Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Batu oleh A. Muttaqin

Posted on Ming, 15 Des 2013

BEGINI, Saudara, kuceritakan semuanya secara berurut saja. Betul, ini tentang lelaki yang kini menggegerkan kampung kita itu. Maaf kalau cerita ini membuat tidak enak Saudara yang kebetulan kerabat, kawan kental, atau kolega lelaki itu. Ketimbang banyak gosip menyembul seperti bisul, izinkan aku membeberkan kisah yang betul.

Mula-mula, kalau tak salah sejak tujuh hari lalu, lelaki itu tak bisa tidur. Setiap telentang di ranjang, plafon rumahnya terbuka. Dan di langit, ia melihat sesosok perempuan telanjang tersenyum. Saudara bisa bayangkan bagaimana perasaan lelaki itu, bukan? Apalagi perempuan itu memancing dengan senyuman. Nah…

Berkali-kali begitu. Dan, di hari ketujuh, menjelang dinihari, lelaki itu tak kuat lagi. Ia pun memutuskan pergi ke pantai. Di pantai belakang kompleks perumahan kita itulah ia tiba-tiba tertumbuk sebongkah batu—batu hitam kehijau-hjauan. Sang batu, setidaknya menurut dugaan lelaki itu, bukan batu sembarangan. Dan, sesungguhnya, dari batu itulah cerita ini bermula. Saudara tahu, lelaki itu yakin betul kalau sang batu baru saja jatuh dari langit.

“Kau akan kuberi wujud,” ia berkata, “biar bumi tahu, kau termasuk batu yang sujud.”

Alamak, puitis betul. Tapi memang demikian, Saudara. Mohon Saudara mengerti, lelaki ini, seperti yang kita ketahui bersama, selain gandrung pada patung dan kopi, juga pecandu puisi. Ia bahkan mengaku pernah didatangi Haujal, jin yang sejak zaman Arab-Jahiliah dipercaya sebagai pembimbing para penyair untuk menciptakan puisi cemerlang, begitu cemerlang hingga seperti buah kata yang dipetik dari langit. Maka, jangan heran bila ia sering mencibir penyair yang gemar membikin puisi ruwet, seolah penyair demikian memang anak buah Huwair, jin yang menyesatkan para penyair pada keruwetan bahasa hingga puisi mereka seperti belantara gelap dan sekali-kali tak bisa dimengerti, kecuali oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Nah, begitulah, Saudara. Tentang pandangannya terhadap puisi, kiranya tak perlu saya beberkan lebih rinci lagi. Puisi barangkali sekadar renik kecil yang turut andil atas raibnya lelaki itu. Dan marilah kita kembali pada batu. Yaitu, batu yang dengan susah-payah digotong ke rumahnya. Lelaki itu seperti Sisyphus gendeng dan sempat membikin si ibu yang pulang subuhan pagi itu kaget lantaran melihat ia berjalan sempoyongan dan ngos-ngosan.

Seperti yang Saudara ketahui bersama, para tetangga memang sering heran akan tabiat si lelaki yang kerap jadlab itu. Tapi kali ini, ketika fajar jauh dan burung-burung belum keluar sarang, ibu yang kakinya pincang sebelah itu sungguh dibuat kaget. Kaget betul, Saudara.

Bagaimana tidak kaget? Jam-jam begini, mestinya maling yang pulang menggotong TV atau peti colongan. Tapi yang ia dapati malah si lelaki semprul sedang menggotong batu. Mata si ibu pun mengekor lelaki itu sampai menekuk di ujung gang. Kaki kirinya yang pincang nyaris terperosok ke got. Dan ketika si ibu tahu, lelaki itu memasuki rumah no. IX—tujuh rumah dari jajaran kiri rumahnya yang no. II—barulah si ibu pincang ini maklum dan tak perlu menduga-duga untuk apa kiranya sebongkah batu buat lelaki yang oleh warga dicap senewen.

Sampai di rumah, si lelaki sangat hati-hati menaruh batu itu di atas ranjang. Semula ia berniat menaruh batu itu di kamar mandi agar sang batu bisa segera dicuci. Ketahuilah, Saudara, lelaki itu amat menghormati batu itu. Ketika mendapati kamar mandinya berantakan, ia berpikir keras agar sang batu beroleh tempat paling nyaman. Dan tempat paling nyaman di rumah lelaki itu tak lain adalah kamarnya, yang ia namai Abqorie. Kata lelaki itu, Abqorie adalah aran pemberian Haujal. Dan kalau tak salah ingat, seorang kiai pernah bilang bahwa abqorie adalah sejenis hunian jin.

Di kamarnya yang lembap, ia amati batu itu dengan teliti. Ia menerka-nerka umur batu itu yang mungkin setua nenek dari neneknya, atau bahkan tujuh juta kali lebih tua ketimbang nenek dari neneknya. Entahlah. Yang jelas, melihat wujud sang batu, mereka yang pernah mempelajari jenis batuan akan sepakat jika umur sang batu pastilah amat tua. Mereka yang entah sejak kapan gemar pada perkara takhayul itu percaya sang batu pastilah memiliki semacam tuah. Tak terkecuali lelaki itu.

“Wahai batu,” lelaki itu berkata, “kita memang berjodoh. Puji Tuhan Yang Maha Cermat, kau diturunkan pada tangan yang tepat.”

Lelaki itu lalu membuka peti kayu. Seperti semua perabot rumahnya yang tampak kuno, peti itu juga tampak kuno. Lelaki itu mengeluarkan semua isi peti: ada palu, palet, pisau, tata, dan betel. Seperti peti itu, seperangkat alat pahat itu juga tampak kuno. Beberapa berwujud keemasan dan beberapa lagi cokelat tua kehitaman.

Lelaki itu lalu mengambil bak besar. Bak itu ia isi air. Dan air itu ia taburi kembang tujuh rupa. Air dan kembang itu ia aduk ke kanan tujuh kali. Ke kanan. Dan bukan ke kiri, Saudara.

Saudara tahu, kembang memang selalu ada di rumah lelaki itu. Saudara sekalian yang gemar keluar-masuk pasar pastilah pernah memergoki lelaki itu berburu kembang. Jangan heran. Ini kebiasaan turunan belaka. Kedekatan dengan kembang itu rupa-rupanya diwarisi dari neneknya dari garis ayah yang selalu menaruh boreh, mawar, dan kenanga di tiap likat rumah. Konon, si nenek gemar makan melati untuk menjaga keharuman badan.

Lelaki itu mulai menyalakan dupa. Dan wangi dupa pun menyebar. Pelan-pelan, lelaki itu memandikan—maksudku mencuci—batu itu. Mungkin “memandikan” lebih tepat. Kukatakan “memandikan” sebab gerak-gerik lelaki itu memang sangat telaten dan hati-hati, seperti memandikan bayi, bukan mencuci sebongkah batu.

Mula-mula, ia turunkan batu itu dari ranjang. Lalu, dengan khusyuk lelaki itu menuang sampo. Ia ratakan busa sampo ke sekujur batu. Setelah sampo ia bilas dengan kembang, kini giliran sabun. Pelan-pelan ia ratakan sabun ke sekujur batu. Pelan-pelan. Ia hampir memekik ketika menemukan dua tonjolan aneh pada batu itu. Dan ketika ia menyabun bagian bawah, entah bagaimana mulanya, telunjuk lelaki itu tiba-tiba menemukan semacam celah. Lelaki itu semakin yakin, sang batu pastilah jelmaan perempuan yang tiap malam tersenyum di langit itu.

Kini, lelaki itu mengerti kenapa sang batu terasa hangat saat ditemukan. Dan ia tak heran akan perihal yang demikian. Dari pelajaran fisika ia ingat, di langit sana sang batu pastilah menebar cahaya seperti batu-batu langit pada umumnya. Dan, menurut tafsiran lelaki itu, jika nantinya ia memberi rupa sang batu dengan wujud perempuan, sebetulnya tangan si lelaki sekadar pahat dan palu yang digerakkan oleh tangan Tuhan. Soal keterlibatan Tuhan pada perkara yang demikian, salah satu dari Saudara pasti ada yang pernah mendengar dari lelaki itu, bukan? Apalagi batu itu telah memberi petanda dua tonjolan lucu dan celah cilik khas kepunyaan para perempuan.

Lelaki itu pun mengakhiri ritual memandikan sang batu. Bilasan terakhir ia siramkan. Lalu, dengan handuk ungu, ia keringkan sekujur batu. Ia meniup-niup bagian celah batu yang digenangi air. Setelah meneliti dengan seksama dan mendapati batu itu kering betul, lelaki itu membuka jendela dan mulutnya mulai komat-kamit sambil menebar bunga di sekujur batu.

“Wahai Batu, akan kuabadikan senyummu yang bercahaya,” begitu kata lelaki itu sambil mulai menggurat batu itu dengan pahat. Ia mengambil palu dan bekerja dengan khusyuk. Ia bahkan tak berani berlaku sembrono, misalnya merokok atau memutar musik yang tidak perlu. Kali ini, ia ingin berfokus. Fokus dan serius dengan suasana kudus.

SEKIAN menit berlalu. Dan mulai tampak bagian atas batu yang dibuat melingkar di satu sisi dan melingkar-memanjang di sisi lain. Tentu sudah gampang ditebak bahwa lingkaran macam itu pastilah calon wujud kepala. Lelaki itu membuat beberapa goresan halus pada lingkaran muka sang batu, seperti cetakan mata, hidung, dan bibir.

Ia tampak begitu teliti dan hati-hati. Ia menukar pahat besar dengan pahat yang lebih kecil. Sesekali pahat itu dipalu-palukannya dengan lembut. Begitu seterusnya, dengan kekhusyukan yang sama, dan jadilah berturut-turut mata, hidung, dan bibir. Ketiga organ itu tampak begitu tajam dan serasi. “Kubentuk hidung, alis, dan bibirmu khas Mesir, agar kau tampak seperti bidadari gurun pasir,” begitu kata lelaki itu ketika bagian kepala hampir rampung.

Kini batu itu memiliki wajah. Lelaki itu pun kembali menotolkan pahat ke batu, memukul dengan palu, dan sesekali mengusap debu sisa pahatan itu. Berkali-kali begitu. Maka, di bawah kepala batu itu, mulai tampak setapak leher. Leher jenjang. Ia usap-usap debu di leher itu dan ia termangu. Mungkin ia ingat, di leher macam itu banyak mata lelaki menjelma jadi bara api.

Setelah merampungkan bagian wajah dan leher, lelaki itu pindah ke bawah, ke bagian dada. Lelaki itu melemaskan jemarinya. Mengatur napasnya. Ia tahu, akan memasuki bagian gampang belaka: mencipta dua tonjolan. Namun ia tetap waspada. Ia mengusap lagi dua tonjolan bawaan sang batu. Seperti takdir yang menggumpal bagai sepasang susu. Pelan-pelan, lelaki itu meraba tonjolan itu, seolah sedang mencari denyut batu.

Lelaki itu lalu memejamkan mata. Ia mengatur napas dan memusatkan pikiran. Kembali ia menukar pahat dan palu. Menggores-gores pahat ke atas dan ke bawah. Kemudian memukul pahat dengan palu. Berkali-kali begitu. Dan jadilah susu yang menjulang utuh.

Lelaki itu memegang susu ciptaannya. Ia merasai teksturnya dan mencucup susu itu berkali-kali seperti ingin kembali menjadi bayi. Ia memasuki fantasi yang lucu dan sepi, kemudian memekik kecil setelah mendapati ujung bibirnya berdarah. Ia meratakan darahnya dari pucuk susu dan tersenyum ketika melihat darahnya menyatu ke sekujur susu patung itu.

Serampung bagian dada, dengan sedikit senyum, lelaki itu mengira tak ada lagi perkara sulit. Tapi tidak. Setelah dada, memang ia cukup lancar merampungkan bagian tangan, perut, dan punggung. Tapi tidak demikian ketika membikin bulatan bokong. Pekerjaannya tampak tersendat. Lelaki itu menimbang kemungkinan membikin bokong yang indah. Namun tetap mendapati bahwa bokong itu hanya bagian tubuh yang sukar ditampilkan keindahannya.

Lelaki itu pun memutuskan untuk menutup bokong patung itu. Keputusan ini diambilnya demi keindahan dan kesantunan, sebab dengan bokong telanjang pasti membeber pula bagian paling rawan organ perempuan. Bagian itu agak riskan. Dan lagi, seperti Saudara tahu, bagian ini—kalau ia tak berhati-hati—tentu bahaya bagi bocah belum akil balig dan sekelompok kaum picik. Lelaki itu akhirnya membikin selendang kepang yang menggantung di ujung bokong patung itu.

Namun, ketika bagian selempang penutup bokong rampung dan lelaki itu harus berganti ke bagian depan, yakni bagian yang lazim diukir sebagai organ intim, sebagian syaraf lelaki itu menegang. Berlebih-lebihan ia mengayunkan dan memukulkan palu. Bagian batu sekitar itu rompal beberapa kepal. Untung ia tergolong pematung cekatan. Rompalan batu itu ia samarkan seperti lipatan kain cekung ke dalam. Maka, jadilah sang patung, berwujud perempuan ¾ telanjang dengan bagian bokong dan organ rawan yang aman.

Kini lelaki itu tinggal menggarap bagian kaki. Sebagaimana umumnya kaki, ini pasti bagian sepele saja. Anehnya, ketika tengah menggarap betis, ia memasuki semacam suasana mistis. Mungkin ia terbawa cerita tua tentang sepasang betis manis yang mengilhami bandit macam Ken Arok nekat meracik siasat licik yang kini menjadi pedoman bagi para politisi tengik.

Tapi sekali lagi, ia bukan golongan pematung kacangan, Saudara. Ia cukup fasih—kendati sebenarnya cukup letih—merampungkan sepasang kaki sang patung. Hasilnya, kaki indah dengan betis memesona, persis kaki bidadari yang membeku belaka.

Nah, begitulah urutannya, Saudara. Sang patung pun rampung. Dan tampak demikian hidup. Berkali-kali lelaki itu menatap patung itu, lalu tersenyum seolah mengenang sesuatu. Ditatapnya sang patung lekat-lekat. Tiba-tiba, entah dapat bisikan dari mana, ia meniup bagian atas patung itu seolah hendak menyusupkan nyawa ke ubun batu.

Apa yang terjadi selanjutnya adalah adegan yang sungguh susah diterima akal sehat. Lelaki itu tetap bersikeras meniup ubun-ubun patung itu. Berkali-kali ia meniup begitu, tak putus-putusnya, sampai tubuh lelaki itu menjadi merah, merah marun, kemudian menjadi jingga, lalu menguning, memutih, dan pelan-pelan menjadi bening, bertambah bening, bertambah bening lagi, hingga yang tampak hanyalah jeans dan kaus oblong yang melorot ke lantai. Tapi, cerita ini tak berhenti di sini.

Setelah tubuh lelaki itu tembus pandang dan menghilang dari pandangan—seperti yang saudara ketahui bersama—justru sekeliling kampung menjadi gempar. Beberapa tetangga ngotot malam-malam mendengar lelaki itu bernyanyi meniru gaya Robin Gibb The Bee Gees: I started a joke, which started the whole world crying… I started to cry, which started the whole world laughing…* Mereka yakin nyanyian itu berasal dari sang patung ciptaan lelaki itu. Bahkan beberapa dari mereka bilang si lelaki telah menyatu, manunggal dengan batu.

Perihal yang demikian itu, terus terang aku ragu, Saudara. Sebagai bayangan lelaki itu, aku tak berani bersaksi soal yang begitu, sebab diriku pun pelan-pelan lenyap terisap lampu, bersama raibnya tubuh si lelaki. Kuceritakan ini pada Saudara sekalian, agar Saudara tak terbawa terlalu jauh oleh cerita warga yang kian kecanduan wabah sinetron misteri itu.

Tapi, seperti lampu yang mengisap wujudku, bukankah Saudara juga tak mampu mendengar suaraku?(*)

 

Surabaya, 2013

 

A. Muttaqin lahir di Gresik, Jawa Timur, dan tinggal di Surabaya.

sumber : Koran Tempo, 15 Desember 2013.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme