Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Pasar Janji oleh Windi Meilita

Posted on Sab, 09 Mei 2020

Jika biasanya pedagang menjual segala benda yang dibutuhkan dan menguntungkan, dia tidak. Jika pedagang bangun subuh, pulang malam, dan tidur larut, dia tidak. Hanya satu hal yang membuat dia terlihat sama seperti pedagang lainnya. Moment ketika mereka menawarkan dan merayu pembeli yang melirik-lirik lewat depan lapak. Meski dagangannya beda, tidak ada orang yang terganggu, tidak ada yang protes, dan peduli. Dia pun tidak menjelaskan.

Satu-satunya hal yang meresahkan pedagang lainnya ialah, dia tipe laki-laki rupawan dengan lidah berbisa, dan suara yang nyaring terdengar.

Percaya atau tidak, di pasar kecil yang tidak tercatat lokasinya rupawan jadi kunci utama proses transaksi. Keberuntungan terlahir dengan gen rupawan itu 1:10, karenanya tidak ada yang berani mengusiknya. Seperti jati ukiran Jepara.

“Janji janji 1 bungkus 100.000.” Laki-laki itu berteriak sambil membenarkan letak topinya. Kakinya terangkat satu dan tangan kirinya memegang satu bungkus nasi. Tidak ada hukum attitude di sini. Apapun yang dikenakan, bagaimanapun tingkahnya lapaknya selalu digandrungi pembeli wanita.

Setengah jam berlalu, perlahan keramaian mereda, hingga benar-benar tidak ada pembeli meski setiap lapak masih terjaga. Sepi yang membuat tempat ini tidak layak kalau dinamai pasar. Mungkin sedang tanggal tua, atau memang tidak ada yang menarik lagi di sini. Sampai-sampai, suara jangkrik yang biasanya samar, hari ini terdengar lebih jelas. Seolah mereka muncul dan ingin menggantikan manusia yang belanja dan menjaga suasana tetap ramai. Bintang yang baik.

Pedagang yang katanya rupawan itu, membuang nasi bungkusnya lalu mencuci tangan. Ia meregangkan badan sebentar, melihat ke kanan dan kiri. Kelakuannya selalu aneh. Teori dagangnya berbalikan, tapi punya pembeli terbanyak. Wajahnya seperti pengelaris.

Saat semua menurunkan harga agar dapat pelanggan, dia melakukan sebaliknya. Tidak peduli suasana sepi, atau kosong pembeli label harga tetap naik.

Janji Kosong, 1 bungkus 200.000

Pemilik lapak lain yang melihat tulisan itu, berkomentar. Mungkin itu jadi suara pertama yang memecah keasyikan melamun pelapak lain. Ia menarik perhatian, dan membuat yang lain penasaran ingin melihat.

“Kenapa harganya malah kau naikkan? Kita tidak punya pengunjung, nanti dagangan kau enggak laku.”

Lelaki rupawan itu menggeser kursinya ke arah depan untuk memperpendek jaraknya dengan si penanya.

“Daganganku selalu laku Opung. Opung tidak usah khawatir, orang-orang selalu suka barang mahal.”

“Tapi tidak ada pembeli yang datang, kenapa masih kau naikkan juga?”

“Iya, tapi masih banyak orang di sini. Siapa saja bisa jadi pembeli. Toh barang ini enggak akan basi sebelum terjual.”

Pedagang yang dipanggil opung itu menutup kipasnya secepat kerutan di dahinya muncul. Ia sudah siap ingin berteriak, tapi melihat sekitar dan berusaha menahan suaranya.

“Hei apa maksudmu, kau masih muda sudah jadi ahli bohong, haa?”

“Tidak opung. Kalau opung mau, aku bisa ajarkan gimana caranya jual bungkusan-bungkusan ini.”

Kipas dibentangkan lagi.

“Tidak usah, aku sudah senang dengan daganganku sendiri.”

***

“Berapa harganya bang?”

“Dua ratus ribu. Kalo buat mbaknya nego sedikit enggak papa.” Kalimat khas pedagang yang biasanya ampuh, kalau diucapkan dari mulut yang tepat.

Wanita pembeli itu masih memilah mana bungkusan paling baik. Aturan berbelanja di lapak itu, pembeli hanya boleh melihat bungkus luar dan menanyakan harga. Semua pembeli sudah tahu aturan itu dan tidak pernah protes. Anehnya, tidak ada juga yang memberikan review buruk.

“Aku ambil yang ini aja mas. Dua ya.” Nona pembeli itu menunjuk bungkusan yang ia pilih. Transaksi selesai tanpa ada tawar menawar.

Si pedagang kembali duduk di sudut paling depan lapaknya, dan melihat ke arah opung yang ada di seberang. Opung pedagang itu tidak menunjukkan ekspresi sinis atau terganggu. Wajahnya tidak iri, atau membenci. Meski suaranya keras, semua pelapak tahu, opung pedagang berhati yang sangat mahal jika dijual.

Pedagang janji itu sudah bersiap untuk obrolan apapun yang muncul. Ia sangat ingin menjelaskan pada opung pedagang, kalau penjualannya menguntungkan. Keyakinannya akan ditanya soal pemasukan sangat besar, sebab tadi sebelum uang itu dimasukkan dalam kantongnya, ia melihat opung pedagang mengamati dari balik kibasan kipas.

Pedagang janji bersiap menjelaskan, dan sudah hafal di luar kepala teks janji-janji lain kalau dibutuhkan.

“Pembelimu wanita semua?” Pertanyaan pertama muncul.

“Tidak juga, kebetulan wanita tadi suka barang mahal.”

“Kau tidak menjelaskan isi daganganmu?”

“Tidak opung. Dia sudah paham aturan mainnya.”

Hening.. Opung tidak menjawab lagi, ia malah sibuk berkipas-kipas ria di lapak kecilnya yang sepi pembeli.

“Opung mau lihat-lihat daganganku? Khusus untuk opung, aku enggak akan jual semahal ini. Aturan mainnya juga nanti kujelaskan.” Tawaran si pedagang janji membuat wajah opung menoleh ke arahnya, mengamati lekat, dan membuat opung berhenti mengipasi wajah.

“Tidak nak. Aku ini opungmu. Bukan wanita muda yang suka barang mahal.”

***

Setelah 4 minggu sejak percakapan pedagang janji dan opung pedagang, banyak lapak pasar yang beralih menjual janji. Tidak ada syarat khusus, pedagang hanya dilarang menjelaskan sistem kerja ke orang yang tidak serius berusaha. Setiap pedagang janji punya ritme pembeli yang sama persis setiap minggunya. Bisa ditandai. Para pembeli akan muncul tepat pukul 14.00 sampai pukul 16.00. Selalu wanita usia 20 – 30an. Secara visual para pembeli memiliki gaya dan kebutuhan yang hampir mirip-mirip.

Di suatu sore, seorang pedagang janji bermain ke lapak tempat opung pedagang. Ia bercerita segala perubahan yang ia dapat setelah beralih jadi penjajah janji. Opung mendengarkan dengan sangat baik, dan tidak berkomentar apapun. Pedagang itu mengeluarkan ponsel, dan menunjukkan foto anak-anaknya. Opung tersenyum tulus, sambil mengipasi wajah.

“Kelihatan kali keluarga kau bahagia. Pembelimu jadi banyak, karena anak kau bisa senyum terus di rumahmu sana.”

“Tidak opung, anakku senyum terus karena pembeliku yang banyak. Opung tertukar-tukar omongannya.”

“Ya maklum sajalah. Opungmu ini sudah tua.”

***

Sepuluh menit sebelum lapak tutup.

Pedagang janji berjalan mondar mandir di depan lapaknya. Tidak ada yang mempedulikan, semua sibuk dengan lapaknya sendiri. Lapak pedagang janji sudah beres dikemas sejak satu jam lalu. Tapi ia masih belum pulang, dan terus mondar mandir.

“Sudah capek mataku lihat kau mondar mandir. Kalau mau pergi pergi saja kau sana. Ngapain kau ganggu mata tuaku ini. Cari masalah kau ya?”

Pedagang janji berlari cepat ke arah lapak opung. Wajahnya tidak gelisah. Ia justru sumringah. Opung bisa melihat jelas ada senyum di wajah pedagang itu karena mendengar makiannya.

“Pintar kau ya! Sengaja kau buat opung tua ini marah. Hebat benar anak muda satu ini, kau bikin mataku capek, senang kau lihat aku kesal gini? Haa?” Opung pedagang menggerakkan kipasnya kencang-kencang. Emosinya sudah tersulut karena si pedagang janji senyum sumringah.

“Opung kenapa enggak pernah tanya aku dagang apa? Atau kenapa aku punya banyak pembeli?”

Opung menghentikan aktivitasnya, menarik satu kursi untuk diberikan pada pedagang janji itu.

“Kenapa kau tanya? Sudah bosan kau nunggu aku penasaran?”

“Aku cuman pengen cerita opung.”

Pedagang janji membeberkan segalanya. Bagi opung yang usianya sudah mendekati angka 70, gejolak muda bukan hal asing lagi. Ada banyak cerita muda yang ia dengar. Kalau orang-orang di pasar ini mayoritas sudah menjual janji, opung masih bertahan menjual telinga. Benar sekali. Opung menjadi tempat orang-orang bercerita segala hal. Tidak banyak pembeli yang mau mampir ke lapaknya. Semuanya lebih tertarik pada para pedagang janji.

Cerita pedagang janji itu diakhiri pernyataan penyesalan karena tidak bisa memberi bantuan pada opung, dan menyesali opung yang tidak mau mengikuti jejaknya.

“Hei nak, usiamu berapa sekarang?”

“22 opung”

Opung mengambilkan dua buah lilin angka 5 dan 2 dari dalam rak di tokonya.

“Nanti kalau usiamu 52 dan kau jadi penjual telinga, kau tiup lilin ini di tempatmu.”

Pedagang janji itu bingung mendengar pernyataan opung, tapi opung melanjutkan lagi.

“Butuh waktu puluhan tahun tapi semoga 30 tahun cukup untukmu.”

Opung menyuruh pemuda itu berdiri, dan menarik kursinya masuk. Ia menyelesaikan sisa pekerjaannya. Sebelum pemuda itu pergi, opung kembali berkomentar.

“Dua bulan lagi, pembelimu akan datang sendiri dan bercerita isi daganganmu ke lapak ini. Makanya sering kuingatkan, jangan kau patok tinggi tinggi hargamu. Jangan kau bohongi pembelimu. Selaris apapun daganganu, kau bahkan belum punya pelanggan.”

Selesai berkomentar, opung meninggalkan si pedagang janji sendirian. Pedagang janji diam menimbang-nimbang ucapan opung.

“Jadi selama ini dia sudah tahu. Apa semua orang akan bijak saat tua?”

Bukan cuma hati, opung memiliki organ yang mahal jika dijual.

***

Windi Meilita : lahir di Muaro Jambi, 1997. Saat ini berdomisili di Yogyakarta. Masih belum menemukan hal yang disebut “hobi”, karena segalanya menyenangkan kalau dilakukan bersama orang yang tepat.

sumber : kompas.id, 09 Mei 2020.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme