Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Kriminalitas Meja Makan oleh Damhuri Muhammad

Posted on Ming, 15 Jun 2025

Persentuhan mula-mulanya dengan perkakas tajam berawal dari omelan-omelan ayahnya di meja makan saat ia masih berusia 9 tahun. Salman ingat betul raut muka jengkel ayahnya, hanya karena bawang goreng yang terhidang bersama lauk lain di meja makan tidak berbunyi kriuk-kriuk di mulutnya. ”Rasanya seperti mengunyah jamur mentah saja,” gumam ayahnya sebelum tergesa-gesa melepehkan kunyahannya melalui sebuah celah sempit dari balik jendela samping. Irisan-irisan bawang terlalu tebal, dan lebih fatal lagi, ukuran masing-masing irisan tidak sama besar. Tingkat kematangan gorengnya tidak tembus sampai lapisan terdalam. Corak keemasan warnanya tidak sempurna. Sebagian malah lebih pantas disebut hitam—lantaran gosong—ketimbang kuning keemasan. Penyebab utama dari omelan itu remeh belaka; pisau dapur yang digunakan ibu untuk mengiris bawang sudah tumpul.

Malam itu juga Salman diminta ibunya untuk belajar mengasah pisau dapur. Amat hati-hati ibunya meletakkan logam pipih itu di atas batu asahan, dengan sedikit tekanan pada sisi mata pisaunya. Lalu, ia mulai menggesek dari bawah ke atas. Semula gerakan tangannya perlahan-lahan dan tampak sedemikian terukur. Namun, makin lama makin cepat, seakan-akan ibunya sudah tidak sabar untuk segera mendapatkan ketajaman maksimal. Suara gesekan mata pisau di atas permukaan batu asahan terasa agak mengganggu tutorial singkat tentang cara cepat mengasah pisau. ”Setelah menggesek selama 12 menit dengan teknik dasar seperti yang ibu contohkan ini, usapkan jempol tanganmu di beberapa bagian mata pisau,” kata ibunya. ”Bila kau sudah merasa seperti menyentuh butiran-butiran pasir, berarti pisaumu sudah sempurna tajam. Paham?” Salman mengangguk dan tidak memperpanjang sesi tutorial itu dengan pertanyaan apa pun.

Setelah menggesek selama 12 menit dengan teknik dasar seperti yang ibu contohkan ini, usapkan jempol tanganmu di beberapa bagian mata pisau.

Salman hanya membutuhkan beberapa kali sesi latihan sendiri sesuai panduan singkat itu sebelum kemudian ia dinobatkan sebagai pengasah pisau terbaik dalam keluarga kecil mereka. Selepas menyandang predikat itu Salman tak pernah lupa pesan ibu perihal tekanan tangan saat mengasah pisau. Jika gesekan terlalu cepat, tekanan tangan di atas tubuh pisau bisa tak terkendali. Mata pisau bisa meleset dan melukai jarimu. Peringatan soal keselamatan jari saat mengasah pisau dapur biasanya muncul setelah ibu kembali menghadapi omelan ayah di meja makan. Boleh jadi karena irisan wortel dalam piring sop yang tidak presisi, irisan tomat terlalu tebal dan tak sedap dipandang mata, atau karena kupasan mangga yang bergerigi seperti bekas gigitan tikus.

Naila, adik perempuan Salman, kadang-kadang sulit menerima keluhan-keluhan ayahnya saat mereka menyantap hidangan makan malam. Suatu kali ia bilang pada Salman, bahwa perangai yang terus-terusan mengomel di meja makan lantaran hidangan tak menggugah selera dapat meremukkan perasaan ibu. ”Rasanya bisa lebih perih dari perihnya mata ibu saat mengiris bawang,” ungkap Naila. Sudah menjadi pemandangan yang biasa bagi kakak-beradik itu menyaksikan ibu mereka mengiris bawang di dapur kecil mereka. Tampak begitu tenang, seolah-olah tidak terjadi apa-apa, padahal ia sedang bertahan mengadang rasa perih di matanya. Air mata ibu yang sampai menetes barangkali bukan lagi karena bawang yang sedang ia iris-iris, tapi karena sebab lain yang jauh lebih serius.

Kau tidak akan selamanya menjadi pengasah pisau dapur, Salman! Kelak, kau akan punya dapur sendiri.

Itulah sebabnya Naila berkali-kali mengingatkan, agar keluarga mereka segera membeli alat pengiris bawang atau onion slicer. Ketajamannya dapat bertahan dalam waktu lama. Tebal-tipis irisan dapat diatur sesuai keinginan. Pekerjaan dapur ibu, khususnya dalam perkara iris-mengiris bahan masakan, akan lebih ringan. ”Kau tidak akan selamanya menjadi pengasah pisau dapur, Salman! Kelak, kau akan punya dapur sendiri,” kata Naila, meyakinkan abangnya.

Meskipun omelan-omelan ayah di meja makan dapat mereda dalam beberapa tahun, karena pisau dapur selalu terjaga ketajamannya oleh Salman, si pengasah andal, tapi ketika putra sulung itu harus merantau jauh guna menggapai masa depannya, peristiwa-peristiwa kecil itu kembali berulang. Konon, pasalnya tidak lagi sekadar irisan bawang yang jika digoreng tak renyah hingga tak menimbulkan bunyi kriuk-kriuk di mulut ayah—lantaran pisau dapur sudah kembali tumpul—tapi sesungguhnya ada sebab-sebab lain yang kemudian dengan mudah dapat menyulut amarah.

Sebagaimana dikabarkan Naila pada Salman, ayah mereka bahkan tak segan-segan membawa hidangan bawang goreng dari rumah seorang perempuan. Dengan cara yang sangat angkuh, ia menyingkirkan hidangan bawang goreng bikinan ibu, lalu memuji-muji kegurihan bawang goreng bikinan perempuan itu. Ayah mereka juga begitu bersemangat membanding-bandingkan kesimetrisan irisan labu siam pada semangkok sayur, yang lagi-lagi dibawanya dari dapur si perempuan muda itu. Di hadapan Naila, ayah mereka bahkan memaklumatkan bahwa pada akhirnya ia akan angkat kaki dari rumah itu lantaran perkara bawang goreng yang tak kunjung terselesaikan.

Kalaupun pisau dapur sudah terasah tajam, ibu tidak akan menggunakannya untuk mengiris bawang, tapi untuk menyembelih perempuan itu. Paham?

”Bukankah kau pernah punya teori bahwa masalah mereka dapat diselesaikan dengan onion slicer? Kenapa tidak segera dijalankan?” tanya Salman, penasaran.

”Masalahnya bukan lagi pada bawang goreng, Salman!”

”Kalaupun pisau dapur sudah terasah tajam, ibu tidak akan menggunakannya untuk mengiris bawang, tapi untuk menyembelih perempuan itu. Paham?”

”Asal kau tahu, mereka sudah di ambang perceraian! Kau tak berminat pulang untuk menyelamatkan hubungan mereka?”

”Maaf, Naila. Aku hanya pandai mengasah pisau!”

Bertahun-tahun sejak makan malam terakhir Salman di rumah masa kecilnya, dari Naila pula ia beroleh kabar bahwa mereka tidak pernah punya onion slicer yang dulu berkali-kali disarankan adiknya itu. Bahkan hingga di rumah itu yang tersisa hanya Naila, suami, dan dua anak mereka, pisau dapur tradisional masih menjadi andalan dalam urusan iris-mengiris bahan masakan. Salman juga tidak bisa memastikan, apakah Naila telah mewarisi teknik dasar mengasah pisau dari mendiang ibu mereka. Ia hanya sempat pulang saat pemakaman ibunya, yang meninggal dunia sebelum habis masa hukumannya. Ia divonis enam tahun penjara atas dakwaan percobaan pembunuhan, dengan alat bukti sebilah pisau dapur. Sejak peristiwa berdarah yang terjadi di meja makan itu, ayah mereka pergi dan memilih tinggal bersama perempuan yang konon sangat mahir mengiris bawang.

Maaf, Naila. Aku hanya pandai mengasah pisau!

Meski sudah terpisah jauh, sesekali kakak-beradik itu masih saling bertukar kabar lewat percakapan-percakapan di aplikasi pesan singkat. Obrolan mereka kadang-kadang sampai menyinggung soal rumah tangga Naila yang tampaknya sedang berada di ambang bubar.

”Emosinya semakin tak terkendali, Salman!” keluh Naila, ”ia bahkan tak segan-segan membentakku di hadapan anak-anak.”

”Kali ini apa lagi pasalnya, Nail?” tanya Salman, heran.

”Remeh sekali! Hanya karena bawang goreng bikinanku tidak kriuk-kriuk di dalam mulutnya.”

Salman tidak tahu, apakah saat menyebut-nyebut bawang goreng yang tidak kriuk-kriuk di dalam mulut suaminya, Naila membayangkan peristiwa-peristiwa kecil puluhan tahun silam di meja makan masa kanak-kanak mereka. Lebih tepatnya omelan-omelan ayah pada ibu mereka, lantaran irisan-irisan bawang yang terlalu tebal dan rasanya seperti mengunyah jamur mentah belaka. Keluhan berulang-ulang yang kemudian membuat ia terbiasa berurusan dengan pisau dapur dan batu asahan.

”Naila, apakah kau tidak pernah belajar cara mengiris bawang pada mendiang ibu?”

”Kapan pisau dapurmu terakhir diasah?”

”Kau masih punya batu asahan di sana?”

Percakapan mereka terhenti sejenak. Naila tidak tahu mana pertanyaan yang mesti ia jawab terlebih dahulu. Sementara Salman tidak bisa duduk diam saja. Ia segera mengambil pisau dapur, yang senantiasa diasahnya tiap akhir pekan, seperti yang diajarkan oleh mendiang ibunya. Ia berencana akan mengirimkan pisau itu ke alamat rumah masa kecil mereka, sebagai hadiah ulang tahun pernikahan Naila, adik perempuan satu-satunya. Salman berharap, Naila dapat menggunakan pisau dapur dengan ketajaman tingkat tinggi itu betul-betul untuk mengiris bawang, bukan untuk menikam rusuk seseorang.

Depok, 2025

Damhuri Muhammad, sastrawan. Pendiri Porch Literary Magazine. Ia menulis fiksi, esai seni, serta kolom budaya di media-media nasional dan media-media internasional. Cerpennya, ”The Last Portrait Photo Folder”, terpilih untuk nominasi Pushcart Prize 2023 (lembaga penghargaan sastra untuk penerbitan minor label di Amerika Serikat). Karya mikrofiksinya berjudul ”Early Morning” telah diterbitkan dalam sebuah antologi bersama dengan tajuk SWITCH: Anthology of Microfiction (Juni 2024), oleh Gallery of Readers, sebuah penerbitan yang concern pada fiksi pendek, yang berbasis di Massachusetts, Amerika Serikat. Damhuri dapat disapa di akun Twitter (X) @damhurimuhammad.

Nano Warsono, seniman, akademisi, dan aktivis seni rupa. Telah mengikuti beberapa pameran dan proyek seni nasional ataupun internasional. Tinggal dan bekerja di Yogyakarta, menjadi dosen di Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta dan Direktur Galeri RJ Katamsi. Saat ini, karyanya sedang dipamerkan di Belanda dengan tajuk Past-Present: Art Schools in Indonesia.

sumber : harian Kompas edisi 15 Juni 2025 di halaman 10 dengan judul “Kriminalitas Meja Makan”.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme