Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Telur oleh A. Muttaqin

Posted on Ming, 01 Jun 2014

BEGINI awal yang kutahu: aku lahir—mungkin yang tepat bukan lahir, tapi merucut—sebagai telur, dan bukan berwujud bayi ayam. Ayam yang melahirkan aku adalah babon blorok, bekisar ayam bangkok dan ayam kate sekaligus. Artinya, ibuku adalah hasil kawin silang ayam bongsor dan ayam ceper. Tentu bisa kaubayangkan bagaimana bentuk babon yang melahirkan aku. Dan betul. Babonku adalah ayam yang tidak tinggi. Juga tidak pendek. Bolehlah dibilang sedang.

Begitu riwayat singkat babonku. Tapi sebentar. Sebagai calon ayam zaman sekarang, aku tak bisa membayangkan bagaimana kakekku dari ras ayam bangkok melompat dan menaiki nenek dari ras kate. Umat manusia—tuan para ayam—yang hidup di zaman Kompeni tentu mudah membayangkan persetubuhan macam itu. Sebab, masa itu memang sudah biasa lelaki Kompeni berbadan tinggi besar itu dengan sembrono menyetubuhi wanita pribumi. Tapi siapa tahu ada juga wanita pribumi yang diam-diam merasa nikmat disetubuhi Kompeni? Untuk kasus kakek dan nenekku, aku betul-betul tak bisa membayangkan bagaimana derita ayam kate ketika dinaiki ayam bangkok. Atau, jangan-jangan, kakekku memang terobsesi Kompeni. Tapi tidak penting menceritakan Kompeni di sini. Yang penting adalah mengusut persilangan sembrono kedua jenis ayam itu, yang menjadikan aku hadir ke dunia sebagai sebutir telur.

Betul pendapat orang bijak bahwa sejarah berulang. Sebagai telur, aku cemburu kenapa justru manusia yang menemukan buah kebijaksanaan itu. Padahal, kaum ayam mestinya lebih berpotensi menemukan “filosofi berulang” dari siklus telur menetas jadi ayam, ayam bertelur lagi, dan seterusnya. Tapi, mau bagaimana lagi. Kami—maksudku, ayam dan manusia—memang sama-sama punya otak. Namun, karena manusia dianugerahi ubun-ubun dan ayam tidak, maka manusia lebih cepat menangkap gelombang dan gejala alam ketimbang kaum ayam.

Entah ada ayam menyadari ini atau tidak. Yang jelas, sejarah kini berulang. Aku dan babonku jadi bukti. Babonku, bekisar blorok yang posturnya hampir-hampir sama dengan ayam kampung itu, mungkin memeragakan gerak tertentu sehingga di suatu siang yang lengang ia diburu ayam kate kalap. Ayam kate itu, yakni salah satu dari sekian bapakku, dengan gagah berani mengejar babonku dan menaikinya ketika babonku diam ndokok, seperti tentara Jepang menyerah tanpa syarat. Dari sekian persetubuhan dengan berbagai pejantan itu, lahirlah aku. Dan, karena ayam kate itu hanya salah satu saja dari sekian bapakku (artinya, bapakku memang para pejantan yang boleh jadi dari ras macam-macam), maka jangan heran, jika aku lahir sebagai telur tanggung. Sedikit lebih besar dari telur ayam kate dan lebih kecil ketimbang telur ayam kampung. Untunglah sebutan “anak haram” tak ada dalam kamus ayam. Kalau ada, betapa serem membayangkan aku sebagai calon ayam haram.

Mungkin sudah tertulis di Lauhil Mahfuz, bahwa aku harus jadi sebutir telur. Tapi, seandainya masih boleh menawar sedikit, aku akan memilih jadi telur ulat atau telur semut yang tidak menunggu dierami untuk menetas. Dan, kalau saja Tuhan memberi beberapa pilihan, aku akan minta dilahirkan langsung berwujud anak ayam. Tidak perlu repot-repot melewati proses menjadi telur, yang harus dierami.

Tapi manalah bisa. Moyang ayam saja, yakni ayam pertama, sebelum gentayangan jadi ayam, juga menjalani nasib sebagai telur. Dalam satu hal ini, mohon maaf, manusia suka berlaku bodoh. Mereka suka berdebat, mana yang lebih dulu: ayam atau telur. Padahal sudah jelas, telur ada lebih dulu, baru kemudian dia menetas jadi ayam. Tentang ini, beruntung dulu ada manusia jenius. Ia sufi. Dan sebagaimana umumnya sufi yang hidup di bumi, yang satu ini juga “kolega”-nya Tuhan. Maksudku, ia begitu dekat dengan Tuhan. Dan Tuhan memberi dia sejumlah kemudahan. Dengan begitu, memberesi teka-teki ayam dan telur tentu perkara enteng buat dia. Bahkan untuk menuruti sufi yang sedikit gendeng ini, Tuhan pernah memperkenankan telur keluar dari pantat keledai. Alamak, kalau saja aku telur yang keluar dari pantat keledai itu, tentu aku sangat bahagia.

TAPI tak ada. Setidaknya, kau kini paham, bahwa memang lebih dulu ada telur ketimbang ayam. Kukatakan ini padamu agar kau tidak ikut-ikutan bodoh. Padahal, kalau kau percaya, bahkan ular pertama yang menggoda Adam pun, oleh Tuhan, diwujudkan menjadi telur terlebih dahulu. Lalu, dengan selafad kun yang segar, meneteslah telur itu menjadi ular. Ular itu, sebagaimana para ciptaan Tuhan yang lain, pada mulanya adalah ular yang taat. Tapi Tuhan tersenyum dan, seperti biasa, diam-diam membikin rencana rahasia. Dan, ular pertama itu, entah bagaimana mulanya, tiba-tiba ikut tersenyum lalu melengos dan durhaka. Kini, soal melengos dan durhaka, kau boleh berguru pada manusia. Mempelajari kecerdasan ular mungkin penting, tapi menelisik musabab ular jadi durhaka, tentu bukan hal yang penting diceritakan di sini. Yang penting adalah babon yang melahirkanku. Ayam blorok itu.

Sungguh, aku tak habis pikir, mengapa babonku menjadi ayam pikun dan lupa daratan. Andai ayam bisa hidup di laut, pasti babonku juga lupa lautan. “Lupa daratan” tentu perumpamaan mubazir. Tapi biar saja. Selagi umat manusia belum membuat istilah baru untuk menggambarkan kesembronoan babonku, biarlah kupakai istilah itu. Babonku terlalu sembrono. Betapa tidak. Ia mengeluarkan aku di sebuah kursi rotan, di depan rumah tetangga tuannya, yakni orang yang tak lain adalah musuh bebuyutan bagi tuan babonku. Aku bingung, babonku sebetulnya pikun atau gendeng sehingga tak bisa mencari petarangan jerami atau setidaknya tempat tersembunyi yang membuat aku tenteram. Bukan kursi macam ini yang, kendati empuk, tapi mengancam keselamatanku.

Apalagi, seperti yang kau tahu, seminggu lalu, kaca rumah pemilik babonku itu pecah berantakan dilempar batu bata oleh pemilik kursi rotan ini. Itu semua gara-gara si tetangga yang berjarak tiga rumah dari rumah tuan babonku tahu, istrinya kepergok tidur dengan tuan babonku. Dan si tuan babonku, biar matanya picek sebelah, memang dikenal para tetangga sebagai mata keranjang. Dan lagi, sebagai penyandang mata keranjang, istri tetangga yang cuma berjarak tiga rumah tak jadi soal. Maka setelah adu jotos dan perang mulut sekenanya, si pemilik kursi rotan ini mengambil batu bata dan menggasak kaca milik tuan babonku. Dan itu wajar. Khusus perihal satu ini, memang manusia masih suka berimam pada ayam. Tapi sekali lagi, menceritakan perihal imam manusia juga tidak penting.

Yang lebih penting ialah, kenapa babonku melahirkan aku di kursi ini. Apa babonku tak tahu, selepas jam 8 pagi, setelah sang suami pemilik rumah ini pergi bekerja, si istri yang kabarnya gemar memasukkan lelaki itu pasti mengunci rumah, clik. Dan setelah clik itu, maka sepilah rumah ini. Dan itulah soalnya. Gerombolan anak-anak sangat suka rumah yang sepi. Sebab dengan begitu, mereka bisa bermain sesuka hati. Dan ingatlah satu hal lagi: bagi telur, anak-anak adalah ancaman yang tidak kalah mengerikan dibanding musang dan ular. Anak-anak yang suka main masak-masakan itu tentu akan sekenanya membikin adonan dari tanah. Mereka juga bisa dengan enteng mencampur aku ke adonan itu untuk membikin yang mereka namai selai, puding, atau es krim.

ADUH, sungguh terlalu babonku. Ia sungguh teledor. Kalau aku memang gagal jadi ayam, setidaknya arwahku akan tenang jika aku diceplok atau dijadikan campuran roti. Itu tentu sebaik-baik nasib telur, bukan? Ia tidak usah menunggu jadi ayam agar mendapat kemuliaan dan bermanfaat bagi kehidupan. Lagi pula belum tentu menjadi ayam lebih afdol. Contohnya, ya babonku itu, yang suka kelayapan dan lupa pulang ke kandang. Apalagi kecerdasan manusia juga sangat melecehkan martabat ayam.

Entah apa yang dipikirkan manusia, sehingga mereka menjadikan sebagian ayam sekadar mesin petelur. Mereka bahkan seenak perutnya merekayasa ras ayam putih dengan pertumbuhan yang tak wajar. Kadang aku takut, itu nantinya membuat Tuhan tersinggung. Kenapa badan dan umur ayam dipermainkan macam itu? Sungguh pelecehan terhadap martabat ayam. Apalagi, kalau kau melihat rasnya, ayam rekayasa itu adalah golongan ayam putih tak berdosa. Sepanjang hidupnya yang pendek, mereka hanya diberi kesempatan makan konsentrat dan dedak kimia. Mereka hanya boleh keluar kandang dan menghirup udara segar ketika akan disembelih dan dibawa ke pasar. Sungguh kurang ajar. Ini yang membuat aku kerap merasa sia-sia seandainya nanti ditetaskan.

Dan tentu tidak lebih baik jika aku menjadi telur bonor, tidak menetas. Paling-paling, jika tidak menetas, aku akan berkawan sama tuyul, para pengutil ulung yang mungil dan lucu-lucu itu. Ini akan membuat aku senasib dengan telur yang digunakan bahan santet. Ya, manusia memang sukar ditebak. Mereka bisa membuat banyak keajaiban, seperti yang mereka namai rekayasa gen dan merumuskan ras ayam putih buatan. Andai saja ayam-ayam putih ini tidak berumur pendek dan bisa terbang serupa burung, bagi kami para ayam—dengan perangkat kebodohan bawaan—pasti kami akan keliru menganggap mereka malaikat. Mendekatkan telur pada jalan klenik dan perdukunan, semisal santet dan teluh, tentu kurang beradab. Ini yang kerap membuat roh para leluhur ayam murka. Dan manusia pasti tak tahu, kemarahan inilah yang menyebabkan ayam suka berkokok malam-malam. Ini dosa manusia terhadap kaum ayam. Tapi, membeberkan dosa manusia di sini tentu tidak penting.

Yang penting adalah babonku. Bagaimana kalau, misalnya, babonku mendapat semacam hidayah dan menetaskan aku? Dan sejarah balik berulang: aku jadi ayam pikun seperti babonku. Tak mengurus nasabahnya. Acuh tak acuh dengan asal-usul persilangannya. Hingga ayam kampung susah menerima babonku ke dalam kaumnya. Ini tentu bukan lantaran babonku pernah kencan dengan ayam-penyair yang kerap keluyuran sambil merapal sajak: aku ini binatang jalang / dari kumpulannya terbuang. Ini yang menjadikan babonku terus dikejar-kejar pejantan ayam mata keranjang dari segala jurusan. Ini juga yang membuat babonku pikun dan tak sempat mengerami telurnya.

Astaga. Dengarlah, babonku kini berteriak, “Petog… petoooggg…” (baca: alhamdulillah—petog dalam bahasa ayam adalah semacam ungkapan syukur yang dalam). Dan itu tanda sekaligus kabar gembira bahwa babonku telah bertelur, melahirkan saudaraku, entah di mana? Babonku tak tahu, “petog” beruntun begitu bisa cukup membuat tuannya mencurigai adanya tetangga yang diam-diam mencuri telurnya. Dan itu lumrah. Lantaran sebagai tuan, dia tak pernah memanen sebutir pun telur yang dilahirkan babonku. Padahal, babonkulah yang semprul dan pikun, melahirkan telur di tempat-tempat sekenanya.

Babonku memang edan dan keterlaluan. Tapi, semoga saudaraku—sebutir telur yang kini dilahirkan babonku itu—berada di tempat aman dan dilindungi Tuhan. Amin.(*)

 

Surabaya, 2014

 

A. Muttaqin tinggal di Surabaya. Buku puisinya yang terbaru: Tetralogi Kerucut (2014).

sumber : Koran Tempo, 1 Juni 2014.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme