Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Pesan dari Seorang yang Bernama Presiden oleh Muhammad Ramadhan Batubara

Posted on Ming, 16 Mar 2025

Pesan pertama dari seorang yang bernama Presiden sampai ke telingaku saat tidur. Ketika itu seperti mimpi, suara-suara terdengar sayup, tapi terasa benar. Katanya, tanamlah cabai rawit karena dari sana semuanya bermula. Lewat pedas, manis dan asin lebih terasa. Pun peluh, dia mengalir mengalahkan keringat olahraga.

Aku percaya. Buktinya, begitu bangun tidur aku langsung ke dapur mengambil sebuah dua buah cabai rawit, memotongnya untuk mengeluarkan biji dan kemudian menjemurnya di terik matahari. Lalu besoknya, saat biji-biji kering, aku mengorek lahan sekadarnya di samping rumah untuk menanam.

Pesan kedua dari seorang yang bernama Presiden sampai ke telingaku saat pagi. Kali ini tidak seperti mimpi, lebih mengarah ke nyata. Suara-suara terdengar jelas. Katanya, buatlah sambal cabai rawit dari pohon yang telah berbuah itu. Jangan pakai bawang putih, pakai yang warna merah. Pun tidak perlu tomat, cukup garam saja. Setelah terulek—tidak harus halus—siram dengan minyak panas, bagusnya sisa goreng ikan asin.

Aku ikuti. Dan, benar. Peluh mengalir mengalahkan olahraga. Nasi lebih manis pun sensasi asin sambal menyambar lidah. Benar juga si Presiden, pikirku.

Buatlah sambal cabai rawit dari pohon yang telah berbuah itu. Jangan pakai bawang putih, pakai yang warna merah. Pun tidak perlu tomat, cukup garam saja. Setelah terulek—tidak harus halus—siram dengan minyak panas, bagusnya sisa goreng ikan asin.

Pikiranku juga sama dengan orang-orang sekampung. Para tetangga memang kerap mendapat pesan yang sama dari Presiden. Dan biasanya, ragam pesan itu masuk melalui dua pintu, pertama melalui alam bawah sadar seperti mimpi dan kedua secara sadar, persis yang kurasakan. Tapi yang jelas, si Presiden ini bukan hantu, dia nyata. Dia hidup. Dia manusia. Dia punya rumah, tinggalnya di atas bukit agak jauh dari permukiman warga. Sesekali dia muncul di pasar, duduk di warung kopi sambil berbincang atau sekadar jalan-jalan sore berteman beberapa anjingnya yang bertubuh besar. Anjing-anjing yang menarik, meski bertampang garang dan air liur yang terus menetes, binatang setia itu terlihat lucu karena memakai seragam yang nyaris sama yakni rantai tali bertuliskan: tidak galak. Kami para warga kampung melihatnya seperti paradoks, berarti majas yang contohnya hidup seperti mati; kata guru pelajaran sekolah. Ya, bagaimana mungkin binatang bertaring itu tidak menyerang? Tapi itu tadi, persis binatang peliharaannya si Presiden memang juga paradoks: hadir bak hilang, ada pun tiada, wujud juga maya.

Secara umum, kami tidak ada yang kenal baik dengan Presiden, sekadar tegur sapa saja, jarang pula terlibat perbincangan panjang. Presiden ini anak Jenderal sekaligus cucunya Kapiten. Jenderal adalah tokoh kampung zaman awal kemerdekaan, sementara Kapiten merupakan sosok pejuang era kolonial.

Nama asli Kapiten sebenarnya tidak diketahui karena dia memang lahir tanpa akta. Namun, sejak dia memimpin beberapa orang melawan Belanda, dia kemudian dipanggil Kapiten. Nama belakangan ini terus melekat hingga di batu nisannya pun tidak tertulis nama asli. Saat punya anak, Kapiten memberikan nama Jenderal. Tentu, dia ingin anaknya lebih hebat dari dia. Begitu pun si Jenderal, memberikan nama Presiden untuk anaknya dengan alasan itu.

Nyata si Presiden memang berada di tempat tinggi, di bukit sana. Pesan-pesannya selalu hadir, bukan dari mulutnya, tapi dari ingatan kami. Misalnya, aku teringat cara buat sambal cabai rawit saat pagi karena pernah dengar dia berucap di warung kopi. Atau, aku pernah melihatnya meminta biji cabai rawit pada pedagang di pasar yang katanya untuk ditanam setelah sebelumnya dijemur terlebih dahulu di bawah terik matahari hingga terbawa mimpi olehku. Dan, masih banyak contoh lain, yang dirasakan warga kampung lainnya. Dan, karena itulah kami merasa asing sekaligus akrab dengan sosok itu. Paradoks, seperti anjingnya.

Kami semua harus pindah ke atas bukit tempat dia tinggal. Kampung akan tenggelam, beberapa waktu ke depan hadir air bah mahadahsyat.

Namun, baru-baru ini Presiden bikin pesan berbeda. Tidak sekadar dia sampaikan langsung, mengumpulkan warga di tanah lapang, isinya juga aneh. Katanya, kami semua harus pindah ke atas bukit tempat dia tinggal. Kampung akan tenggelam, beberapa waktu ke depan hadir air bah mahadahsyat. Dan, yang paling aneh, kami semua diperbolehkan bangun rumah di tanahnya itu, tidak perlu bayar tapi wajib tanam bahan pangan untuknya. Ternak pun diperbolehkan, bahkan dia siap menyediakan bibit sapi atau kambing. Namun setiap hewan ternak itu melahirkan dua anak, maka satu ekor adalah haknya. Jadi, kalau melahirkan empat, dua ekor miliknya. Melahirkan enam, tiga ekor untuknya. Begitu seterusnya, sesuai kelipatan yang ada. Dan, yang memelihara adalah kami.

Tentu saja pesan langsung si Presiden tidak kami hiraukan. Bagaimana mau hirau, dia bukan kepala kampung. Pun, kampung kami jauh dari sungai dan laut, jadi sulit dibayangkan akan hadir air bah.

Masalahnya, tak berapa lama pesan itu terbang bersama angin, anjing-anjingnya si Presiden mulai turun bukit. Awalnya bergerombol, menyuarakan gonggong yang nyaring. Lalu mulai berpencar, menyasar rumah warga, menyalak keras tanpa peduli siang atau malam. Setelah itu, anjing-anjing itu semakin banyak, tidak hanya yang berseragam kalung saja. Bahkan, ada anjing yang mulai mengejar anak-anak kami. Ada pula warga yang jadi korban, betisnya digigit hingga positif rabies.

Presiden kembali turun bukit, memberikan pertolongan untuk biaya pengobatan bagi warga yang tergigit anjingnya di rumah sakit di kota. Seketika tidak ada yang menyalahkannya. Presiden adalah pahlawan, mau bertanggung jawab meski itu adalah ulah anjing-anjingnya. Bukan soal nilai uang yang dikucurkan, tapi ini soal karakter Presiden yang penuh rasa peduli. Bantuan telah membuang keluhan warga sebelumnya soal anjing pengganggu, peneror, dan penyakit. Warga seperti lupa, terlenakan.

Presiden mengambil panggung itu. Presiden pun kembali menyuarakan pesan, katanya, kami memang harus pindah ke tempatnya. Ini bukan soal anjing, tapi air bah akan hadir.

Kami yang sebelumnya tak hirau mulai goyah. Beberapa warga malah sudah berpikir untuk pindah ke bukit. Mereka melihat tawaran Presiden adalah sebuah jalan keluar dari masalah yang mereka sendiri tidak tahu itu apa. Sedang yang lain, yang masih punya kesadaran diri, ada yang mau pindah kampung, setidaknya hingga anjing-anjing itu tidak mengganggu lagi.

Aku? Aku hanya bertanya dalam hati, bukankah pesan awalnya adalah air bah? Kenapa harus pindah, sementara hujan saja jarang hadir. Aku menjadi sibuk mereka-reka apa yang sebenarnya terjadi; ke mana arahnya. Untung dan rugi, hitungan itu, memenuhi kepala. Seharusnya sesuatu yang gampang, tapi kenapa menjadi sulit.

Lalu, anjing-anjing itu kenapa semakin banyak? Seperti ada pembiaran pun perintah dari Presiden atau anjing tanpa seragam kalung itu hanya ikut-ikutan? Sepertinya aku tak tahu dan memang tidak tahu. Yang jelas, setelah itu memang jumlah anjing bertambah banyak tanpa sekali pun air bah datang. Warga kampung satu dua orang mulai tumbang karena rabies. Anak-anak mulai tak nyaman ke sekolah atau sekadar bermain di luar rumah.

Di bukit mulai terbangun beberapa rumah, Presiden yang membangun dengan uangnya sendiri dan warga yang mau pindah ke sana wajib bayar tanpa menghilangkan pasal harus tanam bahan pangan. Pun, soal ternak tetap berlaku.

Di atasnya hanya ada Tuhan.

Dan beberapa hari yang lalu, pesan dari seorang yang bernama Presiden kembali sampai ke telingaku saat tidur. Seperti mimpi, suara-suara terdengar sayup, tapi terasa benar. Katanya, di atasnya hanya ada Tuhan.

Pagi hari ini, pesan dari seorang yang bernama Presiden juga datang lagi. Kali ini tidak seperti mimpi, lebih mengarah ke nyata. Suara-suara terdengar jelas. Bilangnya, itu pun kalau Tuhan ada.

Ah, sepertinya, sebelumnya aku tak pernah dengar itu semua; terserah itu di warung kopi, pasar, maupun tanah lapang.

Muhammad Ramadhan Batubara, pengarang berdarah Batak dan Bengkulu. Kelahiran Limapuluh, Batu Bara, besar di Langsa, Aceh, tumbuh di Yogyakarta, kini tinggal di Deliserdang dan ber-KTP Medan.

Putu Fajar Arcana lahir di Bali. Selama masa Covid-19 mendalami teknik melukis dutch pour dengan menggunakan alat-alat yang tak biasa. Ia kemudian mengembangkan teknik ini dengan konsep melukis yang melibatkan lima unsur alam, seperti: padat, cair, api, angin, dan gas. Pertama kali berpameran dalam pameran Lukisan Bukan Pelukis (1999) di Bali Mangsi Denpasar, Mencuri Waktu (2000) di Kompas Denpasar, pameran seni rupa Lindu (2006) di Bentara Budaya Yogyakarta, dan pameran Grateful Dead (2013) di Bentara Budaya Jakarta.

sumber : harian Kompas edisi 16 Maret 2025 di halaman 10 dengan judul “Pesan dari Seorang yang Bernama Presiden”.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme