Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Roh Cinta Ibu oleh Gansar Dewantara

Posted on Sab, 16 Mei 2020

Pertunjukan tunggal setiap pagi yang dilakonkan perempuan itu sanggup mengusir pementasan burung-burung yang lincah dan merdu. Perempuan itu selalu mendekap selembar kain batik mahakaryanya, ia membiarkan rambut ikal hitam sebahu miliknya berserakkan, sesekali parade angin menyibak-nyibak beberapa helai hitam panjang menutupi wajahnya. Selintas sepertinya perempuan itu menikmati pemandangan hamparan sawah dan rerimbunan yang merdeka. Namun, sorot mata itu kosong. Beberapa menit kemudian kerut di dahi mulai menebal kerut, seluruh mukanya memerah, perlahan tampak berat bibirnya bergetar lalu memuntahkan pemberontakan di batinnya.

”Mereka buta! Mereka bodoh! Tolol! Toloool …!”

Sebentar kemudian jerit tangisnya memekik gendang jiwa.

Begitu dan selalu begitu saban pagi hingga langit mulai redup, perempuan itu hanya duduk di dipan jati depan rumah, tangannya tak mau lepas dengan kain batik kecintaannya. Meski perempuan itu bertingkah laku seperti demikian, aku selalu menaruh hormat dan tulus mencintanya, karena perempuan itu adalah Ibu kandungku.

Sebelum semuanya terjadi, Ibuku adalah perempuan yang cantik dan sumeh. Ia juga luwes serta mahir dalam urusan batik-membatik. Sunguh tak diragukan lagi, cinta ibu kepada batik dan Indonesia pun mengalahkan cintanya kepada keluarga.

Awalnya aku hanya menilai sikap Ibu yang begitu menggebu cinta kepada Indonesia dan seabreg kebudayaan di dalamnya, hanya seakan-akan saja, mirip wanita karier yang baru berdinas sebagai PNS. Ternyata dugaanku salah, terbukti saat kami sekeluarga meyaksikan berita di tivi, perihal pesawat yang jatuh ke laut, dan saat penyiar berita itu menyebut mata uang negara lain.

Tim Basarnas mendatangkan alat canggih Side Scan Sonar yang baru dibeli seharga … zu es dolar.

Ibu langsung melempar asbak granit tepat di cocotnya penyiar itu.

”Piaaarrr”

Ujung-ujungnya aku yang menyapu pecahan kaca televisi flat itu. Kulihat muka Ayah memerah, napasnya sesak, menahan amarah yang mendidih.

”Ibu, kenapa?” tanya Ayah sembari mengekor Ibu angkat kaki dari sofa menuju kamar.

”Negara kita ini punya rupiah, kenapa penyiar goblok itu menyebut mata uang negara lain!” ketus ibu.

”Itu bukan urusan, Ibu.”

Tak ada balasan dari Ibu. Ayah juga tak melanjutkan kalimatnya.

Cerita di atas hanya sekelumit peristiwa buruk keluargaku karena sikap dan olah Ibu.

***

Ibu memegang peranan penting dalam produk kain batik tulis dan cap yang kami kelola bersama, ia tak sembarangan melukis corak batik produksinya, mulai memilih motif, gambar mentahnya dan pemolanian penebalan gambar mentah kecorak batik tulis dengan lilin cair berwarna, proses penyantingan itu Ibu sebut dengan merajah.

Hal itu terbukti ketika Ibu ingin merampungkan kain batik maha karya dengan corak seribu bunga kecil-kecil dangan kerlip bintang jatuh serta senyuman siluet daun-daun waru, ‘sekar jagat cinta’ tajuk dari batik maha karya Ibu.

Dan di setiap canting mengukir corak, Ibu curahkan sepenuhnya rasa cinta yang dahsyat agar kain maha karyanya nanti dipenuhi daya pengasihan yang luar biasa, kata Ibu sepotong-sepotong.

”Kenapa motif batik Ibu selalu bunga-bunga, kadang keindahan alam? Apakah tidak ada yang lain yang lebih menarik dari motif itu, Bu?” tanyaku di kesepatan yang lain.

”Jati diri itu penting, setiap daerah yang ada di Indonesia ini mempunyai ciri khas motif batik tersendiri, kita juga tidak menolak pesanan bermotif pegon, ragam budaya, artefak dan parahyangan, yang penting proses pembuatannya penuh cinta,” papar Ibu dengan bias senyum keayuan.

September kemarin, Ibu meminta aku untuk menemaninya berangkat ke Jakarta, menjadi salah satu dewan juri dalam lomba batik nusantara piala Presiden. Ibu menerima penghormatan sebagai dewan juri di lomba batik khusus kategori batik tulis, tersebab sanggar batik ”Kemilau Nusantara” yang Ibu gawangi menjadi jujukan pakaian batiknya keluarga Presiden, bukan hanya itu alasannya, tetapi batik Ibu menurut mereka berkualitas tinggi, serta ditunjang banyaknya piagam penghargaan yang Ibu terima hampir setiap tahun, tingkat; kecamatan, kabupaten, gubenur, kementerian, serta piala-piala dari berbagai event batik tingkat nasional.

”Kenapa motif batik Ibu selalu bunga-bunga, kadang keindahan alam? Apakah tidak ada yang lain yang lebih menarik dari motif itu, Bu?” tanyaku di kesepatan yang lain.

***

Ruangan yang dingin itu tak menjadikan para dewan juri serta beberapa perwakilan dari pejabat Kementerian Perindrustian serta Ditjen Hak Kekayaan Intelektual juga mendingin, mereka tegang dan panas, berdebat menentukan pemenang batik pada kategori batik tulis.

”Saya tetap tidak setuju kalau batik motif itu masuk sebagai tiga besar, dua puluh besar pun saya tidak bisa terima!” sanggahan Ibu dalam rapat para juri saat pimpinan dewan juri menawarkan salah satu batik peserta sebagai pemenang.

”Lho, kenapa tidak! Ini batik bahannya sutra berkualitas terbaik juga memakai campuran emas murni pada pewarna coraknya?” sahut juri yang lain.

”Apa yang paling membuat Bu Laras tidak setuju batik ini masuk dalam tiga besar!” Pimpinan dewan juri melontarkan pertanyaan sambil memegang batik yang konon ada campuran emas murninya itu.

”Ya, Bu, coba jelaskan!” juri perempuan yang duduknya di depan Ibu. Hampir semua yang ada di ruangan itu tak sependapat dengan Ibu.

”Jawabnya simpel. Kita tahu batik adalah khasanah budaya Indonesia, dan dengan berbatik kita jadi Indonesia yang benar-benar Indonesia di kancah dunia, kenapa harus memasukan ornament bangsa lain, yang menjadikan saya sangat tidak setuju dan langsung saya gugurkan batik tersebut dalam event saat ini adalah motifnya bertajuk batik Belanda, tertera di kainnya juga ‘Kincir Angin Belanda’. Sekali lagi, ini Indonesia, sudah berapa puluh nama buah dari jerih payah petani Indonesia yang diperkosa namanya menjadi sebutan nama buah negara lain, belum dari sisi kedudayaan dan kesenian yang diplagiat – diklaim negara tetangga. Apakah Indonesia sudah tak punya kebudayaan yang menarik, miskin keindahan? Pokoknya batik bermotif atribut—nama negara lain saya diskualifikasi, meski bahan bakunya memaki emas murni!” penjelasan Ibu menohok para juri.

”Wah… Ibu kurang fleksibel!” seloroh dewan juri yang logat ngomongnya bencong.

”Fleksibel, bagaimana? Ini soal budaya kita!”

”Maka dari itu, Ibu jangan kolot!”

”Maksud saudara?” Ibu mulai tersinggung.

”Ibu jangan berselera hanya dengan corak bunga saja, keindahan alam saja, sesekali membaca sejarah biar tahu dan tidak langsung main diskualifikatif begitu!”

Sekali lagi, ini Indonesia, sudah berapa puluh nama buah dari jerih payah petani Indonesia yang diperkosa namanya menjadi sebutan nama buah negara lain, belum dari sisi kedudayaan dan kesenian yang diplagiat – diklaim negara tetangga.

”Sejarah? Sejarah batik yang mana, coba?”

Ibu melempar sorot mata geram kepada juri yang kebencongan asal ngomong itu, para juri diam.

”Saya suka dan cinta motif batik apa pun dan dari daerah mana pun asal jangan memasukan tetekbengek milik negara lain untuk sebuah karya batik Indonesia,” sambung Ibu.

”Sudah! Sudah… siapa yang setuju batik bermotif kincir angin Belanda ini sebagai pemenangnya dan beri apresiasinya?” Pimpinan dewan juri menyela.

”Lho, jangan main voting begitu dong, Pak?” sanggah Ibu.

”Jika Ibu tidak setuju silahkan meninggalkan ruangan ini!” Pimpinan dewan juri menunjuk pintu keluar penuh emosi.

Lantang suara Pimpinan dewan juri sungguh tak beretika. Ibu, aku dan satu juri peremupuan meninggalkan ruangan penuh kekecewaan. Keputusan dan perkataan Pimpinan dewan juri itu menimbulkan enigma dan perih di sekujur batin Ibu.

***

Sudah tiga malam setelah kepulangan dari Jakarta, Ibu tak pernah nyenyak dalam tidurnya. Ayah menyuruhku tidur bareng Ibu. Selain Ayah menghindari debat ruwet dengan Ibu, karena aku anak sulung juga satu-satunya anak perempuan dari tiga bersaudara.

Belakangan, sering aku dapati Ibu kerap kaget di tengah lelapnya, juga selalu mengigau, ”Ini lomba batik nasional, masak pemenangnya batik bermotif Belanda. Edan itu jurinya!”

Pernah pada suatu malam aku menangkap bias cinta Ibu yang menyilaukan dan aku hanya diam mengikuti langkah kaki Ibu saat menuju ke gudang (tempat produksi batik) lalu menggambar aneka macam motif, kemudian mendekap erat kain batik maha karyanya sampai azan Subuh menghentikan laku Ibu.

Hal demikian sering Ibu lakukan di saat anggota keluarga terlelap, kecuali aku. Hingga pada dini hari yang lain, kobaran cinta Ibu meluap-luap lepas melampui batasnya, kobaran itu semakin membesar, kulihat Ibu tak seperti Ibuku; mata ibu, rambutnya, langkah-langkah kakinya menyala-nyala, lalu Ibu mengumpat-umpat dengan sedikit gentayangan, dan akhirnya menendang tungku api yang masih menyala, hingga api itu muncerat, merambat cepat melahap-membakar gudang.

Aku berteriak minta tolong. Menggedor-gedor kamar Ayah, sambil terus berteriak-teriak minta tolong.

”Biarkan aku terbakar bersama batik-batikku! Biarkan, Yah!”

Ibu meronta-ronta saat ayah mendekap menyelamatkannya.

”Ayo keluar, Bu! Jangan melawan!”

Ayah memaksa – menutupi Ibu dengan kasur lantai yang basah.

”Ayah keluar sana!” sergah ibu. Entah kekuatan dari mana, ibu mampu mendorong ayah terjungkal beberapa jengkal.

Beberapa jenak, Ibu lunglai setelah kayu ring penyangga genting menimpa punggungnya.

”Bruug!”

”Ibuuuu …!” teriak Ayah, kemudian membopong Ibu menerjang kobaran api.

Sementara aku, keluarga dan warga terus berusaha memadamkan api dengan alat seadanya.

Waktu bergulir, satu jam selanjutnya Ibu siuman, batik maha karya itu terselinap didekap tangannya. Bibir ibu gemetaran, seperti ingin mengentakkan sesuatu. Namun, tak kuasa untuk mengucap, hanya jerit tangis yang pecah.

Sorot mata Ibu adalah kobaran api, entah api yang keluar dari percikan sakit hati, kekecewaan atau api yang muntah dari kekuatan cinta yang terlanjur mengakar di dasar jiwa.

Ibu telah terbakar cinta yang menjadi ruh dalam kehidupannya.[*]

Pekalongan – Demak, 2019.

_______________

Gansar Dewantara : lahir dari sastra pesantren. Alumnus Ponpes Raudlatus–Salikin, Wedung, Demak. Pegiat komunitas literasi pena santri Demak (PeSAN). Sekarang berkerja dan tinggal di Demak, Jawa Tengah.

sumber : kompas.id, 16 Mei 2020.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme