Cerpen : Pria Legendaris Berkaki Cacat oleh Ranang Aji SP

Langit di atas kantor militer di Jakarta diselimuti awan mendung saat Kusni Kasdut berdiri antre bersama para pria lain dengan harapan baru yang lebih kuat. Tangannya mencengkeram surat rekomendasinya. Selama empat tahun ia telah berjuang untuk kemerdekaan. Selama itu ia merasa punya arti mengingat masa kecilnya yang suram. Ia tidak saja berjuang untuk negara barunya, … Baca Selengkapnya

Cerpen : Pertempuran Don Quixote oleh Ranang Aji SP

Fragmen 1: Seorang Ksatria di Era Algoritma Hari itu adalah hari Selasa di Madrid, namun Don Quixote bersumpah bahwa hari itu adalah hari pertempuran. Berbalut aluminium foil yang dipungut dari tempat sampah sembari memegang gagang pel sebagai tombak, ia melangkah melewati Puerta del Sol, matanya berkobar-kobar penuh keyakinan. Di atasnya, sebuah papan reklame berseru dalam … Baca Selengkapnya

Cerpen : Pertempuran Don Quixote oleh Ranang Aji SP

Fragmen 1: Seorang Ksatria di Era Algoritma Hari itu adalah hari Selasa di Madrid, namun Don Quixote bersumpah bahwa hari itu adalah hari pertempuran. Berbalut aluminium foil yang dipungut dari tempat sampah sembari memegang gagang pel sebagai tombak, ia melangkah melewati Puerta del Sol, matanya berkobar-kobar penuh keyakinan. Di atasnya, sebuah papan reklame berseru dalam kata-kata: ”REALITY … Baca Selengkapnya

Cerpen : Mencari Tuhan oleh Ranang Aji SP

DALAM fiksi ini, dunia tidak memiliki doa. Tidak ada doa yang dibisikkan, tidak ada persembahan, tidak ada doa yang dinaikkan ke langit oleh mulut-mulut gemetaran berharap. Bukan karena manusia telah berpaling dari yang ilahi; namun tuhan tidak pernah ada di sini. Sejak awal waktu, telah diyakini tidak ada tuhan, tidak ada tangan penuntun, tak ada … Baca Selengkapnya

Cerpen : Keluarga Kromo oleh Ranang Aji SP

Kromo tak pernah suka politik. Setelah membaca judul berita tentang kekacauan dalam sebuah aksi politik, dia segera meletakkan koran dan kacamatanya di atas meja, seolah ingin menjauh dari sebuah ancaman. LANTAS, dalam beberapa detik kemudian, dia termenung dengan dahi berkeringat, ketika tiba-tiba dia mengingat keluarganya di masa lalu. *** Ketika pasukan NICA datang dan mencoba … Baca Selengkapnya

Cerpen : Sepuluh Kejadian oleh Ranang Aji SP

1 Setelah gagal menjadi anggota dewan dalam pemilu bersama Partai Murba di tahun 1971, ayahku dijemput militer di tempatnya mengajar di sebuah sekolah menengah pertama. Murid-muridnya berjajar di depan kelas mengantarnya dengan rasa bingung. Para guru berdiri di antara pintu kantor dan kelas, dan salah seorang di antaranya menduga ayahku adalah kriminal. Saat itu ayahku … Baca Selengkapnya

Cerpen : Cong Li di Bulan Mei oleh Ranang Aji SP

Cong Li memutuskan berjalan keluar dari tokonya ketika dia mendengar kegaduhan di malam bulan Mei. Malam itu menguar aroma bakaran sampah, semacam aroma tahi kebo, dan udara yang muram. SEBELUMNYA, dia selalu bermimpi di mana dirinya seolah terbenam dalam bara merah neraka dan dikurung bau daging yang busuk serta usus terburai yang gosong. Untungnya, saat … Baca Selengkapnya

Cerpen : Kejadian di Tambang Pasir oleh Ranang Aji SP

Malam gelap dan berawan di langit Merapi. Sepanjang garis sungai tumpukan pasir seperti benteng hancur oleh serbuan brutal. Perut bukit hitam berlobang oleh mulut pengeruk pasir. Di atasnya pohon-pohon berdiri di antara kecemasan mati dan hidup. Suara serangga berdengung. Air sungai mengalir tipis menyusuri jalurnya yang ditimpa tanah, pasir, dan batu. Di sisi sungai, di … Baca Selengkapnya

Cerpen : Bulu-Bulu Emas oleh Ranang Aji SP

PADA malam ketujuh, setelah Basiyo berpuasa mutih menuruti ajaran seorang dukun yang tinggal di kaki bukit, tubuhnya semakin terasa ringan, hingga dia membutuhkan pegangan ketika hendak berdiri. Dengan langkah gontai, kakinya yang gemetar menyeberangi sungai yang memisahkan gubuk tempatnya menyepi sejauh ini. Malam itu, seperti syarat terakhir yang sudah dia terima untuk bisa menjadi kaya, … Baca Selengkapnya

Cerpen : Mantra Kaya oleh Ranang Aji SP

AWALNYA dia punya harapan tinggi. Lalu runtuh. Petunjuk orang tua itu rasanya terlalu mengada-ada. Dalam empat puluh hari, orang tua itu menjelaskan, dia harus membaca mantra sepuluh ribu kali setiap malam. Selama itu pula dia harus menjalani puasa mutih. Tidak makan kecuali yang berwarna putih. Itu juga hanya boleh makan sekepal nasi dan seteguk air … Baca Selengkapnya