Cerpen : Kembang Kuburan oleh A Muttaqin

Tentu hanya Tuhan yang tahu, mengapa Asmupa demikian mencintai Markakim. Sejak bau kencur, Asmupa telah menunjukkan kecantikan yang sungguh menakjubkan. Matanya tajam. Alisnya tajam. Kulitnya bersih. Tubuhnya berisi. Wajahnya memancarkan aura gaib dan mencemaskan. Tak heran bila saat remaja, Asmupa adalah fantasi bagi setiap lelaki di kampungnya. Di hadapan Asmupa, para bocah langsung menjelma menjadi … Baca Selengkapnya

Cerpen : Lelucon Musim Hujan oleh A Muttaqin

Pada mulanya adalah lembu. Seekor lembu mogok. Lembu itu milik Uripan. Ia seorang petani militan. Hidup di sebuah dusun di kaki bukit kapur yang dikelilingi sawah dan hutan. Sore itu, ketika seekor perkutut terdengar manggung dan segerombol mendung menggantung, hati Uripan dilanda sedih, demikian sedih, sebab satu dari dua lembu kesayangan yang tengah ia pakai membajak sawah … Baca Selengkapnya

Cerpen : Maut di Ladang Jagung oleh A Muttaqin

Saat itu, hari telah senja dan Matuwar sendirian saja di ladangnya. Ia sungguh terpesona tatkala melihat langit mulai dipenuhi cahaya merah keemasan. Ia begitu gembira, melihat ladangnya juga dipenuhi tongkol keemasan, seolah ladangnya adalah bentangan langit lain dan tongkol jagungnya adalah bintang-bintang. Seharian Matuwar telah melepas kelobot jagung-jagung itu, membiarkan tongkolnya terbuka di bawah sinar … Baca Selengkapnya

Cerpen : Kisah Semprul Seputar Matahari oleh A. Muttaqin

SATU yang amat kubenci dari matahari adalah kegemarannya memberi teka-teki. Pagi tadi, ia tiba-tiba turun, menyaru sebagai lelaki tampan kemudian mencium bunga sepatu di depan rumahku. Terang saja bunga sepatu itu menjadi merah, merah kemalu-maluan, kemudian mengembang sebesar corong. Seperti uap, si lelaki jelmaan matahari lalu lenyap. Bunga sepatu yang merah kemalu-maluan oleh ciumannya itu pun … Baca Selengkapnya

Cerpen : Intelijen Oren oleh A. Muttaqin

SELAMA karirku menjadi tukang pos, ini alamat paling sulit yang pernah kucari. Sepuluh tahun aku menjadi tukang pos dan aku tak pernah gagal menjalankan tugas. Semua alamat dengan mudah kudapat. Baik yang jauh maupun yang dekat. Karena itulah kadang muncul sedikit sombongku. Ketika kawan kerjaku, Winyoto, membawa kembali paket milik Siti Tilis di Kampung Kontil, Jln. … Baca Selengkapnya

Cerpen : Telur oleh A. Muttaqin

BEGINI awal yang kutahu: aku lahir—mungkin yang tepat bukan lahir, tapi merucut—sebagai telur, dan bukan berwujud bayi ayam. Ayam yang melahirkan aku adalah babon blorok, bekisar ayam bangkok dan ayam kate sekaligus. Artinya, ibuku adalah hasil kawin silang ayam bongsor dan ayam ceper. Tentu bisa kaubayangkan bagaimana bentuk babon yang melahirkan aku. Dan betul. Babonku adalah ayam yang tidak … Baca Selengkapnya

Cerpen : Batu oleh A. Muttaqin

BEGINI, Saudara, kuceritakan semuanya secara berurut saja. Betul, ini tentang lelaki yang kini menggegerkan kampung kita itu. Maaf kalau cerita ini membuat tidak enak Saudara yang kebetulan kerabat, kawan kental, atau kolega lelaki itu. Ketimbang banyak gosip menyembul seperti bisul, izinkan aku membeberkan kisah yang betul. Mula-mula, kalau tak salah sejak tujuh hari lalu, lelaki … Baca Selengkapnya

Cerpen : Selembar Daun oleh A Muttaqin

DAUN ini, entah daun apa—bentuknya bergerigi dan gerigi itu masih seperti beranak-pinak lagi, seperti kombinasi daun sakun, pepaya dan daun ganja—yang entah jatuh dari ranting mana, memintaku jadi pohon. Suatu sore, di jalan pulang, tepat di sisi kelokan yang menghubungkkan langgar, pasar krempyeng, pos ronda dan klinik bersalin, daun itu tiba-tiba bangkit dari tanah dan menghadang … Baca Selengkapnya