Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Lintah oleh Guntur Alam

Posted on Kam, 23 Feb 2023

Saat dia berusia enam belas tahun, dia menyadari jika segerombol lintah telah beranak-pinak di dalam hati dan otaknya. Lintah-lintah itu hidup dengan menghisap darah dan memakan otaknya. Sialnya, tak ada yang bisa dia perbuat untuk membunuh lintah itu. Sebab dia tahu, jika mencincang mereka, sama saja dia mencacah hati dan otaknya sendiri. Lintah-lintah itu akan mati, bila dia mati.

Dia ingat persis kapan dia menyadari hati dan otaknya berlintah, kejadiannya tepat saat teman sekelasnya di SMA mengatakan jika ibunya wanita jalang. Dia bisa hidup karena ibunya menjual selangkangan.

Tubuhnya bergetar, dadanya bergemuruh, dia mengepal tangan. Ingin sekali dia menampar dan merobek serta mencakar mulut berbisa teman sekelasnya itu.

Namun, dia tak dapat melakukannya. Dia hanya bisa menangis sambil mengigit bibir dan menahan sesak dalam dadanya di toilet sekolah. Lalu dia muntah dan tujuh ekor hewan kenyal menjijikkan itu menggeliat-geliat di antara muntahannya. Kemudian ponselnya berbunyi, notifikasi dari Facebook, beberapa temannya tanpa malu-malu menandai dirinya di komentar mereka ihwal gosip yang beredar. Tak lama, mention dari Twitter dan Instagram pun masuk. Semua sama. Perutnya kembali mual dan dia kembali muntah, kali ini tiga belas ekor lintah sekaligus.

Gosip buruk tentang ibunya memang sudah lama terdengar. Dulu, sewaktu dia kelas lima SD, teman sebangkunya pernah bertanya, ”Apa benar kau anak haram?”

Dan dia tak bisa menjawab. Sebab seperti yang ibunya katakan pada dia, jika ayahnya meninggal saat dia masih bayi. Namun teman-temannya tak ada yang percaya. Besoknya, dia duduk sendirian sampai lulus SD karena temannya lebih memilih duduk bersama anak perempuan lain yang memiliki seorang ayah.

Dia bukan tak berusaha untuk membasmi segerombol lintah yang beranak-pinak dalam otak dan hatinya itu. Sebulan ketika dia menyadari jika otak dan hatinya berlintah, dia menelan obat nyamuk cair. Dia menduga, binatang menjijikkan itu akan mati saat racun itu masuk ke dalam lambungnya. Namun dugaannya meleset, yang ada dia justru dilarikan ke rumah sakit dan ibunya baru berhenti menangis saat dia dapat membuka mata kembali.

Dan ketika ibunya bertanya, ”Kenapa kau lakukan ini pada ibu?”

”Aku hanya ingin membunuh sekelompok lintah yang memakan hati dan otakku.”

Tak lupa, dia menyembunyikan ponselnya di bawah bantal dan memastikan ibunya tak bisa membuka pola kuncinya. Dia tak ingin ibunya membaca mention dan tagging dari teman-temannya di Instagram, Tiktok, Twitter, dan Facebook. Anehnya, dia terus mengikuti gosip tentangnya itu dan dia terus memuntahkan lintah di kamar mandi setelahnya.

Saat dia di rumah sakit, tak ada satu pun teman sekelasnya yang membesuk, pun saat dia dinyatakan boleh pulang oleh dokter, tak ada di antara mereka yang datang untuk merayakannya. Dia sedih, tetapi dia tahu kesedihan tak akan mengubah apa pun. Termasuk tak akan mengubah dirinya di mata teman-temannya. Bagi mereka dia anak seorang pelacur, sebaik dan semanis apa pun dirinya, itu tak mempengaruhi label itu. Dan mereka juga tak ingin berteman dengan seseorang yang otak dan hatinya digerogoti lintah.

Hari pertama dia kembali ke sekolah, ibunya memaksa untuk mengantarnya. Dia bersikeras menolak. Namun ibunya bergeming. Perempuan itu memaksanya masuk ke dalam mobil dan mengiringi langkah kakinya yang berat di sepanjang koridor sekolah. Dia tahu, di koridor sekolah yang sepi dan lengang itu, beribu pasang mata merah mengintainya dari balik dinding kelas-kelas yang senyap. Ada ribuan telinga yang siap mencuri dengar segala hal yang dia sembunyikan rapat-rapat dalam dadanya.

Tak lupa, dia menyembunyikan ponselnya di bawah bantal dan memastikan ibunya tak bisa membuka pola kuncinya. Dia tak ingin ibunya membaca mention dan tagging dari teman-temannya di Instagram, Tiktok, Twitter, dan Facebook. Anehnya, dia terus mengikuti gosip tentangnya itu dan dia terus memuntahkan lintah di kamar mandi setelahnya.

Dia hanya tertunduk dalam sembari menghitung jumlah lintah yang bergelantungan di hati dan otaknya, saat ibunya bicara dengan kepala sekolah berambut botak dan perut buncit itu. Dia ingin muntah saat melihat bibir tebal hitam kepala sekolah yang terus-menerus dilelehi lidah, sesekali terdengar tawa yang dibuat-buat, seperti ringkikan kuda jalang.

”Tenang saja. Ibu jangan khawatir. Saya akan menjamin tak akan ada lagi mulut usil yang membuat anak ibu tertekan. Jangan khawatir.”

”Terima kasih, Pak. Saya mengandalkan Bapak.”

Lalu mereka berjabatan tangan. Pegangan yang lama karena kepala sekolah seakan tak ingin melepaskan pegangannya.

Di kelas, saat dia melangkah masuk diantar ibunya dan kepala sekolah, dia mendengar bisik-bisik, kasak-kusuk dari teman-teman perempuannya. Sementara anak laki-laki tak berkedip sembari menelan ludah saat melihat kaki jenjang ibunya. Persis ketika dia duduk di bangkunya yang dingin dan berdebu, tiga belas ekor lintah betina di tubuhnya beranak. Tanpa menunggu lama, ketiga belas bayi lintah itu langsung menggigitnya, menyusu pada darah yang menetes-netes di dadanya.

*

”Bagaimana bisa kau bertahan hidup dengan lintah yang demikian banyak menghisap darahmu?”

Dia yakin sekali, jika pertanyaan itu hanyalah basa-basi seorang dokter pada pasiennya.

”Aku juga tak tahu. Bagaimana aku bisa bertahan selama ini?” Tetapi akhirnya dia menjawab apa adanya. Dia pun bingung, bagaimana caranya dia bertahan?

Sejujurnya, dia sendiri tak yakin untuk mendatangi dokter ini. Namun dia tak punya pilihan lain. Akhir-akhir ini serangan lintah-lintah itu semakin ganas. Mereka tak hanya menghisap darahnya, sekarang para lintah itu juga mulai memakan sedikit demi sedikit dagingnya. Dia merasa dirinya begitu keropos. Tubuhnya terlihat melar dan besar, tetapi kopong di dalamnya. Tak ada isi apa pun. Padahal dia sudah makan sebanyak yang dia bisa, agar dia tak pernah kekurangan darah. Sayangnya, para lintah itu beranak jauh lebih gesit daripada tubuhnya memproduksi darah. Dia semakin sulit tidur dan terus dilanda cemas akan lintah-lintahnya.

”Kau harus membunuh mereka. Kalau dibiarkan, justru kau yang dibunuh mereka.”

”Bagaimana caranya, Dok? Aku sudah pernah minum racun serangga. Tapi sepertinya lintah bukanlah nyamuk yang bisa dibunuh dengan Baygon cair.”

Wajah perempuan paruh baya itu memias, ketika mendengar ucapannya.

”Bukan. Bukan dengan cara seperti itu membasminya, tapi dengan sesuatu yang lain. Sesuatu yang berasal dari dirimu. Tekadmu. Lintah-lintah itu akan mati bila kau bertekad mereka mati. Bukan dengan memberi mereka makan yang banyak seperti ini.”

Dia diam. Entah mencerna atau justru merasa jika ucapan perempuan di depannya hanya lelucon lucu seorang dokter yang putus asa menghadapi pasien sepertinya.

Malamnya dia tetap tak bisa tidur. Para lintah itu tak pernah memberinya ampun. Bahkan saat dia baru saja hendak memejamkan mata, seperti dikomandoi, ratusan lintah di dalam dada dan kepalanya menggigitnya secara bersamaan. Bahkan ada di antara mereka yang berjalan keluar masuk telinganya, seakan-akan tengah melancong dengan riang gembira di sana. Padahal sudah sejak lama dia menonaktifkan seluruh social media-nya.

*

Dulu, ketika usianya jelang sembilan belas tahun, dia pernah yakin jika lintah-lintah dalam dirinya itu akan mati dengan sendiri. Keyakinan itu muncul bersamaan dengan kedatangan seorang pangeran berkuda putih dalam hidupnya. Laki-laki itu tampan, memiliki senyum manis dan perawakan kekar. Pokoknya dia lelaki idaman bagi gadis-gadis seusianya.

Namun, mimpi indahnya terkoyak. Tepat ketika dia merasa jika lintah-lintah di dada dan kepalanya tengah sekarat, segerombolan hewan menjijikkan itu terlihat kurus kering dan begitu nelangsa, tapi semua buyar.

Dia pernah menyesali keputusannya untuk membawa pangeran berkudanya ke rumah, mengenalnya pada ibunya, lalu membiarkan mereka bercakap-cakap saat dia sibuk di dapur menyiapkan minum. Dia seharusnya sadar, jika ibunya seorang penyihir jahat yang telah turut andil menabur benih lintah dalam dirinya.

Di hari mimpi indah yang dia gadang bersama pangeran berkuda itu koyak, dia pamit untuk pergi ke Kota B lantaran ada tugas kuliah. Dia sudah setengah perjalanan ketika dia menyadari jika sesuatu yang penting tertinggal dan sayangnya dalam cerita ini, dia tak mau menyebutkan sesuatu yang penting itu, jadi aku tak bisa menjelaskannya. Tak ada pilihan lain, dia harus kembali dulu. Jika tidak, perjalanannya ke Kota B akan sia-sia.

Dia tahu, ibunya tak akan pernah menduga jika dia kembali secepat itu. Saat dia melewati pintu depan yang tak tertutup rapat, telinganya seperti mendengar mantra-mantra sihir hitam yang mengerikan. Kakinya membatu, tetapi segerombol lintah yang tengah sekarat itu memaksanya untuk berjalan. Seolah-olah mereka mempunyai kekuatan gaib sehingga memiliki tenaga untuk menguasainya kembali.

Seperti pintu depan, pintu kamar ibunya juga tak tertutup rapat. Mantra-mantra sihir itu semakin jelas. Anehnya darahnya berdesir karena lamat-lamat dia mengenali suara selain milik ibunya. Tangannya sedikit gemetar saat mendorong pintu dan dia membatu seolah dikutuk saat melihat sepasang laki-laki dan perempuan telanjang sedang bergumul di atas ranjang. Tasnya terjatuh di lantai. Dua orang yang merapalkan mantra menoleh dan wajah mereka pasi. Laki-laki itu tergesa mendorong perempuan yang duduk di atasnya. Laki-laki itu berdiri dengan pedang terhunus di pinggangnya.

Dia meraung. Seluruh lintah dalam dirinya mendorongnya untuk menghambur. Tak ada mantra. Tak ada pedang. Hanya sepasang tangan yang dilumuri minyak beracun lintah; meremas, mematahkan pedang dan mencabutnya sampai ke akar-akarnya. Terdengar lolongan yang mengiringi mimpi indahnya yang terkoyak.

*

Sejak mimpi indahnya hancur berkeping-keping, dia mengasuh dan membesarkan seluruh lintah yang beranak-pinak dalam dada dan kepalanya. Dia makan segala hal yang bisa membuat darahnya terus-menerus bertambah agar lintah-lintah itu semakin membesar dan banyak. Sayangnya, akhir-akhir ini dia tak bisa tidur nyenyak. Lintah-lintah itu perlahan ingin membunuhnya.

Kau harus membunuh mereka. Kalau dibiarkan, justru kau yang dibunuh mereka.

Dia terus mencerna ucapan dokter itu sejak seminggu lalu. Dan malam ini dia memutuskan untuk mengikuti nasihat berharga itu. Diambilnya sebilah pisau paling tajam di dapur, dia masuk ke dalam kamar dan melihat ibunya terbaring pulas. Tanpa banyak kata, dia menikamkan pisau itu di tubuh yang terbaring di ranjang. Berkali-kali, sampai seprai lembap karena darah. Usainya, dia mengambil kunci mobil. Dia tahu, pertama kali lintah-lintah itu muncul saat seorang temannya mengatakan jika ibunya seorang lonte. Dia yakin, dia pun harus membunuh lintah ini dari akarnya. Setelahnya, jika lintah ini masih membuatnya tak bisa tidur, dia akan tidur dengan pisau yang sama. Ajaibnya, lintah-lintah di kepala dan hatinya bersorak dengan riang gembira mendengar rencananya.

2016-2022.

***

Guntur Alam, menulis cerpen dan novel. Seri novel horornya yang diterbitkan Elex Media, Arwah, Tumbal, Ritual dan Teman, sudah cetak ulang ke-3 pada bulan Oktober 2022.

sumber : kompas.id, 23 Feb 2023.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme