Cerpen : Seratus Juta dari Tuan Jin oleh Nuzul Ilmiawan

Suatu malam ketika Jena selesai mengepak dan berjalan pulang dari pabrik, secara tak terduga Tuan Jin muncul menghampirinya di sekitar area pekuburan yang sempat terendam banjir pekan lalu. Tentu Jena terkejut, seumur-umur ia tak pernah bertatapan langsung dengan makhluk gaib. Dia hampir saja terkena serangan jantung dan mati di tempat. Lebih-lebih badannya sedang tak enak … Baca Selengkapnya

Cerpen : Kucing Tidak Memakan Rumput oleh Aveus Har

”Kakek mau mendengar cerita?” Aku sedang memandang kosong ke luar jendela ketika cucuku tiba-tiba bertanya. Aku teringat pertanyaan serupa berpuluh tahun lalu dari Ayesha. Aku masih bisa mendengar suara gadis itu. Aku menyukai suaranya. Suara rendah, hampir seperti gumam. Kenangan seperti debu-debu halus pada kaca jendela yang selalu saja menempel meskipun telah dibersihkan. ”Kau mau … Baca Selengkapnya

Cerpen : Pesan dari Seorang yang Bernama Presiden oleh Muhammad Ramadhan Batubara

Pesan pertama dari seorang yang bernama Presiden sampai ke telingaku saat tidur. Ketika itu seperti mimpi, suara-suara terdengar sayup, tapi terasa benar. Katanya, tanamlah cabai rawit karena dari sana semuanya bermula. Lewat pedas, manis dan asin lebih terasa. Pun peluh, dia mengalir mengalahkan keringat olahraga. Aku percaya. Buktinya, begitu bangun tidur aku langsung ke dapur … Baca Selengkapnya

Cerpen : Kembang Kuburan oleh A Muttaqin

Tentu hanya Tuhan yang tahu, mengapa Asmupa demikian mencintai Markakim. Sejak bau kencur, Asmupa telah menunjukkan kecantikan yang sungguh menakjubkan. Matanya tajam. Alisnya tajam. Kulitnya bersih. Tubuhnya berisi. Wajahnya memancarkan aura gaib dan mencemaskan. Tak heran bila saat remaja, Asmupa adalah fantasi bagi setiap lelaki di kampungnya. Di hadapan Asmupa, para bocah langsung menjelma menjadi … Baca Selengkapnya

Cerpen : New York, Hampir Petang oleh T Agus Khaidir

Saat Nenek bilang ia hendak memasak Anyang Pakis untuk hidangan berbuka, Bapak dan Ibu tertawa. “Mak, ini New York. Mak lupa?” kata Bapak di sela tawanya yang belum betul-betul reda. Nenek menyunggingkan senyum. Tipis dan dingin. Di sisi lain meja, Naura dan Anamira sebentar menatap heran, lalu meneruskan santap sahur mereka yang tidak terlalu lahap. … Baca Selengkapnya

Cerpen : Nyekar oleh Ahimsa Marga

emua sudah kupersiapkan rapi. Niatku bulat. Tahun ini aku mau nyekar lebih awal, sebelum ritual nyadran berlangsung, supaya waktunya lebih longgar. Setidaknya empat-lima kali dalam setahun aku menengok Ibuku yang tertidur abadi di makamnya yang sunyi. Namun nyekar sebelum Ramadhan, juga dikenal sebagai ziarah kubur, sangat penting bagiku karena selalu mengingatkan tentang batas usia raga, … Baca Selengkapnya

Cerpen : Pertempuran Don Quixote oleh Ranang Aji SP

Fragmen 1: Seorang Ksatria di Era Algoritma Hari itu adalah hari Selasa di Madrid, namun Don Quixote bersumpah bahwa hari itu adalah hari pertempuran. Berbalut aluminium foil yang dipungut dari tempat sampah sembari memegang gagang pel sebagai tombak, ia melangkah melewati Puerta del Sol, matanya berkobar-kobar penuh keyakinan. Di atasnya, sebuah papan reklame berseru dalam kata-kata: ”REALITY … Baca Selengkapnya

Cerpen : Kawan Saya oleh Sasti Gotama

Nyonya Ji menggedor-gedor pintu saya. Terdengar bingar dan begitu mendesak. Meski saya yakin ia melakukan itu sambil tersenyum, karena ia memang selalu tersenyum, saya paham ketukannya itu mewartakan amarahnya. Kemarin ia menyuruh putranya, lalu putrinya, lalu suaminya. Kali ini Nyonya Ji tak sendiri. Ia bersama Bapak RT yang berkumis tipis, seorang satpam ceking, dan sepasukan … Baca Selengkapnya

Cerpen : Kereta Cinta di Nanjing Road oleh FX Rudy Gunawan

Suhu udara kota Shanghai di ujung bulan November, saat menjelang musim dingin, biasanya berkisar antara 8 sampai 10 derajat celsius dengan langit bernuansa kelabu yang membuatmu merasa murung atau nglangut tanpa sebab. Pada hari-hari di pengujung November itu, cuaca hampir selalu berkabut sepanjang hari seolah langit menurunkan sebuah tirai kelabu untuk menahan cahaya matahari dan memantulkannya entah … Baca Selengkapnya

Cerpen : Bogart oleh Aliurridha

Untuk kesekian kali, Bogart memencet klakson. Tidak, itu bukan lagi memencet, ia memukul tombol klakson. Aku terkejut dengan apa yang dilakukannya. Pengendara motor itu tidak kalah terkejutnya. Teriakan bel membuat motornya goyang. Hampir saja ia jatuh. Lalu seolah memukul tombol klakson tidak cukup, Bogart memaki-maki pengendara yang sedari tadi menutup jalur berkendaranya. Begitu si pengendara … Baca Selengkapnya