Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Kado dari Guru Honor oleh Beatrix Polen Aran

Posted on Rab, 31 Jan 2024

”Zaman sekarang ternyata seorang dokter juga bisa menjadi guru, bukan hanya seorang guru,” ujar Pater Ola pada perayaan pancawindu sekolah yang terletak di ujung timur sebuah kabupaten. Emak-emak dan juga anak-anak meledakkan tawa di bawah sebuah tenda dengan bara panas matahari yang memanggang ubun-ubun.

Istri kepala sekolah gerah, kenapa juga pastor paroki dengan entengnya membanding-bandingkan peran guru. Padahal, jerih lelah guru takkan mampu terbayar oleh apa pun dan oleh siapa pun. Ia teringat beberapa teman guru honor di sekolah yang gajinya belum dibayar berbulan-bulan lamanya, hari-hari mereka hanyalah memanen peluh dan mendulang air mata.

Adalah seorang guru bernama guru Petrus, ia menempati ruang kosong dari sisa-sisa pembangunan aula sekolah. Ruangan itu tampak reyot, tak layak huni. Jika musim penghujan tiba, guru Petrus akan menggeser sedikit tempat tidurnya ke sudut ruangan agar terhindar dari titik-titik air hujan yang terus jatuh. Dan, bila musim panas, binar matahari menyelinap melalui lubang-lubang atap ruangan yang menganga lebar. Siang harinya, ia hanya merebahkan tubuh di atas bale-bale di bawah pohon kersen.

Di sana, sedianya ia tinggal seorang diri. Beberapa tahun belakangan, beberapa anak murid menemaninya. Tapi tak betah dengan kondisi mes. Guru Petrus sungguh tak ingin pindah. Setidaknya hari itu. Ia ingat pesan ketua komite sekolah untuk mendirikan mes guru sederhana-tempat ia benamkan lelah saat malam hari. Seolah-olah dengan cara itu, guru Petrus merasa dimuliakan.

Ia teringat beberapa teman guru honor di sekolah yang gajinya belum dibayar berbulan-bulan lamanya, hari-hari mereka hanyalah memanen peluh dan mendulang air mata.

Sejak menyelesaikan pendidikan akhir di Universitas Terbuka, guru Petrus melamar menjadi seorang guru Bimbingan Konseling meski masih menyandang status guru honor. Ia teringat ketika masih di bangku kuliah, ibunya mencekal pergelangan tangannya saat mereka bepergian ke pasar. Di atas kepala ibunya tergeletak keleka di dalamnya beberapa ikat sayur kacang panjang, terung, kemangi, kecipir, dan juga tomat.

”Beli…beli, Ma beli tomat. Ayo Bapa-bapa, silakan pinang kecipirnya,” gema suara ibunya menggaet beberapa pembeli untuk datang membeli. Uang hasil penjualan diberikan kepada guru Petrus untuk membayar registrasi kuliah.

Di benak ibunya, Petrus harus menjadi seorang guru. Sayangnya setelah ayah tak ada, ibu kehilangan juru cari uang. Jika jualan tak laku, ayah memberi ibu uang, katanya berikan kepada guru Petrus untuk membayar SKS tahap terakhir. Tentu saja, peristiwa itu mengental di ingatannya. Titik-titik air matanya tumpah lantas memenuhi permukaan wajahnya.

Menjalani profesi guru di sekolah kecil seperti ini memang tidak ringan. Rata-rata guru honor mengandalkan gaji dari komite sekolah. Orang tua kehilangan kepekaan untuk membayar iuran sekolah, bahkan berkali-kali pihak sekolah mengirim nota ketunggakan pembayaran.

”Harga beras naik sekilo tujuh belas ribu rupiah,” kata guru Kobus kepada guru Petrus sambil menyodorkan tembako koli. ”Sekarang apa yang bisa kita lakukan, guru Petrus?” tanyanya.

Meski umur guru petrus lima tahun di bawahnya, guru Kobus selalu menghormatinya. Untuk urusan nasib, guru Kobus tak lalai meminta pendapat dari guru Petrus.

”Adakah lebih baik kita bikin arisan. Uangnya kita gunakan untuk membeli anak babi. Kita pelihara bersama-sama,” guru Petrus kembali buka suara.

”Anak babi? Wah, ide bagus itu,” guru Kobus menimpali.

“Tetapi modalnya dari mana? Apakah kita harus membuka pinjaman?” guru Kobus lanjut bertanya.

”Kebetulan aku mempunyai nomor telepon seorang pegawai koperasi harian,” guru Petrus menekan tombol memanggil pada handphone nokia miliknya.

Guru Kobus kaget sesaat setelah guru Petrus mengutak-atikan handphone, seorang pegawai koperasi harian memarkir motor bututnya di halaman mes guru milik guru Petrus. Keduanya langsung menemui petugas koperasi harian. Guru stanis yang sejak semula hanya mengamati gelagat guru Kobus dan guru Petrus semakin penasaran, akhirnya mendatangi mes. Melihat kehadiran guru Stanis yang tiba-tiba, guru Kobus mempersilakannya bergabung.

Menjalani profesi guru di sekolah kecil seperti ini memang tidak ringan. Rata-rata guru honor mengandalkan gaji dari komite sekolah.

Demikianlah kesepakatan arisan itu bermula. Sebetulnya, guru Petrus dan guru-guru honor lainnya sama sekali tidak miskin karena uang, karena tunggakan pembayaran iuran komite. Mereka memiliki uang dan uang itu diperoleh dari hasil jual kayu api ke kota, uang hasil tangkapan ikan sembe lalu dijual kepada Emak-emak-digarami lalu dijemur, uang hasil belah kopra, uang hasil pilih kemiri bulat, dan uang hasil timbang biji mente.

Setahun lalu, saat dunia benar-benar dilanda virus korona. Denyut nadi pendidikan seketika terhenti. Anak -anak sekolah tidak diperbolehkan untuk melaksanakan aktivitas belajar mengajar.

Guru Petrus kelabakan. Ia mencari akal untuk membuka ladang seluas-luasnya hanya untuk menanam padi, jagung, ubi kayu, dan juga segala jenis sayur. Usahanya berhasil berkat keuletan dan restu Ama lera wulan. Hasil panennya dihantar ke gereja setiap hari Minggu sebagai persembahan di altar Tuhan, sisanya ia menelepon pemilik warung makan yang ada di kota untuk membeli.

Kerja sama itu intens dilakukan. Biasanya memasuki masa adven, guru Petrus memberikan kolekte terbesar dan tidak ingin namanya dibacakan di mimbar umat. ”Tidak enak, jika ada umat memprotes. Apalagi, sekarang statusku bukan lagi umat biasa. Seorang ketua dewan paroki,” bisiknya pada pastor Paroki.

Pastor paroki menganggukkan kepala, sebuah isyarat yang tidak sia-sia. Tak banyak umat yang memberi diri-berbakti kepada gereja dan Tuhan Allah. Gereja seturut pikiran mereka tak memberikan apa-apa, menyoal akhirat itu urusan belakangan. Mati baru tahu, masuk surga atau diseret ke neraka. Untuk mengembalikan iman umat yang serupa ini, malam harinya guru Petrus tak tuntas memejamkan mata. Ia merasa gagal mengajak umat mengenal Tuhan Allah.

Belum lagi, tuntutan kurikulum merdeka belajar dan aplikasi profil belajar Pancasila. Pemerintah oh pemerintah, ganti menteri ganti kurikulum, nasib guru honor tak ada yang peduli, bicara guru Petrus pada dirinya sendiri.

Jauh di langit timur, bintang-bintang tak menampakkan wajahnya. Kilat sambar menyambar. Guru Petrus menyalakan sebatang lilin pada patung Bunda Maria, ia berlutut dan mendaraskan doa. ”Bunda Maria, tolong bantu saya. Sudah sekian tahun mengabdi menjadi guru honor. Ta…pi,” guru Petrus tak kuasa menyambung kalimatnya.

Keheningan seketika menjalar. Lama. Rinai hujan perlahan menggelitik perasaanya. Ia masih sempat merasakan, sebelum akhirnya jatuh tertidur di kaki Bunda Maria. Keesokan harinya guru Petrus dipanggil oleh Ibu Kepala sekolah untuk menghadap di ruangannya.

”Pak, tolong buka akun SIM PKB, ada formasi guru Bimbingan Konseling tahun ini,” Ibu Kepala sekolah mengarahkan.

”Tapi, jaringan internet tidak memungkinkan, Bu,” guru Petrus berbicara apa adanya.

Mereka berpandangan. Sebenarnya, guru Petrus tak berani menatap wajah ibu Kepala Sekolah, tetapi terpaksa melakukannya. Tanpa diucapkan, kepedihan itu justru lebih terekspresi. Di mata guru Petrus, sosok ibu kepala sekolah adalah sosok pemipin yang tidak beradab. Ibu kepala sekolah yang sering menjadikan guru sebagai sasaran amarahnya saat dana Bos telah mengering di kantongnya.

Yang diakrabinya hanyalah bendahara Bos dan keluarga rapatnya. Terutama juga, saat sertifikasi mengendap di rekening bendahara kabupaten, ia tak tanggung-tanggung mendatangi dinas pendidikan dan langsung menyergah bendahara, ”Itu bukan nenek moyang kalian punya uang. Tolong pahami.”

Nasib guru honorer tak dihiraukan, berulang-kali. Dan, jika ada itikad baik, itu semata-mata hanyalah modus agar ia bisa meminjam uang. Mari, Pak. Ayo, Ibu. Butuh konsultasi? Dan, kebiasaan lainnya, ia akan mengakrabi dirinya dengan guru-guru honor, bercerita, bersenda gurau, tentang keburukan orang lain-tentang hal-hal aneh yang menyata. Toh, ujung-ujungnya kalimat semisal, ”bolehkah kupinjam uangmu?” Kalimat murahan itu memburai dari bibirnya yang tebal.

Berbagai umpatan berdesak-desakkan keluar dari mulut guru honor. Guru Petrus melangkahkan kaki menuju sebuah pohon yang terletak di ketinggian. Karenanya, mudah untuk mendapatkan sinyal dari pulau seberang.

”Astaga, ada panggilan mengikuti ujian seleksi guru dengan perjanjian kerja. Minimal mengajar tiga tahun,” guru Petrus menghela nafas panjang. Ia sudah dua puluh tahun mengabdi dengan status guru honorer, dan sebanyak lima kali mengikuti seleksi calon pegawai negeri sipil, tapi sayang nasib tak berpihak.

”Soalnya sulit-sulit, begitu juga waktunya sangat mepet,” batinnya.

”Ini yang terakhir,” tekadnya.

Jadwal ujian juga tertera sehingga sehari sebelumnya guru Petrus telah terlebih dahulu berjalan kaki menuju lokasi ujian-jauh di kota. Mengenakan sandal jepit dan celana tisu berwarna biru ketuaan, guru Petrus melewati jalan potong menuruni lembah dan mendaki tanjakan.

Nasib guru honorer tak dihiraukan, berulang-kali. Dan, jika ada itikad baik, itu semata-mata hanyalah modus agar ia bisa meminjam uang.

Guru Petrus membayangkan, suatu saat kelak anak-anak muridnya tak ingin memilih profesi menjadi guru. Entah karena gaji kecil, entah karena tidak ingin jalan kaki sperti dirinya saat ini, mau jadi apa mereka ya?

Meliuk-liuk bola matanya ke kiri dan ke kanan, kemudian terhenti pada sebuah pohon nan rindang. Ia benamkan tengkuknya sambil meneguk air dalam botol.

”Semoga masa depan mereka lebih baik dariku,” guru Petrus menggeleng kecil.

Tibalah ia di kota, meminta tumpangan pada keluarga agar bisa mengikuti ujian.

”Guru Petrus ya?” Thomson-seorang siswa angkatan pertama yang dididiknya kini telah menjadi asisten bupati.

”Bapa guru masih ingat aku kan?”

”Ingatkah kelotong,” guru Petrus cengar cengir.

Di ruang ujian, Thomson membantu me-relogin komputer dan memfasilitasi ujian bagi guru Petrus. Usai itu, guru Petrus kembali ke kampung-tempat ia mengajar.

Cepat-cepat ia menanggalkan pakaian dan langsung ke gereja. Hari itu persiapan menjelang perayaan tahun baru. Dentang lonceng gereja di bunyikan, gema nyanyian terus dikumandangkan. Sebentar lagi pergantian tahun lama ke tahun baru. Guru Petrus menyediakan kado dan sebuah amplop tebal, bertuliskan ”Kado seorang guru Honor untuk Tuhan Allah”.

Dengan tangan agak gemetar ia merapikan bungkusan itu. Lalu, ia terkulai sebentar di sebuah kursi kayu di samping meja persembahan. Perlu untuk menenangkan jantungnya dulu. Andaikata, beres perayaan tahun baru, ia menerima amplop balasan. ”Terima kasih untuk kadonya. Indah sekali.” Andaikan itu!

Keterangan:

Bale-bale: Tempat tidur kecil yang terbuat dari bambu (dalam dialek Lamaholot Flores Timur–NTT)

Keleka: Tempat menyimpan sayur, buah dan lainnya.Terbuat dari anyaman daun lontar

Tembako Koli: Rokok yang terbuat dari lontar

Kelotong: Periuk memasak nasi. Biasanya panggilan itu biar lebih akrab.

Ama lera wulan: Tuhan Allah

Ikan sembe: Ikan yang banyak diperoleh di perairan wilayah Banjung Bunga Flores

Beatrix Polen Aran, Guru di SMP Negeri 3 Tanjung Bunga, Kabupaten Flores Timur, NTT. Menulis cerpen dan puisi di media cetak lokal dan nasional. Bergiat di Nara Teater Kabupaten Flores Timur.

sumber : kompas.id, 31 Jan 2024.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme