanita jalang. Dia bisa hidup karena ibunya menjual selangkangan.
Tubuhnya bergetar, dadanya bergemuruh, dia mengepal tangan. Ingin sekali dia menampar dan merobek serta mencakar mulut berbisa teman sekelasnya itu.
Namun, dia tak dapat melakukannya. Dia hanya bisa menangis sambil mengigit bibir dan menahan sesak dalam dadanya di toilet sekolah. Lalu dia muntah dan tujuh ekor hewan kenyal menjijikkan itu menggeliat-geliat di antara muntahannya. Kemudian ponselnya berbunyi, notifikasi dari Facebook, beberapa temannya tanpa malu-malu menandai dirinya di komentar mereka ihwal gosip yang beredar. Tak lama, mention dari Twitter dan Instagram pun masuk. Semua sama. Perutnya kembali mual dan dia kembali muntah, kali ini tiga belas ekor lintah sekaligus.
Gosip buruk tentang ibunya memang sudah lama terdengar. Dulu, sewaktu dia kelas lima SD, teman sebangkunya pernah bertanya, ”Apa benar kau anak haram?”
Dan dia tak bisa menjawab. Sebab seperti yang ibunya katakan pada dia, jika ayahnya meninggal saat dia masih bayi. Namun teman-temannya tak ada yang percaya. Besoknya, dia duduk sendirian sampai lulus SD karena temannya lebih memilih duduk bersama anak perempuan lain yang memiliki seorang ayah.
Dia bukan tak berusaha untuk membasmi segerombol lintah yang beranak-pinak dalam otak dan hatinya itu. Sebulan ketika dia menyadari jika otak dan hatinya berlintah, dia menelan obat nyamuk cair. Dia menduga, binatang menjijikkan itu akan mati saat racun itu masuk ke dalam lambungnya. Namun dugaannya meleset, yang ada dia justru dilarikan ke rumah sakit dan ibunya baru berhenti menangis saat dia dapat membuka mata kembali.
Dan ketika ibunya bertanya, ”Kenapa kau lakukan ini pada ibu?”
”Aku hanya ingin membunuh sekelompok lintah yang memakan hati dan otakku.”
Tak lupa, dia menyembunyikan ponselnya di bawah bantal dan memastikan ibunya tak bisa membuka pola kuncinya. Dia tak ingin ibunya membaca mention dan tagging dari teman-temannya di Instagram, Tiktok, Twitter, dan Facebook. Anehnya, dia terus mengikuti gosip tentangnya itu dan dia terus memuntahkan lintah di kamar mandi setelahnya.
Saat dia di rumah sakit, tak ada satu pun teman sekelasnya yang membesuk, pun saat dia dinyatakan boleh pulang oleh dokter, tak ada di antara mereka yang datang untuk merayakannya. Dia sedih, tetapi dia tahu kesedihan tak akan mengubah apa pun. Termasuk tak akan mengubah dirinya di mata teman-temannya. Bagi mereka dia anak seorang pelacur, sebaik dan semanis apa pun dirinya, itu tak mempengaruhi label itu. Dan mereka juga tak ingin berteman dengan seseorang yang otak dan hatinya digerogoti lintah.
Hari pertama dia kembali ke sekolah, ibunya memaksa untuk mengantarnya. Dia bersikeras menolak. Namun ibunya bergeming. Perempuan itu memaksanya masuk ke dalam mobil dan mengiringi langkah kakinya yang berat di sepanjang koridor sekolah. Dia tahu, di koridor sekolah yang sepi dan lengang itu, beribu pasang mata merah mengintainya dari balik dinding kelas-kelas yang senyap. Ada ribuan telinga yang siap mencuri dengar segala hal yang dia sembunyikan rapat-rapat dalam dadanya.
Tak lupa, dia menyembunyikan ponselnya di bawah bantal dan memastikan ibunya tak bisa membuka pola kuncinya. Dia tak ingin ibunya membaca mention dan tagging dari teman-temannya di Instagram, Tiktok, Twitter, dan Facebook. Anehnya, dia terus mengikuti gosip tentangnya itu dan dia terus memuntahkan lintah di kamar mandi setelahnya.
Dia hanya tertunduk dalam sembari menghitung jumlah lintah yang bergelantungan di hati dan otaknya, saat ibunya bicara dengan kepala sekolah berambut botak dan perut buncit itu. Dia ingin muntah saat melihat bibir tebal hitam kepala sekolah yang terus-menerus dilelehi lidah, sesekali terdengar tawa yang dibuat-buat, seperti ringkikan kuda jalang.
”Tenang saja. Ibu jangan khawatir. Saya akan menjamin tak akan ada lagi mulut usil yang membuat anak ibu tertekan. Jangan khawatir.”
”Terima kasih, Pak. Saya mengandalkan Bapak.”
Lalu mereka berjabatan tangan. Pegangan yang lama karena kepala sekolah seakan tak ingin melepaskan pegangannya.
Di kelas, saat dia melangkah masuk diantar ibunya dan kepala sekolah, dia mendengar bisik-bisik, kasak-kusuk dari teman-teman perempuannya. Sementara anak laki-laki tak berkedip sembari menelan ludah saat melihat kaki jenjang ibunya. Persis ketika dia duduk di bangkunya yang dingin dan berdebu, tiga belas ekor lintah betina di tubuhnya beranak. Tanpa menunggu lama, ketiga belas bayi lintah itu langsung menggigitnya, menyusu pada darah yang menetes-netes di dadanya.
*
”Bagaimana bisa kau bertahan hidup dengan lintah yang demikian banyak menghisap darahmu?”
Dia yakin sekali, jika pertanyaan itu hanyalah basa-basi seorang dokter pada pasiennya.
”Aku juga tak tahu. Bagaimana aku bisa bertahan selama ini?” Tetapi akhirnya dia menjawab apa adanya. Dia pun bingung, bagaimana caranya dia bertahan?
Sejujurnya, dia sendiri tak yakin untuk mendatangi dokter ini. Namun dia tak punya pilihan lain. Akhir-akhir ini serangan lintah-lintah itu semakin ganas. Mereka tak hanya menghisap darahnya, sekarang para lintah itu juga mulai memakan sedikit demi sedikit dagingnya. Dia merasa dirinya begitu keropos. Tubuhnya terlihat melar dan besar, tetapi kopong di dalamnya. Tak ada isi apa pun. Padahal dia sudah makan sebanyak yang dia bisa, agar dia tak pernah kekurangan darah. Sayangnya, para lintah itu beranak jauh lebih gesit daripada tubuhnya memproduksi darah. Dia semakin sulit tidur dan terus dilanda cemas akan lintah-lintahnya.
”Kau harus membunuh mereka. Kalau dibiarkan, justru kau yang dibunuh mereka.”
”Bagaimana caranya, Dok? Aku sudah pernah minum racun serangga. Tapi sepertinya lintah bukanlah nyamuk yang bisa dibunuh dengan Baygon cair.”
Wajah perempuan paruh baya itu memias, ketika mendengar ucapannya.
”Bukan. Bukan dengan cara seperti itu membasminya, tapi dengan sesuatu yang lain. Sesuatu yang berasal dari dirimu. Tekadmu. Lintah-lintah itu akan mati bila kau bertekad mereka mati. Bukan dengan memberi mereka makan yang banyak seperti ini.”
Dia diam. Entah mencerna atau justru merasa jika ucapan perempuan di depannya hanya lelucon lucu seorang dokter yang putus asa menghadapi pasien sepertinya.
Malamnya dia tetap tak bisa tidur. Para lintah itu tak pernah memberinya ampun. Bahkan saat dia baru saja hendak memejamkan mata, seperti dikomandoi, ratusan lintah di dalam dada dan kepalanya menggigitnya secara bersamaan. Bahkan ada di antara mereka yang berjalan keluar masuk telinganya, seakan-akan tengah melancong dengan riang gembira di sana. Padahal sudah sejak lama dia menonaktifkan seluruh social media-nya.
*
Dulu, ketika usianya jelang sembilan belas tahun, dia pernah yakin jika lintah-lintah dalam dirinya itu akan mati dengan sendiri. Keyakinan itu muncul bersamaan dengan kedatangan seorang pangeran berkuda putih dalam hidupnya. Laki-laki itu tampan, memiliki senyum manis dan perawakan kekar. Pokoknya dia lelaki idaman bagi gadis-gadis seusianya.
Namun, mimpi indahnya terkoyak. Tepat ketika dia merasa jika lintah-lintah di dada dan kepalanya tengah sekarat, segerombolan hewan menjijikkan itu terlihat kurus kering dan begitu nelangsa, tapi semua buyar.
Dia pernah menyesali keputusannya untuk membawa pangeran berkudanya ke rumah, mengenalnya pada ibunya, lalu membiarkan mereka bercakap-cakap saat dia sibuk di dapur menyiapkan minum. Dia seharusnya sadar, jika ibunya seorang penyihir jahat yang telah turut andil menabur benih lintah dalam dirinya.
Di hari mimpi indah yang dia gadang bersama pangeran berkuda itu koyak, dia pamit untuk pergi ke Kota B lantaran ada tugas kuliah. Dia sudah setengah perjalanan ketika dia menyadari jika sesuatu yang penting tertinggal dan sayangnya dalam cerita ini, dia tak mau menyebutkan sesuatu yang penting itu, jadi aku tak bisa menjelaskannya. Tak ada pilihan lain, dia harus kembali dulu. Jika tidak, perjalanannya ke Kota B akan sia-sia.
Dia tahu, ibunya tak akan pernah menduga jika dia kembali secepat itu. Saat dia melewati pintu depan yang tak tertutup rapat, telinganya seperti mendengar mantra-mantra sihir hitam yang mengerikan. Kakinya membatu, tetapi segerombol lintah yang tengah sekarat itu memaksanya untuk berjalan. Seolah-olah mereka mempunyai kekuatan gaib sehingga memiliki tenaga untuk menguasainya kembali.
Seperti pintu depan, pintu kamar ibunya juga tak tertutup rapat. Mantra-mantra sihir itu semakin jelas. Anehnya darahnya berdesir karena lamat-lamat dia mengenali suara selain milik ibunya. Tangannya sedikit gemetar saat mendorong pintu dan dia membatu seolah dikutuk saat melihat sepasang laki-laki dan perempuan telanjang sedang bergumul di atas ranjang. Tasnya terjatuh di lantai. Dua orang yang merapalkan mantra menoleh dan wajah mereka pasi. Laki-laki itu tergesa mendorong perempuan yang duduk di atasnya. Laki-laki itu berdiri dengan pedang terhunus di pinggangnya.
Dia meraung. Seluruh lintah dalam dirinya mendorongnya untuk menghambur. Tak ada mantra. Tak ada pedang. Hanya sepasang tangan yang dilumuri minyak beracun lintah; meremas, mematahkan pedang dan mencabutnya sampai ke akar-akarnya. Terdengar lolongan yang mengiringi mimpi indahnya yang terkoyak.
*
Sejak mimpi indahnya hancur berkeping-keping, dia mengasuh dan membesarkan seluruh lintah yang beranak-pinak dalam dada dan kepalanya. Dia makan segala hal yang bisa membuat darahnya terus-menerus bertambah agar lintah-lintah itu semakin membesar dan banyak. Sayangnya, akhir-akhir ini dia tak bisa tidur nyenyak. Lintah-lintah itu perlahan ingin membunuhnya.
Kau harus membunuh mereka. Kalau dibiarkan, justru kau yang dibunuh mereka.
Dia terus mencerna ucapan dokter itu sejak seminggu lalu. Dan malam ini dia memutuskan untuk mengikuti nasihat berharga itu. Diambilnya sebilah pisau paling tajam di dapur, dia masuk ke dalam kamar dan melihat ibunya terbaring pulas. Tanpa banyak kata, dia menikamkan pisau itu di tubuh yang terbaring di ranjang. Berkali-kali, sampai seprai lembap karena darah. Usainya, dia mengambil kunci mobil. Dia tahu, pertama kali lintah-lintah itu muncul saat seorang temannya mengatakan jika ibunya seorang lonte. Dia yakin, dia pun harus membunuh lintah ini dari akarnya. Setelahnya, jika lintah ini masih membuatnya tak bisa tidur, dia akan tidur dengan pisau yang sama. Ajaibnya, lintah-lintah di kepala dan hatinya bersorak dengan riang gembira mendengar rencananya.
2016-2022.
***
Guntur Alam, menulis cerpen dan novel. Seri novel horornya yang diterbitkan Elex Media, Arwah, Tumbal, Ritual dan Teman, sudah cetak ulang ke-3 pada bulan Oktober 2022.
sumber : kompas.id, 23 Feb 2023.