Pesan pertama dari seorang yang bernama Presiden sampai ke telingaku saat tidur. Ketika itu seperti mimpi, suara-suara terdengar sayup, tapi terasa benar. Katanya, tanamlah cabai rawit karena dari sana semuanya bermula. Lewat…
Tag: Putu Fajar Arcana
Cerpen : Seonggok Daging Beku oleh Putu Fajar Arcana
Gelgel meringkuk tak berdaya. Darah terus-menerus mengalir dari paha kiri dan betis kanannya. Seluruh wajahnya memar, bahkan nyaris bonyok. Segerombolan tentara tak berusaha menolong, malah mempermainkannya bagai seonggok sampah bau yang pantas…
Cerpen : Aku, Ikan yang Berenang oleh Putu Fajar Arcana
Aku merasa kau menggamit tanganku ketika ombak ketiga menggulung kita. Waktu itu samar-samar kulihat kilau perahu terbalik di arah matahari. Tetapi semuanya sudah jauh sekali dari jangkauan. Karena itu, sudahlah, aku memilih…
Cerpen : “Requiem” oleh Putu Fajar Arcana
Sebelum mati, aku masih ingat tubuhku melenting: kakiku berkelejotan mencari tumpuan, sedangkan kepalaku menjadi tumpuan di ujung lainnya. Lalu seluruh tubuhku meregang, seolah menolak kehendak malaikat maut yang membetot nyawaku. Waktu itu,…
Cerpen : Kereta Senja oleh Putu Fajar Arcana
Kereta itu bergerak di batas senja. Lanskap kota tampak gamang disepuh cahaya. Orang-orang panik, berlarian, seperti baru saja terjadi ledakan. Di tengah serpihan asap dan bau daging terbakar, sebuah ambulans dengan sirene…
Cerpen: Bunga Jepun oleh Putu Fajar Arcana
SINOPSIS: Setelah bom meledak di Legian, kehidupan Luh Manik berubah drastis. Ia yang dulu menikmati hari-hari penuh kebahagiaan dengan menari dan memetik bunga jepun kini harus menghadapi kenyataan pahit. Desa Poh, yang…
Cerpen : Bunga Jepun oleh Putu Fajar Arcana
Sebulan sesudah bom meledak di Legian, Luh Manik belum memutuskan apa-apa. Saban petang ia masih suka menyusuri jalan setapak, melintasi beberapa petak sawah dan kebun pisang, untuk kemudian tiba di bangunan berbentuk…