Cerpen : Nyekar oleh Ahimsa Marga

emua sudah kupersiapkan rapi. Niatku bulat. Tahun ini aku mau nyekar lebih awal, sebelum ritual nyadran berlangsung, supaya waktunya lebih longgar. Setidaknya empat-lima kali dalam setahun aku menengok Ibuku yang tertidur abadi di makamnya yang sunyi. Namun nyekar sebelum Ramadhan, juga dikenal sebagai ziarah kubur, sangat penting bagiku karena selalu mengingatkan tentang batas usia raga, … Baca Selengkapnya

Cerpen : Nyekar oleh Ahimsa Marga

SEMUA sudah kupersiapkan rapi. Niatku bulat. Tahun ini aku mau nyekar lebih awal, sebelum ritual nyadran [1] berlangsung, supaya waktunya lebih longgar. Setidaknya empat-lima kali dalam setahun aku menengok Ibuku yang tertidur abadi di makamnya yang sunyi. Namun nyekar sebelum Ramadhan, juga dikenal sebagai ziarah kubur, sangat penting bagiku karena selalu mengingatkan tentang batas usia … Baca Selengkapnya

Cerpen : Telunjuk oleh Ahmisa Marga

Kuikuti langkahku yang menuju entah ke mana. Berhari-hari aku berjalan hanya mengikuti kehendak kaki. Aku sudah kehilangan semuanya sejak dua tahun lalu, eh, sejujurnya, jauh sebelum itu. Sejak peristiwa tujuh tahun lalu itu, dari luar, aku masih Satyaka yang humoris, rendah hati, penolong; Satyaka yang selalu bisa memberi solusi; Satyaka yang berwibawa. Klienku masih harus … Baca Selengkapnya

Cerpen : Mbah Diman Terbang Bersayap Malam*) oleh Ahimsa Marga

Aku tidak tahu kapan persisnya dia memasuki hidupku. Pada suatu hari bertahun-tahun lalu, setelah nyekar menjelang nyadran, aku mendapatinya duduk di ambin di sudut ruang tamu rumah ibuku. “Budhe, ini Mbah Diman,” ujar Pardi, anak tetangga yang dianggap mendiang ibuku sebagai cucunya. Aku menitipkan rumah ibu kepada Pardi dan keluarganya, untuk dijaga dan dirawat. “Saya minta … Baca Selengkapnya

Cerpen : Gagak oleh Ahimsa Marga

Suara kaok panjang berulang sedikitnya lima kali dari burung gagak yang bersliweran, sekitar pukul 05.30. Tubuhku gemetar. Ada perasaan yang tak bisa kukendalikan yang menyebabkan jantungku berdetak kencang. Tanganku lemas, bahkan gelas pun terasa berat. Burung itu masih barkaok beberapa saat sebelum melesat mengitari hutan kota di depan rumah, lalu menjauh, tetapi suaranya menggema memenuhi … Baca Selengkapnya

Cerpen : Bapak oleh Ahimsa Marga

Usiaku baru 8 tahun ketika ibu melarangku mbeksa.*) Padahal baru saja aku bisa naik kendi kosong, mengatur keseimbangannya sambil mbeksa dan memutarnya ke arah delapan mata angin. Tapi kegembiraan bisa menguasai Beksan Bondan, langsung dipupus oleh ibu. ”Ndhuk, mulai sekarang kamu tidak usah ikut latihan nari lagi di sana.” Aku tidak tahu alasannya. Toh kursus beksa itu … Baca Selengkapnya