Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Aku, Ikan yang Berenang oleh Putu Fajar Arcana

Posted on Ming, 03 Sep 2006

Aku merasa kau menggamit tanganku ketika ombak ketiga menggulung kita. Waktu itu samar-samar kulihat kilau perahu terbalik di arah matahari. Tetapi semuanya sudah jauh sekali dari jangkauan. Karena itu, sudahlah, aku memilih jadi bagian dari laut. Kulepaskan gamitan tanganmu, dan aku meluncur ke dasar serupa terumbu. Kelak jika kau ke laut dan bertemu dengan ikan-ikan kecil yang berenang di antara terumbu karang, mungkin itulah aku, kekasih.

Sejak itu aku tak pernah bertemu denganmu. Kadang di antara gerak angin yang mengantarkan riak ke pantai, aku menyusup sekadar melacak jejak tapak kakimu. Tetapi ribuan empasan air dan angin telah lama menghapus jejak itu. Aku cuma ingat di dekat pohon camplung berdaun lebat sebelum gumuk pasir, kita pernah berteduh beberapa saat sebelum memutuskan untuk melaut.

Mudah-mudahan kau ingat pula akulah yang bersikeras mengajakmu melaut di musim angin itu. Padahal kau sudah berulang kali memperingatkan, musim ini tak baik berperahu, apalagi sekadar memuaskan keingintahuan tentang seberapa luas lautan. Kekasih, asal kau tahu, aku tak menyesal kalau kini serupa ikan yang berenang ribuan tahun di samudra. Yang kusesali, aku tak tahu bahwa menjadi bagian dari alam bawah air, sama artinya merentangkan jarak begitu jauh hanya untuk bertemu denganmu. Kesempatan yang diberi alam untuk hidup di sela terumbu ternyata memperlebar janji untuk bertemu. Bukankah aku yang berucap, “Kalau laut, angin, dan langit memberkati, kita mesti bertemu di bawah pohon camplung berdaun lebat ini.” Dan kau hanya mengangguk sembari memandang ke cakrawala.

Sungguh aku tak tahu, sudah ribuan tahun berenang serupa ikan, belum juga kutemukan daratan yang memendam jejak dan janji kita. Dari sela karang ini, aku bisa mencium harum tubuhmu yang menyusup di hamparan pasir pantai. Tetapi sebagai ikan harum itu ibarat mata kail yang bisa memerangkapku ke daratan yang asing. Bahkan mungkin aku akan binasa di dasar keterasingan itu. Karenanya, dari kedalaman aku cuma mampu mengirimkan isyarat lewat riak yang berbuih. Kalau kau mendengar angin mendesir dan riak berbuih putih, itulah surat-surat yang kutulis di malam-malam yang dingin dan gelap. Cahaya gemintang dari langit hanya menyentuh permukaan, di mana tak mungkin aku mengapung.

Kekasih, mungkin terlalu jauh untuk kugapai apalagi kepeluk tubuhmu. Aku hanya serupa ikan yang hidup di sela ganggang. Sementara kau, uh, sungguh tak bisa kulukiskan serupa apa dirimu sekarang. Sewaktu kita berpisah aku pun sebenarnya tak begitu mengingat lekuk-liku wajahmu. Yang kusimpan pada kenanganku sampai kini, kau tak pernah mengucapkan sepatah kata pun saat perpisahan itu.

Sebegitu berartikah secarik kata perpisahan di saat tragedi menggulung kita? Dulu kau selalu berujar begitu. Aku selalu membenarkan ucapanmu, “Sempatkah kau mengucapkan sekadar kata perpisahan pada detik tragedi terjadi?” Kau tetap tidak setuju, aku tahu, karena pada dasarnya engkau tidak setuju dengan perpisahan. Kita bagai satu zat, katamu, yang tak mungkin terpisahkan apalagi sekadar oleh tragedi. Karenanya untuk apa mengucapkan kata perpisahan sementara kita tahu takkan terpisahkan?

Oh, aku ingat sekarang itulah rupanya mengapa kau tak meninggalkan jejak setapak pun di garis pantai. Inikah yang disebut pertemuan kekal, dalam rentang jarak ruang dan waktu yang jauh?

“Bukahkah jarak itu yang memisahkan kita selama ini?” tanyaku. Matahari hampir bersandar di bidak para nelayan. Cahayanya menyepuh laut menyerupai lempeng tembaga raksasa.

Kau mengernyitkan dahi sebelum berkata, “Ruang dan waktu hanyalah gumuk pasir, ia akan terkikis oleh angin.”

Aku menduga waktu itu, kau hanya mencari cara untuk menyudahi perdebatan kita tentang pertemuan dan perpisahan. Mungkin aku terlalu romantik. Sekali pertemuan terjadi, maka ia akan kekal sampai berkalang tanah nanti. Perpisahan hanya ada apabila jiwamu menolak pertemuan.

Oho, di dasar laut ini kini, aku seekor makhluk yang merindukan pertemuan. Muskil berharap berubah wujud menjadi manusia kembali, apabila itu dikehendaki hanya untuk sekadar pertemuan. Dalam kenistaan wujud, setidaknya yang ada dalam pikiranku, hanya kau yang mampu kuingat, kekasih. Aku sudah lupa bahwa daratan pernah bergetar, dan manusia kelimpungan seperti kawanan ikan yang dituba, ketika dasar laut bergolak. Aku juga sudah lupa ketika begitu banyak manusia diseret gelombang lalu mengambang di atas lautan. Tragedi? Kekasih, hidup di dasar laut tak ada tragedi yang lebih dahsyat daripada tergoda mata kail atau diseret jaring para nelayan. Karena dalam sekejap hidupmu bisa berakhir. Bagi kami, kawanan ikan, waktu dan masa tua bukan halangan melanjutkan hidup.

Mengapa manusia tidak menjadi ikan seperti diriku? Pertanyaan yang absurd. Semacam gelombang yang coba menghanyutkan langit di kejauhan cakrawala. Konon, menjadi manusia jauh lebih mulia dibanding hidup di dasar laut sebagai ikan.

Setidaknya, kau tak pernah berhasil menangkap isyarat serta surat-surat yang kukirimkan lewat angin dan riak ombak. Mungkin karena surat-surat yang kukirimkan tak mudah terpahami dari dunia di mana engkau berdiri sekarang ini. Tetapi, sungguh aku tak memahami bahasa lain selain mengirimkan isyarat lewat gelagat ombak.

Hanya saja ketahuilah bahwa surat-suratku berisikan cerita panjang tentang pengembaraan hidup di bawah permukaan. Selain menemukan gugusan terumbu serta palung-palung yang dalam, kawan-kawan yang bersahabat, aku juga merasa bahwa kehidupan di sini jauh lebih damai. Kalau kau bertemu dengan ikan-ikan buas, tinggallah di sekitar siripnya, kau akan merasa aman. Lagi pula ikan-ikan itu hanya menjadi pemburu di saat kebutuhan untuk hidup menuntut. Sesudahnya mereka adalah makhluk jinak yang baik hati. Bayangkan, aku pernah hidup di sekitar mulutnya, toh ia tidak juga memangsaku. Jadi perihal dimangsa atau tidak dimangsa, di kedalaman sini sangat tergantung dari sejauh mana kebutuhan untuk tetap hidup itu menuntut.

Aku tidak mengerti duniamu. Dari ingatan yang samar-samar, aku cuma tahu sering kali keserakahan membuat manusia hancur, sering kali kegilaan terhadap kekuasaan membuat makhluk sesamamu lupa daratan. Mereka seakan hidup melayang. Dan ujung-ujungnya mengecilkan keberadaan yang lain. Celakanya, kalau itu kemudian meremehkan dunia di mana harusnya dia hidup dan berpijak.

Aku tak tahu apakah orang-orang macam ini mampu bertahan jika diberi pilihan hidup seperti diriku, makhluk rendahan yang tak mampu berpikir apalagi berkata-kata. Ceritaku dalam surat-surat itu sebagian mungkin berisikan kenangan-kenangan ketika aku hidup di daratan dulu. Itu semacam siasat agar aku tak sepenuhnya lupa. Mungkin sekadar latihan ingatan, jika kupikir tak ada sesuatu yang lebih penting untuk dikerjakan di sini.

Sesungguhnya kekasih, itulah caraku mengingatmu setiap waktu. Isyarat-isyarat yang kukirim semacam kail untuk merasakan harum daratan. Karena hanya dengan begitu seluruh masa lalu melumuri tubuhku. Ah, indahnya hidup di masa lalu, ketika jalan-jalan kampung belum diaspal, pohon-pohon belum ditebang, sungai-sungai belum tercemar, rumah-rumah belum kumuh, kendaraan-kendaraan belum mengotori udara, dan mal-mal belum menyedot uang kita.

Apakah kau masih menyimpan keindahan itu kekasih? Apakah kenyataan sudah jauh dari kenangan? Aku tahu kau pasti tak akan menjawab seluruh pertanyaanku. Karena kau berada jauh dari pikiranku. Tetapi nanti di saat laut surut aku akan ada di laguna-laguna. Mungkin kita bisa bertemu kekasih. Tak usah membawa bunga atau anggur dalam pertemuan kita nanti. Cukup datang dalam kedamaian hati dan perasaan bersahabat yang dalam. Mungkin itulah bekalku nanti mengembara di kedalaman, melintas palung dan celah karang. Salam kepada sanak kerabat yang masih mengingatku, meski dalam wujud yang jauh dari sempurna ini….

Yogyakarta, 2006

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme