Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Selembar Daun oleh A Muttaqin

Posted on Ming, 04 Agu 2013

DAUN ini, entah daun apa—bentuknya bergerigi dan gerigi itu masih seperti beranak-pinak lagi, seperti kombinasi daun sakun, pepaya dan daun ganja—yang entah jatuh dari ranting mana, memintaku jadi pohon. Suatu sore, di jalan pulang, tepat di sisi kelokan yang menghubungkkan langgar, pasar krempyeng, pos ronda dan klinik bersalin, daun itu tiba-tiba bangkit dari tanah dan menghadang langkahku.

“Aku mohon, jadilah kau pohon, agar aku bisa menggantungkan tubuhku. Aku daun yang terkutuk. Angin telah menerbangkan aku ke tujuh penjuru, tapi tanah dan air tetap menolak. Aku mohon, jadilah pohon….”

Daun terkutuk? Kenapa selembar daun terkutuk? Apa dosa yang telah diperbuat daun ini, sehingga air dan tanah tak menerima jasadnya?

Kembali kuamati daun itu. Geriginya lima. Warnanya merah. Merah tua agak kehitaman, seperti ada dendam diredamnya. Ia berdiri dengan dua gerigi bawah yang bentuknya mirip kaki. Sedang gerigi kanan dan kiri di bawah satu gerigi lain, seperti tangan yang kadang membuat gerakan-gerakan kecil ketika daun itu bicara. Sementara satu gerigi lagi di atas tangannya yang sebelah kanan tak henti-henti bergerak ke atas dan ke bawah.

Anehnya, setelah kuamati dengan teliti, daun ini ternyata tidak punya mata. Ia hanya punya mulut yang bergelambir dan hampir-hampir selebar mulut manusia. Dari selingkar mulut itu urat-urat menjalar ke sekujur badan daun, seolah mulut itulah pusat rahasia dan uratnya. Melihat posisi mulutnya, aku curiga mulut itu juga pusat tenaga yang menghembuskan angin sehingga si daun sanggup bergentayangan kemana-mana.

Tiga semut keranggang merambat ke badannya, namun daun itu bergeming dan terus memintaku jadi pohon.

“Aku mohon, jadilah pohon…”

Tubuhku mulai gemetar. Aku teringat cerita tentang kakekku yang menjelma jadi ulat setelah didatangi maut yang berwujud selembar daun. Semula, aku menganggap cerita itu isapan jempol belaka. Aku menduga, karena kakek seorang petani militan, ia mengenali beragam hal ihwal (termasuk sang maut) dengan perangkat tanaman. Bukan hanya itu. Kakek bahkan menyebut padi sebagai Dewi. Pohon jati ia panggil Kiai. Dan segerumbul bambu suwung di ujung ladang kami ia sebut Ki Blungki.

Begitulah. Dan pada sepertiga malam, ketika bulan bundar dan dingin melebar, selembar daun datang mengetuk pintu. Kakek yang tersohor punya semacam linuwih segera mengenali siapa gerangan daun itu. Dan ternyata, taksiran kakek tidak meleset. Daun itu bilang, bahwa jatah umur kakek telah habis, bahwa rohnya telah ditunggu Sang Pohon, di mana segerumbul roh telah menggantung menunggu dan menunggu sampai datang kiamat.

Untungnya kakek berhasil mengecoh daun itu. Kakek yang sudah tahu bahwa si daun sesungguhnya utusan maut yang menyamar, segera menjelma jadi seekor ulat. Dengan santun ia berkata pada daun itu: “Wahai daun, karena jiwaku lember dan anakku jelek, aku perlu menempuh laku sebagai ulat bulu. Beri aku waktu menebus dosaku, meringankan siksa yang kelak di hari pembalasan akan memberati punggungku…”

Konon, setelah menjadi ulat, bulu-bulu di tubuh kakek berkilat-kilat sehingga daun itu terjingkat lalu terjungkal ke gerumbul kembang di pojok halaman. Kemudian daun itu lenyap. Bersama lenyapnya daun itu, lenyap pula kakekku.

“Aku mohon, jadilah pohon, agar aku bisa menggantungkan tubuhku.”

Tubuhku gemetar. Daun itu tiba-tiba melebar dan kini berdiri sama tinggi dengan tubuhku. Kulihat mulut daun itu terus komat-kamit seolah ingin menguntal tubuhku. Aku ingin menjadi ulat seperti kakek. Kurapal doa dan mantra. Tapi entah mengapa mantra yang kubaca tidak manjur. Tubuhku kian gemetar. Dan di tengah geletar itu kusaksikan tanganku bercabang dan jemariku memanjang. Kakiku kemudian menelusup ke haribaan tanah dan jemarinya memanjang seperti akar yang menyusup celah-celah tanah. Sementara tubuhku mengeras dan kulitku terkelupas. Seperti yang diminta daun itu, aku pun pelan-pelan jadi pohon.

“Jadilah pohon.”

Itulah suara terakhir yang kudengar dari daun itu, sebelum kupingku saling dempet menempel dan menjelma menjadi selembar daun yang bentuknya mirip daun waru. Angin bertiup. Tubuhku gemetar. Daun yang memintaku jadi pohon juga gemetar. Dan di tengah gemuruh getar itu, kusaksikan daun yang memintaku jadi pohon itu kembali mengisut dan menempel di rerantingku. Rantingku pun kini punya dua daun. Kau tahu, daun itu—seperti halnya daun jelmaan kupingku—membuat aku bisa mendengar suara-suara lembut dari jauh hingga segala suara seperti terbuka untukku.

Kini tubuhku seperti pohon gundul di musim kemarau. Ada dua daun menggigil di rantingku. Sementara sepasang mataku menjadi kuncup. Anak-anak yang pulang mengaji sore itu takjub melihat kuncup yang terjelma dari mataku. Seorang dari mereka bahkan memetik satu di antara kuncup mataku dan menciumnya bergantian.

Dengan dua daun dan satu kuncup yang bertengger di ranting, aku melihat tubuhku seperti satu-satunya pohon nekad yang selamat dari penebangan. Dengan dua daun dan satu kuncup itu, aku seperti pohon yang bersikeras tumbuh di ruas jalan ini, di mana langgar, pasar krempyeng, pos ronda dan klinik bersalin dulu dijaga pohon-pohon asam yang berjajar seperti barisan Kompeni berbaju hijau.

Seekor kupu-kupu datang dan hinggap di salah satu batangku. Kepada sepasang daunku kupu-kupu itu mengaku sebagai kakekku. Si kupu-kupu bilang, setelah menjadi ulat dan menempuh puasa di sebujur kepompong, kesabaran memberinya sungut dan sayap sehingga jadilah ia kupu-kupu. Kupu-kupu itu kemudian mengibaskan sebelah sayapnya di satu kuncup yang tertinggal di rerantingku. Kuncup terakhir yang terjelma dari mataku itu pun jatuh. Bersamaan dengan itu, kusaksikan daun-daun di langit juga jatuh. Seperti hujan turun dari pohon raksasa yang tampak sudah sangat tua dan teduh, tapi tak selembar pun daun itu menempel di tubuhku.

Aku ingin tersedu. Tapi tak bisa. Sebab aku sudah tidak punya mata. Dengan susah payah kukumpulkan tenaga. Dan akhirnya aku terbangun. Entah bagaimana mulanya tadi aku bisa tertidur. Ternyata kompor belum kumatikan. Panciku gosong. Dan bayam yang kumasak telah hangus.(*)

 

Surabaya, 2013

 

 

A. Muttaqin dilahirkan di Gresik dan tinggal di Surabaya.

sumber : Koran Tempo, 4 Agustus 2013.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme