Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Lelucon Musim Hujan oleh A Muttaqin

Posted on Ming, 14 Jul 2024

Pada mulanya adalah lembu. Seekor lembu mogok. Lembu itu milik Uripan. Ia seorang petani militan. Hidup di sebuah dusun di kaki bukit kapur yang dikelilingi sawah dan hutan. Sore itu, ketika seekor perkutut terdengar manggung dan segerombol mendung menggantung, hati Uripan dilanda sedih, demikian sedih, sebab satu dari dua lembu kesayangan yang tengah ia pakai membajak sawah tiba-tiba ambruk ke tanah.

Berkali-kali tali kendali yang melingkari hidung lembu itu ia tarik dengan lembut, tapi si lembu tetap menggelosor di tanah sehingga lembu yang sebelah kanan terpaksa menunduk untuk menjaga keseimbangan. Kedua napas lembu itu ngos-ngosan dan Uripan, si tuan lembu yang budiman itu, tahu betul jika sepasang lembunya sangat kelelahan. Tapi, apa boleh buat. Langit tengah mendung dan hujan akan segera turun. Sepetak sawah—satu-satunya warisan orangtuanya itu—harus segera dibajak dan ditaburi benih padi sebelum hujan berjatuhan.

Sekelebat kilat menyilet langit. Uripan bertambah panik. Sekali lagi ia tarik tali kendali lembu itu, tapi si lembu hanya melihat Uripan dengan tatapan aneh. Uripan lalu berlari meninggalkan sepasang lembu itu.

Ia menyambar timba-janur di bawah gubuk kecil tempat ia sesekali mengaso, menyantap bekal atau mengisap rokok kelobot. Ia berlari menuju sumur, mengambil air dan kembali dengan napas ngos-ngosan, seolah napas yang demikian adalah isyarat permohonan pada lembu itu agar segera bangkit.

Ia meletakkan timba-janur berisi air tepat di bawah mulut lembu itu. Tapi, lembu malang itu hanya menyelupkan mulutnya dengan gerakan lemah, tanpa menyesap air dari timba. Busa putih yang tadi menggumpal di mulut lembu itu mengambang di permukaan timba.

Uripan bertambah panik. Kepala lembu itu ia usap-usap dengan air. Sementara lembu yang sebelah kanan mengibaskan beberapa ekor lalat yang menyerbu borok di lehernya. Uripan ingat, ia lupa mengoleskan minyak cem-ceman-tembakau, ramuan khusus yang biasa ia gunakan untuk luka lecet di leher lembu akibat menarik bajak atau borok busuk akibat sengatan serangga.

Ia menyesal dan segera mengalihkan timba itu ke lembu sebelah kanan. Lembu itu langsung menyedot air itu hingga habis dan Uripan mengelus kepala lembu itu seperti isyarat bahwa ia telah khilaf.

Uripan mengendurkan tali kendali. Ia kemudian melepas pasangan, palang penarik bajak yang ia pasang sejajar di leher kedua lembu itu. Ia bawa lembu itu ke sudut sawah di mana segerumbul rumput gajah sengaja ditanam Uripan dekat gubuk. Ia ikat lembu itu di tiang gubuk dan setelah mengelus kepala lembu itu, ia kembali ke tengah sawah, ke satu lembunya yang tengah mogok.

Kembali pelan-pelan ia tarik tali kendali yang melingkari hidung lembu itu. Tapi, si lembu hanya bergidik mengibaskan lalat-lalat yang merubung matanya. Uripan mulai menepuk-nepuk pantat lembu itu, tapi hasilnya tetap nihil. Si lembu malah menyandarkan kepala ke tanah.

Krakal, alat bajak kayu yang dirancang khusus untuk membajak sawah, itu pun rebah. Uripan melepas pasangan yang terpasang di leher lembu itu dan memutar krakal itu sembilan puluh derajat. Sepasang kuntul hinggap lalu mencucuk percil yang riang berloncatan dari celah dan lubang-lubang tanah. Mendung semakin hitam. Dan Uripan tetap tak menemukan cara membangunkan lembunya.

Kendati demikian, Uripan tetap menahan diri. Ia sekali-kali tak sampai hati mengambil pecut dan memukul lembu itu. Baginya, ia terlalu berutang banyak pada sang lembu.

Lembu itu sudah hidup bersama Uripan selama enam musim tanam. Itu artinya, lembu itu sudah bersama Uripan selama enam tahun, sebab di dusun di kaki bukit kapur itu saluran irigasi belum tergarap dengan betul dan para penduduk sudah terbiasa menanam padi dengan mengandalkan tadah hujan. Kebiasaan menanam dengan tadah hujan inilah yang membuat Uripan harus cepat-cepat merampungkan membajak sawah. Agar ia segera menabur benih dan benih-benih itu segera cukul selepas hujan turun.

Keadaan demikianlah yang membuat Uripan merasa terlambat. Para tetangga sudah pada membajak dan menabur benih di sawah mereka. Ini lumrah. Sebagai petani tadah, sudah sepatutnya hujan pertama tak mereka sia-siakan. Sebab, tahun lalu, mereka telah gagal panen akibat hujan yang tidak cukup.

Pengalaman ini juga yang membuat Uripan cemas. Dengan lembut ia berkata kepada lembunya, ”Maaf, aku lupa mencampur garam pada dedak minummu. Kau pasti minum sedikit. Hingga tenagamu ambyar. Tapi, demi Tuhan, kau harus bangkit.”

Uripan tahu, lembunya tak mengerti persis omongannya. Namun, setidaknya si lembu telah melihat mulut komat-kamit dan mata Uripan yang kelu. Dan ia percaya, komunikasi dengan lembu tidak hanya terjalin lewat kata. Ia mengelus lembu itu. Menarik tali kendalinya pelan-pelan. Tapi, lembu itu tetap mogok.

Gerimis menebal menjadi hujan. Sepasang burung kuntul yang tadi berburu percil kini terbang. Uripan mengangkat wajahnya menghadap langit. Butiran hujan menerpa wajahnya. Ia memejamkan mata dan mulutnya kembali komat-kamit.

Hujan bertambah lebat. Apa yang terjadi selanjutnya sungguh di luar dugaan. Sekelebat petir tiba-tiba menyambar lembu Uripan yang tengah mogok. Lembu itu gosong seketika. Uripan terpental ke pojok sawah, ke segerumbul rumput gajah, tepat di pinggir gubuk tempat ia mengikat satu lembunya.

Lembu itu spontan lari sambil melenguh panjang seperti kerasukan setan. Sementara wajah Uripan tersungkur. Mulutnya berlepotan lumpur. Kakinya gemetar. Namun, sepasang matanya masih sempat melihat langit yang kian gelap. Dalam hatinya ia mengutuk Kiai Sela, mengapa tak menumpas semua petir yang jail dan mengutuk menjadi jenglot.

Sementara itu, di langit beberapa malaikat bergerombol mengintip ke bawah. Satu dari mereka melihat Uripan dengan rasa iba. Satu lagi menyikut malaikat di sebelahnya. Gerombolan malaikat itu menunggu satu malaikat yang baru saja turun ke bumi. Malaikat itu tengah naik dengan sayap basah.

”Saya terlambat,” malaikat penjaga kilat itu berkata. ”Iblis lebih cepat. Ia menyaru sebagai kilat dan menghantam lembu itu.”

”Apa begitu yang ada di buku nasib Uripan?” tanya malaikat penjaga angin.

”Tampaknya tak persis begitu,” jawab malaikat penjaga kilat sambil mengibas-ngibaskan sayapnya yang basah.

”Bagaimana bisa?” tanya malaikat penjaga daun-daunan.

”Apa itu yang diminta Uripan dalam doanya?” tanya malaikat penjaga mendung.

”Tidak. Ia meminta agar hujan ditunda dan lembunya dibangkitkan segera,” jawab malaikat penjaga kilat.

”Bukankah telah ada perintah yang demikian?” tanya malaikat pembawa terompet.

”Itulah,” kata malaikat penjaga hujan, ”saya tidak merasa melepas hujan.”

”Lalu, siapa yang telah menyamar sebagai hujan? Bukankah iblis adalah api? Ia bisa menyamar sebagai petir, tapi tak akan sanggup menyaru sebagai hujan?” malaikat penjaga angin tampak kelabakan.

Sementara para malaikat masih berdebat dan tak menemukan jawaban, keajaiban datang. Lembu Uripan yang telah hangus itu tiba-tiba bangkit dan melenguh keras sekali. Suaranya seperti terompet pemanggil roh.

Uripan yang meringkuk kesakitan menatap lembu itu. Ia mengira lembunya yang gosong itu telah jadi hantu. Sementara itu, dari dalam tanah, menyembul lembu-lembu gaib yang juga hitam legam. Lembu-lembu itu mendekat ke lembu Uripan. Mereka melenguh bergantian, kemudian berjalan di tengah guyuran hujan, seperti sekelompok lembu hantu yang mengerikan. Uripan mendadak pingsan.

Di langit para malaikat masih bergerombol. Mereka melihat lembu-lembu hitam itu terbang, melayang dan satu per satu menggantung menjadi bongkahan-bongkahan mendung. Langit bertambah hitam. Hujan bertambah lebat. Hujan bertambah lebat lagi. Lantaran lembu-lembu hitam yang menjelma menjadi bongkah-bongkah mendung itu turut kencing sepanjang malam.

Malam itu, malam yang gelap dan dingin itu, kepada seorang anak perempuannya yang sejak tadi merengek-rengek karena lapar, cerita ini dituturkan seorang ibu di loteng sebuah rumah. Listrik tengah dipadamkan. Kota seperti pingsan. Geluduk sesekali datang dan hujan terus turun. Sementara warga yang rumahnya tak punya loteng telah mengungsi ke kampung sebelah.

Catatan:

Jenglot: Dalam satu cerita yang masyhur di kalangan petani Jawa, Kyai Sela—Ki Angeng Ngabdurahman Sela—yang tengah membuka sebidang lahan tiba-tiba ”diganggu” petir yang menyambar-nyambar. Petir tersebut konon menjadi naga dan makhluk aneka rupa sebelum akhirnya ditaklukkan oleh Kyai Sela dengan dijepit cangkul. Sementara itu, dalam legenda lain, jenglot, si makhluk mungil pengisap darah itu, tak lain adalah petir yang dikutuk.

A Muttaqin, menulis puisi dan prosa. Dua bukunya, Hari-hari Menjadi Kelinci (novel) dan Mengerjakan Cinta (puisi), akan terbit dalam waktu dekat. Selain menulis, ia juga tekun merawat bonsai, perkutut, dan kura-kura.

Wayan Kun Adnyana, guru besar sejarah seni (seni rupa), yang aktif berpameran di berbagai pergelaran seni rupa berpengaruh. Terakhir pameran tunggal Wastu Waktu di Agung Rai Museum of Arts, Ubud. Sejak Maret 2023 diberi amanah sebagai Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar.

sumber : kompas.id, 14 Jul 2024.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme