Cerpen : Ziarah Kepayang oleh Martin Aleida

Jalan diapit sungai kecil, yang kami sebut bendar, tetap seperti ketika kulewati dulu. Jalan di mana orang-orang Tionghoa dari kota datang di musim berburu, dan pulang memanggul babi hutan yang masih berlumuran darah, hasil buruan yang ditinggalkan begitu saja oleh orang kampung yang mengharamkannya. Juga uangnya! Di jalan ini aku pernah terjerembab ditindih gerimis, mencium … Baca Selengkapnya

Cerpen : Lelakiku oleh Martin Aleida

AKU tak tahu apa niat Mbah membujuk kami menginap di rumahnya. Apakah dia merasa tidak layak, dan barangkali akan bikin geger seisi desa, bila lelakiku melewatkan malam di rumahku. Karena ibuku sudah menjanda. Atau dia hendak memerangkap kami berduaan belum waktunya, berbuat mesum. Kami merebahkan diri di amben yang terbuat dari belahan bambu. Kuhamparkan selendang … Baca Selengkapnya

Cerpen : Lelakiku oleh Martin Aleida

Aku tak tahu apa niat Mbah membujuk kami menginap di rumahnya. Apakah dia merasa tidak layak, dan barangkali akan bikin geger seisi desa, bila lelakiku melewatkan malam di rumahku. Karena ibuku sudah menjanda. Atau dia hendak memerangkap kami berduaan belum waktunya, berbuat mesum. Kami merebahkan diri di amben yang terbuat dari belahan bambu. Kuhamparkan selendang … Baca Selengkapnya

Cerpen : Perkenalkan, Uno oleh Martin Aleida

”Selamat datang. Mari menderita. Jika sudah berada di luar organisasi ini, apa pun dapat kita kerjakan.” Dia menyambutku sebelum warga kota besar yang sumuk ini selesai sarapan pagi. Sesungguhnya aku tak melamar. Suatu hari, sekretarisnya menelepon. ”Wakilnya doi, orang kita, tak tahan. Berhenti. Tak tahu dari siapa dia dapat informasi tentang Abang. Tolong, mampirlah,” bujuknya. … Baca Selengkapnya

Cerpen : Perkenalkan, Uno oleh Martin Aleida

“SELAMAT datang. Mari menderita. Jika sudah berada di luar organisasi ini, apa pun dapat kita kerjakan.” Dia menyambutku sebelum warga kota besar yang sumuk ini selesai sarapan pagi. Sesungguhnya aku tak melamar. Suatu hari, sekretarisnya menelepon. “Wakilnya doi, orang kita, tak tahan. Berhenti. Tak tahu dari siapa dia dapat informasi tentang Abang. Tolong, mampirlah,” bujuknya. … Baca Selengkapnya

Cerpen : Kebaya Merah di Tebing Kanal oleh Martin Aleida

Oleh MARTIN ALEIDA — Yang kucemaskan menemukan pembenaran di tepi kanal Flevo Ziekenhuis. Berulang kali. Tak terhitung. “Mas..,” bujuknya sendu. Suaranya gemetar terpantul dari jendela kaca. MENENANGKAN hati, sebagaimana biasa, aku merapat ke punggungnya. Mengikuti ke mana arah nanap matanya. Menggamit, membelai pundaknya, untuk mendamaikan gedebur gelombang perasaan yang tak kuasa dia arungi. “Lihat Mas,” … Baca Selengkapnya

Cerpen : Kebaya Merah di Tebing Kanal oleh Martin Aleida

Berulang kali. Tak terhitung. ”Mas..,” bujuknya. Suaranya gemetar terpantul dari jendela kaca. Aku merapat ke punggungnya. Mengikuti arah nanap matanya. Membelai pundaknya, mendamaikan gedebur gelombang perasaan yang tak kuasa dia arungi. ”Lihat Mas,” telunjuk mengarah ke kanal di bawah. ”Itu Ibu..,” katanya untuk kesekian ratus kali dalam sekian tahun, sejak kami mendamparkan diri di Belanda … Baca Selengkapnya

Cerpen : Anak Ayam pada Awalnya oleh Martin Aleida

Sudah tua begini. Kaki tinggal setungkai. Ku tak tahu bagaimana aku akan mati. Walau seorang anak kampung sejati, sudah tak mungkin aku memanjat, tergelincir. Tewas terjatuh dari pohon kelapa. Begitu bangun subuh tadi, aku menemukan ketiga anak ayam, yang ingin kubesarkan, terkapar. Leher patah terkulai. Darah mengering di tenggorokan. Aku percaya mereka bertiga pun tak … Baca Selengkapnya

Cerpen : “Aku Ngenteni Tekamu…” oleh Martin Aleida

Jodoh tidak buta. Tak pernah membuat majal kelembutan hati Ratih Sukowati. Malah memperkaya jiwanya. Rama-Sinta, Ande-Ande Lumut, dan rupa-rupa cerita pembujuk tidur, yang diwariskan ibunya, menemukan kekuatan pada sebuah legenda Batak, yang diceritakan Gumontam Hutajulu, suaminya. Acapkali, sepulang dari berbagai rapat dan aksi gerakan tani, suaminya itu, melepaskan lelah dengan menceritakan berbagai legenda kepada Ratih. … Baca Selengkapnya

Cerpen : Tak Ada Jalan Balik ke Buru oleh Martin Aleida

Rumah ini sudah jompo, sejompo-jomponya. Tinggal Surti yang tersisa. Perempuan yang lebih tua lima tahun dari aku. Satu-satunya penghuni yang harus kuopeni. Kemudian Dik, anjing blasteran gembala jerman berumur 13. Dia melanjutkan persahabatan yang diberikan dengan tulus oleh dua ekor anjing kampung sebelumnya, yang masing-masing mati sebelum genap berusia 12. Selain itu adalah puluhan, mungkin … Baca Selengkapnya